Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Alwi Alatas
Shahram ditembak dan ditangkap pada tahun 2009 di Sanandaj, sebuah kota di Barat Laut Iran yang mayoritas penduduknya Kurdi. Ia diinterogasi dan dimasukkan ke penjara setempat, sebelum dipindahkan ke Rajai Shahr.
Tuduhan yang dikenakan kepadanya adalah memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok Salafi dan membunuh imam solat Jum’at di Sanandaj. Shahram menolak tuduhan-tuduhan itu dan, melalui surat-suratnya yang diselundupkan keluar penjara, menganggap bahwa alasan dirinya ditangkap adalah semata karena ia seorang Sunni yang aktif berdakwah. Saudaranya yang bernama Bahram Ahmadi juga ditangkap pada tahun 2009 ketika umurnya masih di bawah 18 tahun. Pada akhir Desember 2012, Bahram dan sembilan pemuda Sunni lainnya telah dieksekusi mati oleh pemerintah Iran (Iran Human Rights, 29 Oktober 2015; HRANA, 8 November 2015).
Telah kehilangan satu anaknya dan akan segera kehilangan satu anak lainnya, ibu Bahram dan Shahram meratapi keadaan itu dan menulis sebuah surat. Ia tak mengerti mengapa anaknya dikenai tuduhan moharebeh dan mesti dihukum mati hanya karena biasa melakukan aktivitas keagamaan di masjid. Dalam surat itu ia antara lain menulis:
“Apa yang dapat saya lakukan sebagai seorang ibu yang sudah lumpuh? Bahram, saudaranya, juga digantung. Seberapa jauh seorang ibu dapat sabar menghadapinya? Setiap hari dan malam saya menangis pada Tuhan meminta kepada-Nya agar saya diwafatkan saja. Sebagai seorang Muslim Sunni, kami tidak didengar [di Iran]…. Gantung saja saya daripada anak saya dan selesaikan semuanya. Mati lebih baik daripada kamu biarkan saya tetap hidup. Anak saya [Shahram] belum lagi berusia 30 tahun, atas dosa apa kamu membunuh anak-anak kami? Saya bersumpah pada Allah, satu hari nanti, kamu harus menjawab atas darah-darah tak berdosa [yang telah kamu tumpahkan ini].” (Taheri, Kaveh. “Iran: Yet another Sunni prisoner of conscience, Shahram Ahmadi, to be ganged” dalam theoslotimes.com. 31 Oktober 2015.)
Ini baru sedikit contoh kasus pelanggaran kemanusiaan yang terjadi di Iran yang kebetulan terjadi pada komunitas Sunni. Korban kemanusiaan dari kalangan Syiah bahkan lebih banyak lagi, bukan hanya orang-orang biasa, tetapi juga dari kalangan ayatollah dan grand ayatollah. Ayatollah Kazem Shariatmadari, ayatollah Khagani, sekedar menyebut contoh, masing-masing meninggal didalam tahanan rumah karena berseberangan paham dengan Khomeini, begitu pula dengan ayatollah Rastegari yang berkali-kali ditangkap dan dikenai tahanan rumah di bawah pemerintahan Khamenei. Mereka mengalami semua itu karena sikap oposisinya terhadap pemerintah.
Ada ribuan “al-Nimr” yang menjadi korban di Iran sejak revolusi tahun 1979. Tapi mungkin semua itu tidak dianggap sebagai suatu masalah kemanusiaan oleh the Supreme Leader dan para pengikutinya, dan dipandang tak lebih dari sekadar “pembalasan Tuhan” yang dijalankan oleh pemerintah Iran.
Terlepas dari tepat tidaknya eksekusi yang dilakukan pemerintah Saudi, saya hanya mampu tertegun saat membaca komentar-komentar Khamenei terkait hukuman mati al-Nimr. “The Almighty God shall not ignore the innocents’ blood and the unjustly spilled blood will backfire on the politicians and the executives of this regime very quickly,” kata pemimpin tertinggi Iran itu, dan “The Muslim world and the entire world must feel responsible towards this issue,” ujarnya lagi pada kesempatan yang lain (The Office of the Supreme Leader, 3 Januari 2016).
Satu pikiran pun terlintas di dalam benak, “Tuan Khamena’i, apakah Anda tidak merasa bertanggung jawab atas tumpahnya ribuan ‘darah tak berdosa’ di Iran, di bawah pemerintahan Anda sendiri? Darah-darah itu pada satu hari nanti akan memercik juga ke wajah Anda, di dunia ini, di dalam lembaran-lembaran Sejarah, atau di negeri yang berikutnya.”*
Penulis buku Shalahuddin Al Ayyubi dan Perang Salib III
Daftar Pustaka
Abrahamian, Ervand. Tortured Confessions: prison and Public Recantations in Modern Iran. Berkeley: University of California Press. 1999.
HRANA. “Shahram Ahmadi at the Imminent Risk of execution” dalam hra-news.org. 8 November 2015.
Iran Human Rights. “Sunni Man in Danger of Imminent Execution in Rajai Shahr Prison” dalam iranhr.net. 29 Oktober 2015.
IRNA. “UN Envoy: Iran doing best to arrest attackers of Saudi Embassy” dalam irna.ir/en/. 4 Januari 2016.
Mir-Hosseini, Ziba & Tapper, Richard. Islam and Democracy in Iran: Eshkevari and the Quest for Reform. London: I.B. Tauris. 2006.
Nasseri, Ladane. “Who Was the Cleric Saudis Executed and Why His Death Matters” dalam Bloomberg.com. 3 Januari 2016.
NBC Indonesia. “Indonesia didesak putuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi” dalam nbcindonesia.com. 4 Januari 2016.
Sergie, Mohammed. “Saudi Arabia Executes 47, Including Prominent Shiite Cleric” dalam Bloomberg.com. 2 Januari 2016.
Taheri, Kaveh. “Iran: Yet another Sunni prisoner of conscience, Shahram Ahmadi, to be ganged” dalam theoslotimes.com. 31 Oktober 2015.
The Office of the Supreme Leader. “Ayatollah Khamenei strongly condemns the execution of Sheikh Nimr Baqir al-Nimr by Saudi Arabia” dalam leader.ir. 3 Januari 2016.