Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Bahaya Laten Migrasi Buruh China ke Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Juli 2016 07:04 7:04 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Juli 2016 07:30
Bagikan
[Ilustrasi] Indonesia diserbu tenaga kerja asing asal China.
Bagikan

Oleh: Abdus Salam

 

TIDAK bisa dipungkiri dinamika politik nasional dan internasional berpengaruh membawa implikasi politik di daerah. Termasuk terkait dengan konsekuensi pilihan kebijakan Free Trade Agreement dengan segala ragamnya. Mulai dari pemberian bebas visa pada 169 negara, pemberian kelonggaran sektor-sektor strategis kepada investor asing melalui PMA (Penanaman Modal Asing).

Salah satu isu terkait itu di antaranya tentang melubernya tenaga kerja China melalui pintu investasi infrastruktur yang diprediksikan ke depan sejumlah 10 juta orang. Bukan tanpa alasan isu limpahan tenaga kerja China itu pasca ditanda tanganinya perjanjian Indonesia dengan China. Di tengah secara internal China menghadapi krisis Taiwan, Xinjiang, Tibet selain persaingan pengaruh dengan AS di kawasan Asia Pasifik dimana Indonesia masuk di dalamnya.

Secara khusus Prof Dr Yusril Ihza Mahendra mendokumentasikan ancaman China ini dalam beberapa catatan. Bahkan sebelumnya juga terdapat analisis oleh Prof Dr Sri Bintang Pamungkas tentang kemungkinan terjadinya metamorfosa limpahan China Tartar (baca : tentara) menggunakan pintu migrasi tenaga kerja China ke Indonesia.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Sebagaimana skenario China atas Tibet dan Mynmar. Yusril menyampaikan beberapa point penting terkait hal ini antara lain :

1)      Pemerintah RI membebaskan visa kepada banyak negara dengan alasan untuk meningkatkan arus wisatawan

2)      Negara-negara yang tergolong miskin dan cenderung meninggalkan negaranya karena alasan politik dan ekonomi juga diberi bebas visa

3)      Negara-negara Afrika dan Asia Selatan, China, Myanmar dan lain-lain diberi bebas visa, tanpa perhitungkan dampak sosial dan politiknya bagi negara kita

4)      Kini imigran gelap yang datang menggunakan fasilitas bebas visa mulai memusingkan kita

5)      Kesalahan kita yang lain juga menyetujui masuknya pekerja China sebagai bagian dari syarat investasi dan pinjaman pemerintah kepada China

6)      Syarat seperti itu harusnya ditolak karena Indonesia akan dibanjiri pekerja China yang merampas kesempatan kerja rakyat kita sendiri

7)      Pekerja China yang konon akan datang sampai 10 juta itu jelas tidak mudah untuk dikontrol. Sebagian besar mereka pasti takkan kembali ke China.

8)      Kedatangan pekerja asing yang begitu besar dapat menimbulkan persoalan sosial, politik, ekonomi dan keamanan dalam negeri

9)      Pemetintah harus mengkaji ulang kebijakan membolehkan datangnya pekerja asal China ini demi kedaulatan bangsa dan Negara kita

10)  Kepentingan nasional dan kepentingan rakyat kita sendiri adalah di atas segala kepentingan yang lain.

Demikian Pakar Hukum Tata Negara Prof. Yusril Ihza Mahendra melalui akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Jumat (15/7/2016).

Serbu Gresik

Di Gresik Jawa Timur sebagai daerah yang menyediakan diri sebagai titik pembangunan pelabuhan laut internasionalpun tidak luput dari limpahan tenaga kerja China. Gresik adalah salah satu daerah di antara berbagai daerah di Indonesia yang menjadi sasaran operasi beberapa perusahaan Penanaman Modal Asing. Sebagaimana diberitakan Dinaskertrans Gresik mengkonfirmasikan keberadaan sekitar 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) termasuk dari China. Ironisnya fenomena melubernya tenaga kerja China tidak dibarengi dengan keberadaan regulasi daerah yang mengaturnya. Dengan kata lain limpahan TKA di Gresik yang masih mengikuti ketentuan dari Kemenakertrans RI pusat tidak membawa dampak positif apapun termasuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Gresik.

