Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Maulid Nabi dan Krisis Etika Politik Indonesia

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 September 2025 19:21 7:21 pm
Ahmad
Dipublikasikan 9 September 2025 19:16
Bagikan
Bagikan

Moralitas politik Indonesia yang sarat oligarki, dinasti, dan transaksionalisme, perlu mencontoh keteladan Nabi Muhammad ﷺ sebagai kompas etika untuk membangun demokrasi yang adil dan bermartabat

Oleh: Ali Musa Harahap, Ph.D

Hidayatullah.com | KITA
menyebut diri sebagai bangsa demokratis, tapi kenyataan sehari-hari menunjukkan ironi yang mencolok: demokrasi hanya hidup dalam teks undang-undang, tapi mati dalam praktik kekuasaan. Di permukaan, Indonesia tampak seperti negara demokrasi yang mapan dengan pemilu rutin, parlemen, partai politik, dan kebebasan pers.

Namun di balik semua itu, terdapat realitas paralel yang memperlihatkan wajah suram dari politik kita. Parlemen dikuasai oleh elit partai yang tertutup dan anti-kritik. Lembaga legislatif, yang seharusnya menjadi wakil suara rakyat, justru menjadi menara gading kekuasaan partai.

Proses rekrutmen politik kerap tidak transparan dan hanya memberi ruang bagi mereka yang punya koneksi, modal, atau loyalitas buta terhadap pimpinan partai. Akibatnya, parlemen tidak lagi menjadi ruang diskusi publik yang sehat, tapi berubah menjadi kepanjangan tangan oligarki politik.

Peraturan-peraturan yang lahir sering kali tidak berpihak pada rakyat, tapi melayani kepentingan segelintir elit ekonomi. Legislasi dibuat bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat luas, melainkan berdasarkan pesanan politik dan tekanan pemodal.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

UU yang menyangkut hajat hidup orang banyak dari pertanahan, lingkungan, hingga ketenagakerjaan seringkali dibuat secara tergesa, minim partisipasi publik, dan sarat kepentingan privat. Rakyat kecil hanya menjadi penonton, atau bahkan korban dari proses legislasi yang manipulatif.

Politik Indonesia hari ini bukan sedang menghadapi krisis sistemik karena secara formal kita masih memiliki konstitusi, pemilu, dan institusi-institusi demokrasi. Namun, yang tengah runtuh justru adalah fondasi etis dari politik itu sendiri: integritas, kejujuran, dan rasa tanggung jawab terhadap amanah publik.

Kita menyaksikan bagaimana politik dijalankan bukan sebagai sarana pengabdian kepada rakyat, melainkan sebagai jalan pintas menuju kekuasaan dan keuntungan pribadi. Ketika jabatan menjadi tujuan akhir yang dikejar dengan segala cara baik legal maupun manipulatif, maka yang tersisa dari demokrasi hanyalah pertunjukan kepalsuan yang mencederai akal sehat dan menghancurkan kepercayaan publik.

Contoh paling nyata dari dekadensi ini bisa kita temukan dalam berbagai fenomena berikut:

• Maraknya politik dinasti. Banyak kepala daerah dan pejabat publik yang dengan terang-terangan “mewariskan” jabatan kepada anak, istri, atau kerabat dekatnya, tanpa proses seleksi yang adil dan terbuka.

Praktik ini melahirkan feodalisme gaya baru dalam kemasan demokrasi elektoral. Padahal, dalam ajaran Islam, kepemimpinan adalah amanah, bukan warisan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa jabatan harus diberikan kepada orang yang paling layak dan paling mampu, bukan berdasarkan hubungan darah atau kedekatan keluarga. Fenomena ini merupakan pengkhianatan terhadap prinsip meritokrasi yang justru menjadi inti dari politik yang adil.

• Politik transaksional di balik pemilu. Proses pemilu yang semestinya menjadi ajang adu visi, integritas, dan program kerja telah berubah menjadi medan transaksi. Uang, proyek, dan janji jabatan menjadi komoditas yang diperjualbelikan secara sistemik. Kandidat dengan logistik besar punya peluang lebih besar untuk menang, meskipun minim kapasitas dan moralitas.

