Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Menjaga Arah di Tengah Perubahan Zaman

Ahmad
Terakhir diupdate: 23 Februari 2026 14:25 2:25 pm
Ahmad
Dipublikasikan 23 Februari 2026 14:23
Bagikan
Bagikan

Peradaban tanpa tauhid kehilangan makna; Islam menghadirkan kompas ruhani dan moral.

Oleh: Hanifullah

Hidayatullah.com | PERADABAN modern berkembang dalam kerangka materialisme yang menempatkan ekonomi, teknologi, dan kekuatan politik sebagai indikator utama kemajuan. Keberhasilan individu dan masyarakat kerap direduksi pada kepemilikan materi, status sosial, dan pengaruh global. Akibatnya, dimensi spiritual dan moral semakin terpinggirkan. Dalam perspektif Islam, peradaban semacam ini berisiko kehilangan arah karena tidak berlandaskan nilai transenden.

Islam hadir sebagai sistem nilai yang menyeimbangkan dunia dan akhirat, membangun peradaban berbasis tauhid, akhlak, dan keadilan sosial. Tulisan ini menegaskan perbedaan mendasar antara peradaban materialisme dan peradaban Islam dalam lima aspek utama: pondasi peradaban, sistem nilai, transformasi intrapersonal, orientasi ekspansi, dan sistem kehidupan.

Pondasi Peradaban: Materi vs Tauhid

Peradaban materialisme dibangun di atas fondasi materi. Pemikiran Karl Marx menempatkan faktor ekonomi sebagai penentu struktur sosial dan sejarah. Dalam paradigma ini, kekuatan produksi dan kepemilikan modal menjadi pusat peradaban.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Sebaliknya, Islam meletakkan tauhid sebagai asas kehidupan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Sejak wahyu pertama, kesadaran tauhid ditegaskan:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

“Iqra’” tidak dilepaskan dari “bismi rabbik”. Islam membangun paradigma berpikir yang bertauhid sejak awal. Tanpa tauhid, kemajuan materi hanya melahirkan kehampaan spiritual dan krisis moral.

Sistem Nilai: Materialisme vs Ketakwaan

Dalam peradaban materialisme, kemuliaan sosial sering diukur berdasarkan kekayaan dan kekuasaan. Max Weber menggambarkan rasionalisasi modern yang mengedepankan efisiensi dan keuntungan sebagai nilai dominan.

Islam menolak ukuran tersebut. Allah menegaskan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَنظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَٰكِن يَنظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Standar Qur’ani berpusat pada ketakwaan. Ilmu dan kekuasaan harus tunduk pada nilai wahyu. Tanpa nilai itu, ilmu berubah menjadi alat eksploitasi dan kekuasaan menjadi sarana penindasan.

Transformasi Intrapersonal: Kekayaan vs Ruhaniah

Peradaban materialisme memandang manusia sebagai makhluk ekonomi. Kebahagiaan diukur dari akumulasi harta.

Islam memandang manusia sebagai makhluk spiritual dan moral. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ ٱلْغِنَىٰ عَنْ كَثْرَةِ ٱلْعَرَضِ وَلَٰكِنَّ ٱلْغِنَىٰ غِنَى ٱلنَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam tahapan wahyu, setelah tauhid dan nilai tertanam, ruhiyah diperkuat:

يَٰأَيُّهَا ٱلْمُزَّمِّلُ * قُمِ ٱلَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk shalat di malam hari…” (QS. Al-Muzzammil: 1–2)

Peradaban Islam tidak hanya mencetak manusia produktif, tetapi pribadi yang kokoh hubungannya dengan Allah.

Orientasi Ekspansi: Eksploitasi vs Pembebasan

Ekspansi peradaban modern kerap berwujud kolonialisme dan dominasi—sebagaimana dikritik oleh Edward Said.

Sebaliknya, Islam mengedepankan dakwah dan pembebasan. Allah berfirman:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

Gerak Islam bertujuan membebaskan manusia dari kezaliman menuju keadilan Ilahi.

Sistem Peradaban: Kemewahan Dunia vs Keseimbangan Dunia-Akhirat

Peradaban materialisme menjadikan kemewahan sebagai tujuan utama. Jean Baudrillard menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat konsumsi yang terjebak simbol dan gaya hidup.

Islam menegaskan keseimbangan:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Cetak biru peradaban Islam tergambar dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Fatihah: aqidah (1–4), ibadah (5), dan sistem hidup (6–7). Islam membangun kesejahteraan ekonomi yang selaras dengan kelurusan spiritual.

Kesimpulan

Peradaban berbasis nilai dalam Islam dibangun di atas lima pilar utama: tauhid sebagai pondasi, ketakwaan sebagai standar nilai, ruhaniah sebagai inti transformasi diri, dakwah sebagai orientasi gerak, dan keseimbangan dunia-akhirat sebagai sistem kehidupan.

Di tengah perubahan zaman yang cepat dan kompleks, paradigma wahyu menjadi kompas agar manusia tidak kehilangan arah—membangun peradaban yang maju secara material sekaligus luhur secara moral dan diridhai Allah.*

Catatan kaki

Lihat penjelasan tentang peradaban berbasis tauhid dalam Ibn Taymiyyah, Majmu’ al-Fatawa (Riyadh: Darussalam, 2005).

Karl Marx, Das Kapital (Hamburg: Otto Meissner Verlag, 1867).

Al-Qur’an, QS. Adz-Dzariyat: 56.

Ibn Taymiyyah, Majmu’ al-Fatawa.

Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (London: Routledge, 2001).

Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat: 13.

Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 2003).

Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004).

Konsep homo economicus dalam teori ekonomi modern; bandingkan dengan kritik antropologis dalam Max Weber.

Muhammad al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Fikr, 2002); dan Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim.

Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, pembahasan tentang tazkiyatun nafs.

Edward Said, Orientalism (New York: Vintage Books, 1979).

Al-Qur’an, QS. An-Nahl: 125.

Muhammad al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.

Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr, 2001).

Jean Baudrillard, The Consumer Society (London: Sage Publications, 1998).

Al-Qur’an, QS. Al-Qashash: 77.

Pernyataan tentang zuhud dunia dalam riwayat dan atsar Hasan al-Basri.

Penulis Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekompas ruhanimoralperadabantauhid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Zionis Batasi Akses ke Masjidil Aqsha, Hanya Perbolehkan 10 Ribu Orang
Tulisan selanjutnya Menebar Cahaya Al-Qur’an di Kampung Minoritas Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Berita
13 Juli 2026 06:00
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?