Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Masa Depan Hamas setelah Wafatnya Ismail Haniyah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Juli 2024 16:22 4:22 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Juli 2024 13:50
Bagikan
Ismail Haniyah saat menjadi imam dan khatib shalat Id di Gaza, Palestina
Bagikan

Gerak perjuangan Hamas sudah berjalan by system. Karenanya perlawanan Hamas terhadap penjajah ‘Israel’ tidak akan padam dengan wafatnya Ismail Haniyah

Oleh: Pizaro Ghozali Idrus

Hidayatullah.com | GERAKAN  Perlawanan Islam atau Hamas mengumumkan bahwa Kepala Biro Politik Ismail Haniyah telah syahid akibat  pembunuhan yang dilaporkan dilakukan penjajah ‘Israel’ di ibu kota Iran, Teheran pada Rabu (31/7/2024).

Wakil Kepala Biro Politik Hamas Mousa Abu Marzouq mengatakan pembunuhan tersebut adalah tindakan pengecut dan Hamas tidak akan dibiarkan begitu saja.

Sejatinya, perlawanan Hamas tidak akan pernah padam dengan wafatnya Haniyah. Karena gerak Hamas sudah berjalan by system.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Mereka telah melakukan transformasi organisasi secara matang. Sehingga pola gerak Hamas tidak bergantung hanya pada person to person.

Hal ini sebagaimana dikatakan petinggi Hamas Sami Abu Zuhri usai gugurnya Haniyah. Dia menegaskan bahwa penjajah ‘Israel’ bernafsu untuk melumpuhkan Hamas dan ingin mematahkan spirit rakyat Palestina.

Namun Hamas adalah sebuah gagasan, dan kesyahidan para pemimpinnya tidak akan menghentikan gagasan ini.

“Pembunuhan ini tidak akan mencapai tujuan penjajahan dan tidak akan mampu menggeserkan Hamas dari mengambil alih kekuasaan, sebab Hamas akan terus menempuh jalan ini sampai akhir, dan darah ini telah meningkatkan tekadnya,” ujar Zuhri.

Situasi ini sudah terbukti pada tahun 2004 ketika pendiri Hamas Syekh Ahmad Yassin dan Dr Abdul Aziz Rantisi gugur dalam rentang waktu satu bulan. Meski kedua tokoh adalah figure kunci gerakan, tidak ada perubahan kebijakan dalam gerakan Hamas. Perlawanan terus dilakukan.

Perjuangan merebut kemerdekaan tidak kendor. Bahkan Hamas memenangkan pemilu Palestina yang bersejarah tahun 2006 yang mengejutkan ‘Israel’ dan Amerika Serikat. Hamas sukses meraih kursi parlemen terbanyak mengalahkan Fatah.

Bagi Hamas, hanya ada dua alternatif dalam menentukan nasib bangsa Palestina: menyerah atau terus melawan. Kalau rakyat Palestina hendak hidup di bawah penjajahan ‘Israel’, maka pilihannya menyerah.

Namun bila bansa Palestina mengharap kemerdekaan dan kehidupan mulia maka pilihannya hanyalah melawan.

Sejak saat itu, Hamas terus memperkuat konsolidasi. Memperkokoh basis militernya hingga bertransformasi menjadi pasukan elit yang disegani Zionis sebagaimana terjadi pada Perang Al Furqan pada 2008-2009.

Analis politik Palestina Wisam Afifah mengatakan upaya ‘Israel’ untuk melumpuhkan perlawanan Hamas pada perang itu terbukti kontraproduktif bagi ‘Israel’. Dampak Perang itu hanya menyebabkan meningkatnya kekuatan Hamas, tidak hanya secara militer, namun juga secara politik di Timur Tengah.

Sebab dalam momentum ini, faksi pejuang Palestina itu justru telah mengambil banyak pelajaran dan meningkatkan persenjataannya, yang tercermin dalam tiga perang berikutnya Hijaratus Sijjil (2012) dengan manuver roket Hamas, Ashful Ma’kul (2014) dengan kemajuan taktik serangan, Saiful Quds (2021) lewat kekuatan rudal jelajah.

Hal serupa terjadi dalam Operasi Taufan Al Aqsha pada 7 Oktober 2023. Dalam agresinya, penjajah ‘Israel’ mentargetkan untuk menghabisi Hamas beserta seluruh komponen kekuatan politik dan militernya. Sesumbar Netanyahu untuk menghancurkan Hamas  dan perlawanan rakyat dalam hitungan singkat tak terbukti.

Selama hampir 10 bulan itu, Hamas masih bertahan dan belum terlihat tanda-tanda menyerah. Perang dan agresi ‘Israel’ hanya merusak dan membumihanguskan infrastruktur di Jalur Gaza serta membunuh warga sipil, anak-anak, wanita dan orang tua. Tapi tidak perlawanan bangsa Palestina.

Ribuan warga Palestina telah terbunuh, termasuk banyak anak-anak, dan puluhan ribu rumah, sekolah, dan gedung perkantoran telah hancur. Namun angka-angka itu tidak pernah berhasil melumpuhkan Hamas dan spirit perjuangan bangsa Palestina.

Operasi Taufan Al Aqsha justru telah mengubah bandul geopolitik global. Negara-negara Arab yang tadinya telah berjabat tangan melakukan normalisasi dengan ‘Israel’ menanggung beban moral yang sangat kuat.

Dunia internasional tidak hanya mengecam ‘Israel’ dan sekutu baratnya, tapi juga bungkamnya dunia Arab yang tidak melakukan tindakan berarti untuk menghentikan penjajahan.

Dukungan internasional kepada Palestina pun kian menguat dimana sebanyak 143 negara mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB dan hanya 9 negara yang menolak. Baru-baru ini International Justice Court memutuskan pendudukan ‘Israel’ adalah illegal.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa Iran bukanlah tempat yang aman bagi Hamas. Mata-mata Mossad sudah mengetahui celah keamanan di Iran. Sebab situasi tewasnya tokoh-tokoh Hamas tidak terjadi di Qatar maupun Turki.

Upaya Mossad untuk membunuh tokoh-tokoh Hamas di Turki berhasil diantisipasi oleh intelijen Turki.

Pada April 2024 lalu, Intelijen Turki berhasil menangkap 33 agen Mossad. Hamas harus berpikir ulang untuk menjaga tokoh-tokohnya di luar negeri. Karena setelah gagal mengalahkan Hamas, target Zionis adalah membunuh tokoh-tokoh Hamas di luar negeri seperti terjadi pada pendiri Brigade Izzudin Al-Qassam, Saleh Al Arouri yang dibunuh ‘Israel’ di Lebanon.*

Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue dan Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute, kandidat PhD bidang HI di USM Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HAMASHeadlineismail haniyahisraelPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pendeta ‘Kharismatik’ Bunuh Diri, Mantan Istrinya Ungkap Kebohongan dan Aksi Pelecehan Seksualnya
Tulisan selanjutnya Insiden Anti-Muslim Naik 70 Persen pada Semester Pertama 2024

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’

Berita
29 Agustus 2026 19:05
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?