Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Rahasia Keimanan yang Kokoh

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Juli 2016 08:08 8:08 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juli 2016 08:08
Bagikan
Ketenangan yang bersemai di dalam diri, bisa menjadi penawar bagi jiwa-jiwa yang gelisah
Bagikan

Apakah orang beriman itu jahat hingga membuatnya terkadang harus disiksa oleh orang-orang kafir? Ternyata menurut Sayyid Quthb, satu-satunya “kejahatan” orang mukmin adalah karena mereka tunduk kepada Allah, Sang Pencipta.

Senada, al-Baghawi merangkum beberapa perkataan yang lain. Di antaranya, Ibn Abbas berpendapat, mereka dibenci hanya gara-gara mereka beriman kepada Allah.

Muqatil berkata, “cacat” itu bernama keyakinan kepada Allah. Sedang Abdurrahman as-Sa’di menguatkan bahwa “dosa” orang mukmin itu hanya karena beriman Allah.

Yaitu mereka kadung meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Mereka tunduk dan pasrah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa untuk berbuat segala apa yang Dia kehendaki dan Maha Terpuji atas segala sifat dan perbuatan-Nya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Ia selamanya adalah Zat Yang Terpuji meski tak satupun di antara makhluk yang memuji-Nya.

Al-Maraghi menambahkan, hal itu tak sepantasnya membuat orang mukmin itu lalu dihukum atau disiksa. Sebab apa yang mereka yakini sejatinya mesti menjadi keyakinan seluruh manusia yang fitrawi.

Satu kebenaran yang harus dipegang teguh, bahkan menjadi kewajiban setiap mukmin mendakwahkan dan mengajarkan prinsip keimanan itu kepada orang lain.

Inilah, lanjut Sayyid Quthb, sebagai buhul keimanan yang sebenarnya. Ikatan yang mampu melarutkan hati menjadi teduh seteduh-teduhnya lalu dirasakan sebagai satu kedamaian dalam jiwa.

Meski keyakinan tersebut harus berbenturan dengan rezim penguasa dzalim sekalipun.

Sebaliknya, fakta ini pula yang membuat orang-orang kafir dan fasik kian gusar terhadap orang beriman. Mereka bertambah murka melihat keyakinan seorang mukmin tak juga goyah.

Kemarahan mereka makin bergolak sebab simpul keimanan itu tak juga bercerai meski telah disiksa dan dibunuh sekalipun. Sedang Allah Maha Menyaksikan atas segala yang diperbuat oleh hamba-hamba-Nya. Dan cukuplah Allah dengan Maha Menyaksikan-Nya tersebut.

Allah berfirman:

وما نقموا منهم إلا أن يؤمنوا بالله العزيز الحميد، الذي له ملك السماوات والأرض والله على كل شيء شهيد

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Yang Mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj [85]: 8-9).

Dua Pengokoh Keimanan

Lebih jauh, mufassir asy-Syinqithi mengurai lebar akan lathaif lughawiyah (keindahan sastra) dari penyandaran dua sifat mulia Allah yaitu “al-Aziz” dan “al-Hamid” pada ayat di atas.

Menurutnya, sifat al-Aziz dimaksudkan untuk menampakkan keperkasaan dan kesanggupan Allah menolong orang-orang mukmin serta memberi balasan setimpal atas perbuatan orang-orang kafir. Sebab logikanya, yang perkasa itulah yang menjadi pemenang kelak.

Namun sifat al-Aziz (Mahaperkasa) itu disertai dengan sifat al-Hamid (Maha Terpuji) sebagai pesan tersirat selanjutnya bagi orang-orang beriman.

Pertama, lanjut asy-Syinqithi, agar orang beriman itu benar-benar punya keyakinan yang kokoh kepada Allah, dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan senang (raghbah) maupun takut (rahbah).

Mereka cinta kepada Allah Yang Maha Terpuji, seperti tercermin dalam ayat selanjutnya; “Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (Surah al-Buruj [85]: 14.

Sebagaimana keimanan itu mengantar mereka takut kepada murka Allah, seperti pada ayat “Sesungguhnya siksa Rabbmu amatlah pedih.” (Surah al-Buruj [85]: 12).

Dan inilah kesempurnaan iman seseorang, ketika ia teguh dalam segala kondisi yang menerpa perjalanan kehidupannya.

Perkara kedua, masih dalam Tafsir Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an, agar orang-orang kafir tersebut tidak langsung berputus asa dari rahmat dan hidayah Allah.

Sebab di sana terbuka selebar-lebarnya peluang ampunan dari Allah bagi mereka yang datang bersimpuh dalam taubatnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang enggan bertaubat kepada Allah, maka hendaklah mereka bersiap menerima ganjaran setimpal dan siksa yang amat pedih.

Sebab Allah Maha Melihat atas perbuatan mereka kepada orang-orang beriman selama ini. Bahwa orang kafir tersebut pernah menyiksa wali-wali Allah hanya dikarenakan beriman kepada Sang Penciptanya.

Hal itu makin dikuatkan dengan penegasan Allah di ayat selanjutnya. Tak seorang pun di antara hamba-Nya yang luput dari kekuasaan Allah Ta’ala. Sebab Dia juga yang menguasai seluruh ciptaan yang ada di langit dan di bumi.

Sebuah peringatan yang sangat keras, menurut asy-Syinqithi, kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah. Sekaligus menjadi pelipur lara dan nutrisi penyejuk bagi ketenangan hati orang-orang beriman.

Penutup

Hakikat dunia adalah kehidupan sementara. Ibarat terminal, kehidupan dunia hanyalah perhentian satu jenak menuju kampung akhirat nan abadi.

Meski fana, kehidupan ini hanya menyisakan dua opsi bagi manusia. Menjadi hamba beriman dan bersyukur kepada Allah atau sebaliknya, berkumpul bersama manusia tak tahu diri yang mengingkari nikmat Allah.

Olehnya, ahli tafsir al-Maraghi mengingatkan, hendaknya keyakinan ini tak boleh pudar dalam jiwa seorang mukmin.

Apa yang didapati manusia di dunia hanyalah soal ujian dari Allah, untuk mengetahui siapa gerangan hamba-Nya yang aqidahnya tak tergoyahkan meski dengan benturan cobaan yang paling berat sekalipun.

Allah berfirman, “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Surah al-Mulk [67]: 2).*/Masykur Abu Jaulah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidahImankehidupansabarsyukur
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemakaman di Texas Akhirnya Mengakhiri Kebijakan Segregasi Rasis
Tulisan selanjutnya Kantor Imigrasi Madiun Waspadai Pekerja Asing China

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?