Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Dinamika Baru Timur Tengah Pasca Kejatuhan Rezim Al-Assad

Ahmad
Terakhir diupdate: 12 Desember 2024 15:53 3:53 pm
Ahmad
Dipublikasikan 12 Desember 2024 16:00
Bagikan
Bagikan

Kejatuhan rezim tangan besi Bashar Al-Assad akan membawa tantangan baru dalam dinamika Timur Tengah, khususnya ‘Israel’, Iran,  AS dan sekutunya

Oleh: Syaefunnur Maszah

Hidayatullah.com | SETELAH 54 tahun berkuasa, rezim keluarga Al-Assad di Suriah akhirnya runtuh pada 8 Desember 2024.  Kejatuhan Bashar Al-Assad menjadi penanda berakhirnya perang saudara Suriah yang telah berlangsung selama 13 tahun dan merenggut ratusan ribu jiwa serta menyebabkan setidaknya 13 juta orang mengungsi.

Pada bulan April 2016, utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura menyatakan bahwa lebih dari 400.000 warga sipil (mayoritas Sunni) meninggal dalam perang saudara Suriah.

Pada pertengahan Maret 2022, kelompok aktivis oposisi Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan jumlah anak-anak yang meninggal dalam perang tersebut meningkat menjadi 25.857, dan 15.761 perempuan juga tewas. 

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Meski didukung oleh dua kekuatan besar, Rusia dan Iran, kekalahan Al-Assad dalam waktu hanya 12 hari menunjukkan rapuhnya fondasi kekuasaan rezim tersebut di tengah tekanan militer dan politik. 

Kekuatan oposisi Suriah yang berhasil menggulingkan Al-Assad didukung oleh aliansi internasional yang melibatkan Turkiye, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk. Dukungan ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga logistik dan politik.

Turkiye, yang sejak awal revolusi mendukung oposisi, memainkan peran strategis dalam menyatukan faksi-faksi oposisi yang sebelumnya terpecah. Sementara itu, melemahnya dukungan domestik terhadap rezim Al-Assad turut mempercepat proses kejatuhannya. 

Rusia dan Iran, meskipun menjadi pendukung utama Al-Assad selama konflik, terbukti tidak mampu menahan tekanan yang datang dari berbagai arah.

Keterbatasan sumber daya Rusia yang terfokus pada konflik Ukraina dan sanksi internasional membuatnya kesulitan mempertahankan pengaruh di Suriah. Iran, di sisi lain, kehilangan kemampuan untuk mempertahankan “Bulan Sabit Syiah” yang selama ini menjadi landasan strateginya di Timur Tengah.

Kejatuhan Al-Assad memutus koridor darat yang digunakan Iran untuk memasok senjata ke Hizbullah di Libanon, mengurangi pengaruhnya dalam konflik Palestina-’Israel’. 

Implikasi kejatuhan Al-Assad terhadap konflik Palestina-’Israel’ cukup signifikan. Meskipun penjaah ‘Israel’ senang melihat melemahnya Iran dan aliansinya, kehadiran kekuatan baru di Suriah yang lebih pro-Palestina membuat pihak penjajah merasa terancam.

Serangan udara besar-besaran ‘Israel’ ke Suriah pasca kejatuhan Al-Assad mencerminkan kekhawatiran terhadap potensi ancaman dari pemerintahan baru di Damaskus yang lebih bersimpati terhadap perjuangan Palestina. 

Sementara itu, Amerika Serikat dan Uni Eropa menyambut baik perubahan ini karena melemahkan Rusia dan Iran.

Bagi Eropa, kejatuhan Al-Assad membuka peluang untuk mendorong pengungsi Suriah kembali ke negara asal, yang dapat mengurangi tekanan sosial dan ekonomi di kawasan mereka.

Namun, transisi politik di Suriah tidak serta-merta menjamin stabilitas jangka panjang, mengingat kompleksitas faksi-faksi oposisi yang kini memegang kendali. 

Bagi Turkiye, kejatuhan Al-Assad adalah kemenangan geopolitik. Dengan mengamankan koridor strategis yang menghubungkan Eropa dan Teluk melalui Suriah, Turkiye memperkuat posisinya sebagai pemain utama di kawasan.

Keberhasilannya juga menunjukkan kemampuan diplomatik dan militernya dalam mengelola konflik regional, sekaligus mengurangi pengaruh rivalnya, Rusia dan Iran. 

Namun, kejatuhan Al-Assad juga membawa tantangan baru dalam dinamika Timur Tengah. Pergeseran kekuatan ini dapat menciptakan ketegangan baru, terutama jika pemerintahan baru di Suriah memutuskan untuk mengambil sikap lebih agresif terhadap ‘Israel’ atau membentuk aliansi baru di kawasan.

Dalam konteks konflik Palestina-’Israel’, hasil akhirnya akan sangat bergantung pada bagaimana aktor-aktor regional dan internasional merespons dinamika baru ini.

Di ‘Israel’, kejatuhan al-Assad disambut dengan perasaan campur aduk. Meski melemahnya aliansi yang dipimpin Iran menguntungkan penjajah, lebih-lebih terhadap rencananya mendirikan ‘‘Israel’ Raya” dengan cara mencaplok Dataran Tinggi Golan.

Kejatuhan al-Assad dan realignment regional yang menyertainya kemungkinan akan membawa perubahan dramatis pada keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah, dan dampaknya baru akan sepenuhnya kita pahami dalam tahun-tahun mendatang.*

Penulis peminat masalah Timur Tengah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ASBashar al-AssadHeadlineiranisraeloposisi suriahPilihan RedaksisuriahTimur Tengah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ustad Adi Hidayat Disebut Bakal Gantikan Miftah sebagai Utusan Presiden Bidang Keagamaan
Tulisan selanjutnya Presiden Prabowo akan Resmikan Terowongan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?