Fenomena desakan implementasi kebijakan pusat kepada daerah dari kasus masuknya tenaga kerja di daerah termasuk Gresik semakin melengkapi kebijakan pusat menganulir seluruh perda-perda yang disinyalir menghambat jalannya investasi dan peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Rezim perdagangan bebas dunia nampaknya memposisikan Indonesia melalui tangan-tangan penguasanya untuk mau tidak mau menjalankan skenario kebijakan global yang diterjemahkan oleh Jokowi dalam bentuk Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia.

Sebuah kebijakan ibarat pedang bermata dua. Sisi satu matanya dalam bentuk kebijakan regulasi yang memberikan kran terbuka masuknya investasi asing dengan segala dalih dan rasionalisasi baik secara terbuka maupun sembunyi. Sisi lain dalam bentuk kebijakan represif yang disinyalir menciptakan hambatan berjalannya investasi dan pertumbuhan ekonomi. Munculnya fenomena potensi disintegrasi Papua melalui tuntutan Papua Merdeka, pertemuan Ketua DPR RI Ade Komaruddin dengan Dubes AS Robert Blake untuk memantapkan agenda revisi UU Terorisme, ujung kebijakan Tax Amnesty kemana mau diarahkan, pembaharuan UU Migas yang masih tarik ulur dan beragam kebijakan lain penuh kontroversi seolah-olah menggambarkan dua sisi pedang kebijakan di negeri ini.

Siapa yang tahu latar belakang pekerja China yang datang ke Indonesia? Tentarakah? Ahli sabotase kah? Intelejenkah? Siapa yang screening?

Siapa yang mengawasi? Di China berlaku wajib militer. Jika para pekerja cina adalah tentara yang diselundupkan untuk pada saatnya akan digunakan untuk menginvasi negara ini siapa yang tanggung jawab?

Sekali lagi siapa yang bisa jamin pekerja China bukan serdadu yang diselundupkan? Apa yg mereka lakukan saat senggang? Siapa yang awasi?

Masih ingatkah ? Belum lama ini pada April 2016 lalu, 5 tenaga kerja China ditangkap TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma karena masuk kawasan Lanud Halim secara ilegal. Kabar datangnya wisman China di Bali dan lain-lain benar-benar menyisakan tanda tanya besar. Tidakkah ini semua cukup sebagai bukti bahwa kebijakan memberikan kran longgarnya limpahan tenaga kerja asing terutama China di Indonesia termasuk di Gresik akan berpotensi berbahaya. Karena secara factual sudah dipahami bahwa investasi asing adalah modus baru penjajahan untuk menciptakan ketergantungan semua bidang terutama politik dan ekonomi sebuah negara. Apalagi begitu beragamnya modus proxy war yang merupakan revolusi formula perang kekinian dari berbagai kekuatan baik berbentuk negara maupun Multi National Corporation. Amerika punya Kapitalis Liberalis, China memiliki Sosialis Komunis sebagai ideology ekspansi yang menggerakkan seluruh roda kekuatan politik dan ekonominya.

Pertanyaannya Indonesia dengan mayoritas muslim penduduknya memiliki apa untuk menghadang terjangan kekuatan ideologi ekspansi negara-negara adi daya. Dan ingatlah bahwa Islam pernah menjadi ideologi negara ekspansi berjaya di dunia yang memunculkan peradaban agung manusia berabad-abad lamanya. Allahu a’lam bis showab.*

Penulis peminat masalah sosial politik, tinggal di Gresik Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:buruhchinakapitalisperdagangan bebasTenaga Kerja
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Otoritas Amerika Serikat Melarang Seluruh Penerbangan Dari dan Ke Turki
Tulisan selanjutnya Bacaan Al-Qur’annya Masih Kurang, Para Jamaah Masjid Ini Malu Jadi Imam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet

Berita
8 Juni 2026 18:30
Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?