Rakyat tak lagi memilih berdasarkan nurani, tapi berdasarkan sembako, amplop, atau janji-janji semu yang dibisikkan menjelang hari pencoblosan. Ini adalah bentuk paling vulgar dari pengkhianatan terhadap demokrasi, karena pemilu telah direduksi menjadi lelang kekuasaan.

• Instrumentalisasi agama. Salah satu ironi terbesar dalam politik kita adalah bagaimana agama yang semestinya menjadi kekuatan moral malah justru dijadikan alat elektoral.

Agama dibungkus sebagai komoditas kampanye: shalawat dikumandangkan di panggung politik, ayat-ayat suci dikutip untuk legitimasi kekuasaan, dan simbol-simbol Islam digunakan demi pencitraan.

Namun sayangnya, semua itu berhenti di permukaan. Di balik panggung, keputusan-keputusan yang diambil sering kali bertentangan dengan nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan empati yang diajarkan Nabi. Kita memperingati Maulid dengan megah, tapi mengabaikan spirit kepemimpinan Rasulullah yang bersih, adil, dan berpihak pada rakyat kecil.

Situasi ini menandakan bahwa politik kita sedang kehilangan ruh. Demokrasi kehilangan substansinya, dan kekuasaan tak lagi dipahami sebagai amanah, melainkan sebagai hak istimewa yang bisa direbut dan diwariskan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang kita wariskan kepada generasi berikutnya bukanlah tatanan politik yang sehat, tapi budaya korup, feodal, dan manipulatif.

Politik Waras, Belajar dari Rasulullah

Di sinilah letak urgensi Maulid Nabi Muhammad ﷺ harus ditempatkan ulang: bukan sekadar ritual tahunan yang penuh euforia seremonial, tetapi sebagai momen koreksi kolektif atas realitas politik yang semakin jauh dari nilai-nilai kenabian. Nabi Muhammad bukan hanya pembawa risalah spiritual, tetapi juga sosok pemimpin yang menjunjung tinggi keadilan, transparansi, keberpihakan pada yang lemah, dan keberanian menentang tirani kekuasaan.

Sudah saatnya kita menjadikan Maulid sebagai titik balik: untuk menagih akuntabilitas para pemimpin, membangkitkan kesadaran politik umat, dan menghidupkan kembali etika kekuasaan yang berakar pada teladan Nabi.

Kita boleh berbeda partai, suku, bahkan pilihan politik, tapi kita tidak boleh berbeda dalam komitmen terhadap kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan tiga nilai utama yang menjadi inti dari risalah kenabian..

Di panggung-panggung kampanye, agama seringkali tampil megah kutipan ayat suci dan hadits Nabi dilantunkan dengan penuh dramatisme, seolah menjadi bukti komitmen moral sang calon pemimpin.

Namun ironisnya, ketika berbicara soal etika politik, tanggung jawab kekuasaan, dan kepedulian terhadap nasib rakyat, nilai-nilai agama itu mendadak menghilang dari perbincangan. Agama dijadikan alat retoris, bukan prinsip hidup.

Simbol keislaman dijadikan hiasan politik identitas, bukan sebagai fondasi etika bernegara. Inilah bentuk paling halus dari kemunafikan publik: memanfaatkan agama untuk mendulang suara, tapi mengabaikannya saat berkuasa.

Dalam sejarah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan Allah berikan kepada kalian.”

Sabda ini bukan hanya pengingat, tapi tamparan telak bagi masyarakat kita hari ini. Kita sering mengutuk korupsi, mencibir elite politik, dan mengeluhkan ketimpangan sosial, tapi di saat yang sama kita permisif terhadap praktik curang dalam pemilu, membiarkan kampanye dibanjiri janji palsu, dan tetap memilih pemimpin berdasarkan popularitas, bukan integritas. Demokrasi kita pincang bukan semata karena elit yang rakus, tapi juga karena publik yang abai dan mudah terlena oleh retorika religius tanpa menilai substansi moralnya.

Jika Indonesia sungguh ingin keluar dari krisis politik yang semakin menjauhkan kita dari keadilan dan kejujuran, maka tidak ada jalan lain selain kembali menempatkan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ sebagai model praksis dalam kehidupan berpolitik.

Keteladanan Rosul bukan hanya milik ruang masjid atau madrasah, tapi juga sangat relevan di ruang-ruang legislatif, birokrasi, dan pemerintahan. Spirit kenabian harus dihidupkan bukan sebagai simbol spiritual belaka, tetapi sebagai etika publik dan landasan moral dalam berkuasa.Setidaknya, ada tiga pilar yang perlu ditegakkan jika kita ingin membangun politik yang waras dan berkeadaban:

Kepemimpinan sebagai Amanah, bukan Karier

Rasulullah tidak pernah mengejar kekuasaan. Bahkan ketika diangkat menjadi pemimpin Madinah, itu lahir dari kepercayaan rakyat, bukan ambisi pribadi.

Kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah beban amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, bukan sekadar jenjang karier untuk mencari kehormatan atau kekayaan. Di Indonesia, jabatan publik sering dijadikan alat mobilitas sosial dan bisnis politik, bukan sebagai ruang pengabdian.

Keadilan Sosial sebagai Dasar Kebijakan

Salah satu misi utama kenabian adalah membela yang lemah dan mendobrak struktur penindasan. Rasulullah selalu berpihak pada kaum miskin, yatim, dan orang-orang terpinggirkan. Beliau menolak sistem yang memperkaya segelintir orang dengan mengorbankan banyak orang.

Sayangnya, di negeri ini, kebijakan publik masih lebih sering disusun berdasarkan kepentingan elite ekonomi-politik. Program-program kerakyatan sering hanya menjadi jargon kampanye, sementara yang diuntungkan tetap itu-itu saja.

Akhlak Publik sebagai Alat Ukur

Dalam Islam, pemimpin diukur dari keteladanan akhlaknya: jujur, adil, sabar, dan bertanggung jawab. Tetapi hari ini, ukuran kelayakan pemimpin lebih banyak ditentukan oleh survei elektabilitas, pencitraan media, atau kekuatan modal kampanye.

Tak heran jika indeks kepercayaan publik terhadap politisi terus menurun. Rakyat merasa dikhianati, karena terlalu banyak wajah manis yang berubah menjadi tamak, arogan, dan antikritik begitu duduk di kursi kekuasaan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ seharusnya menjadi momen reflektif bagi umat Islam, bukan sekedar ritual seremonial yang diwarnai dengan perayaan-perayaan simbolik. Maulid adalah ruang kontemplasi: sejauh mana umat Islam meneladani nilai-nilai profetik dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam ranah sosial-politik.

Di tengah sorotan tajam terhadap runtuhnya standar moral para elit politik dan memburuknya praktik demokrasi prosedural, pertanyaan mendesak yang layak diajukan adalah: di mana posisi keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam arus politik Indonesia hari ini?

Kita hidup dalam iklim politik yang terus menerus mengkhianati idealisme demokrasi. Pemilu yang seharusnya menjadi wadah partisipasi rakyat, justru berubah menjadi panggung kapitalisasi suara, di mana politik uang, kampanye manipulatif, dan pencitraan semu lebih menentukan kemenangan ketimbang gagasan dan integritas.

Partai-partai politik pun tak lepas dari jeratan oligarki; dikuasai oleh dinasti politik dan kepentingan segelintir elite yang menjadikan rakyat sebagai alat legitimasi, bukan subjek yang diperjuangkan. Jabatan publik, yang semestinya menjadi sarana pengabdian dan pelaksanaan amanah, malah diperlombakan demi keuntungan pribadi dan kelompok.

Dalam situasi seperti ini, ajaran dan keteladanan Rosulullah ﷺ sebagai pemimpin negara yang menjunjung tinggi amanah, keadilan, kesederhanaan, serta keberpihakan kepada kaum mustadh’afin nyaris tak lagi terlihat dalam wajah kekuasaan hari ini.

Rasulullah tidak hanya memberi teladan moral, tetapi juga membangun sistem politik yang etis dan berkeadaban. Dalam sejarahnya, beliau menjunjung musyawarah, menolak nepotisme, dan bersikap tegas terhadap penyelewengan kekuasaan.

Sangat ironis ketika negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia justru mempertontonkan wajah politik yang kontradiktif terhadap nilai-nilai tersebut. Islam yang diajarkan Nabi menekankan kejujuran, keadilan sosial, dan tanggung jawab kolektif dan bukan manipulasi, keserakahan, atau dominasi segelintir elit atas hajat hidup orang banyak.

Sudah saatnya Maulid Nabi tidak hanya dijadikan seremoni tahunan yang kehilangan makna substansial. Ia harus menjadi momentum untuk menggugat kemunafikan politik yang bertopeng agama, serta membangkitkan kesadaran kritis umat agar kembali pada nilai-nilai profetik dalam kehidupan berbangsa.

Meneladani Rasulullah dalam konteks kekinian berarti membangun politik yang bermoral, kekuasaan yang melayani, serta tatanan sosial yang berpihak kepada keadilan dan kemanusiaan. Tanpa itu, Maulid hanya akan menjadi seremonial yang hampa yang merayakan sosok Nabi, tetapi mengabaikan perjuangannya

Penutup: Maulid Bukan Panggung Pencitraan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ harus berhenti menjadi panggung formalitas dan ajang pencitraan belaka. Tidak cukup sekedar membacakan sejarah kelahiran beliau jika ruh perjuangan dan nilai-nilai kenabiannya tidak kita hadirkan dalam sistem sosial-politik kita hari ini. Peringatan Maulid yang tidak diiringi dengan upaya meneladani Nabi hanyalah seremoni hampa yang menjauhkan kita dari substansi risalah Islam itu sendiri.

Sudah saatnya Indonesia memiliki elit politik yang membaca Sirah Nabawiyah bukan untuk dibanggakan sebagai identitas keislaman, tapi untuk dijadikan kompas moral dalam memimpin.

Nabi Muhammad ﷺ hidup di tengah masyarakat yang plural, penuh konflik, dan tantangan sosial yang kompleks namun beliau tetap mampu memimpin dengan keadilan, transparansi, empati, dan keteguhan moral.

Itu adalah bukti bahwa etika tidak pernah menjadi beban dalam kepemimpinan, justru menjadi sumber kekuatan. Maka tidak ada alasan bagi bangsa ini untuk terus membiarkan politik dikendalikan oleh nafsu kekuasaan, tipu muslihat, dan kepentingan sempit. Yang dibutuhkan bukan sekedar pemimpin Muslim, tetapi pemimpin yang meneladani Nabi dalam laku dan nurani.

Karena demokrasi tanpa moral adalah jalan pintas menuju kehancuran. Ia akan melahirkan sistem yang legal secara hukum, tapi rusak secara etika. Rakyat bisa memilih, tapi yang terpilih adalah para oportunis. Hukum bisa ditegakkan, tapi hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Dan ketika politik dijalankan tanpa mencontoh Rosulullah ﷺ yang menjadikan amanah sebagai tanggung jawab sakral, maka kita tidak hanya tersesat, tapi juga sedang menggali kubur bagi masa depan bangsa sendiri. Kita sedang mengulang kesalahan bangsa-bangsa besar sebelum kita, yang runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, tapi karena kehilangan arah moral.

Maulid seharusnya menjadi momentum kebangkitan nilai. Saatnya kita menjadikan peringatan ini sebagai titik tolak menuju politik yang lebih jujur, lebih adil, dan lebih manusiawi. Politik yang tidak hanya mengangkat nama Nabi di spanduk kampanye, tapi menghadirkan teladannya di dalam kebijakan publik. Sebab, hanya dengan kembali kepada nilai-nilai kenabian, kita bisa menyelamatkan negeri ini dari jurang dekadensi dan mengarahkan perjalanan demokrasi menuju peradaban yang bermartabat.*

Dosen Ilmu Politik, Universitas Darussalam Gontor

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dinasti politikHeadlineMoralitas politikNabi Muhammadoligarki politikpolitik Indonesiapolitik transaksionalisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rumah Sejarah Indonesia Selamatkan Karya Ulama Betawi KH Mohd Ali Alhamidy Rumah Sejarah Indonesia Selamatkan Karya Ulama Betawi KH Mohd Ali Alhamidy
Tulisan selanjutnya Israel melakukan kejahatan Genosida di Gaza ‘Israel’ Ancam Penduduk Kota Gaza: Pergi ke Selatan atau Mati

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?