Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Politisi Islam antara Perjuangan dan Kesederhanaan Hidup

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Januari 2019 11:17 11:17 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Januari 2019 11:17
Bagikan
[Ilustrasi] Hubungan erat: M Natsir bersama Syeikh Muhammad Amin Al-Husaini (Mufti Palestina) dan Hassan Al-Hudaibi adalah Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
Bagikan

Hidayatullah.com–DI NUSANTARA, umat Islam perlu bersyukur karena pernah memiliki politisi yang memadukan semangat perjuangan dan kesederhanaan. Para politisi Islam –yang kemudian menjadi pahlawan nasional– kala itu rata-rata hidupnya bersahaja dan memiliki etos perjuangan luar biasa.

  1. Agus Salim

Suatu ketika, Kasman Singodimejo dalam buku “100 tahun Haji Agus Salim” (1996: 163, 175) ketika melihat secara langsung kondisi Agus Salim yang mengontrak di gang yang jalannya becek dan sempit, beliau pernah mengatakan, “Leiden is lijden.” (memimpin itu menderita).  Kata-kata ini lahir setelah melihat kemelaratan “The Grand Ould Man”, KH. Agus Salim, seorang politisi muslim kawakan dan dikenal sebagai ulama yang penuh kesederhanaan.

Diplomat jenaka ini selama hidupnya memilih hidup sederhana. Walau ada kesempatan untuk menjadi kaya, namun selama hidupnya melarat. Tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Bahkan, pernah istrinya muntah-muntah di tempat kontrakan yang WC-nya sedang rusak.

Meski begitu, perjuangan beliau sangat besar bagi bangsa ini. Sebagai contoh, beliau sukses melakukan diplomasi ke luar negri, sehingga kemerdekaan Indonesia bisa diakui di tingkat internasional.

  1. Natsir

Selain Agus Salim, teladan kesederhanaan juga didapat dari figur Mohammad Natsir. Artawijaya dalam buku “Belajar dari Masjumi” (2014: 145) mencatat bahwa saat Natsir menjadi Perdana Mentri RI Pertama dan Menteri Penerangan pada masa Sutan Sjahrir, tak sungkan-sungkan untuk pulang ke rumah naik becak, sehabis jam kerja.     Sosok yang dikenal santun ini –selama hidupnya- walaupun pernah menjadi Menteri Penerangan  bahkan Perdana Menteri, memilih hidup bersahaja daripada mewah. Padahal, dengan jabatan yang dimiliki, bisa saja –dan itu masih dalam batas wajar- beliau menggunakan fasilitas yang ada. Namun, murid A. Hassan ini tetap mempertahankan gaya hidup sederhana.

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Hal menarik yang masih terkait dengan kesederhanaan Pendiri DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) ini, George Mc Turnan Kahin, seorang sejarawan berkebangsaan Amerika, pernah menyaksikan secara langsung Sang Maestro Dakwah saat di Yogyakarta pada tahu 1948. Betapa terkejutnya Kahin ketika melihat Natsir memakai kemeja yang ada tambalannya. Padahal, saat itu beliaumenjabat sebagai Menteri Penerangan (Republika, 100 Tahun Muhammad Natsir, 118-119).

Baca: Politisi Islam, Belajarlah pada Kesederhanaan Natsir 

Pola hidup sederhana ini juga diceritakan oleh Sitti Muchliesah, anak sulung Natsir. Suatu hari, ayahnya pernah menolak sumbangan mobil Chevrolet Impala dari tamu yang berasal dari Medan. Rupanya Natsir menolaknya dengan halus, dan merasa cukup dengan mobil DeSoto kusam miliknya sendiri. Bagi Natsir –yang saat itu masih menjadi anggota parlemen dan pemimpin fraksi Masyumi- dirinya tak berhak menerimanya. Di samping itu, mobil yang dipunya dirasa cukup (Majalah Tempo, Volume 37, hal. 65).

Saat Natsir mundur dari jabatan Perdana Menteri tahun 1951, ia tidak mau menerima sisa dana taktis hak Perdana Menteri yang disodorkan oleh skretarisnya, Maria Ulfa. Akhirnya dana itu dilimpahkan ke koprasi karyawan. Bahkan, beliau pernah meninggalkan mobil dinas di istanah presiden dan pulang dengan mengendarai sepeda ontel dengan sopirnya (Artawijaya, 2014: 145).

Lebih dari itu, saat mendapat Jaizat Al-Malik Faisal Al-‘Alamiyat (The King Faisal Award) beliau memperoleh piagam, medali emas, dan uang sebesar 100 ribu riyal. Menariknya, uang sebanyak itu tidak dipakai sendiri. Tapi, diserahkan ke kasir DDII untuk dibagikan ke seluruh karyawan di setiap biro dan unit DDII. (M. Dzulfikriddin, “M. Natsir dalam Sejarah Politik Indonesia: Peran dan Jasa Mohammad Natsir dalam Dua Orde Indonesia”, 2010).

Perjuangan Natsir untuk negeri ini tidaklah kecil. Ketika bangsa ini di ambang perpecahan serius akibat dipecah oleh penjajah Belanda menjadi negara-negara kecil, beliau memperjuangkan persatuan dengan ide yang dikenal dengan “Mosi Integral Natsir” yang membuat bangsa ini utuh dalam bingkai NKRI.

Buya Hamka

Masih dalam buku yang sama (2011: 216), kita akan menemukan teladan kesederhanaan dari Buya Hamka. Dalam buku ini diceritakan bahwa sebelum menjadi ulama yang populer, Hamka hidupnya sangat sederhana. Rumahnya pernah bocor dan tidak memiliki biaya yang cukup untuk menambalnya.

Meski demikian beliau tidak pernah meratapinya. Akhirnya harus ditadahi dengan ember. Ketika air semakin parah masuk ke dalam rumah. Malah istrinya membuat kapal dari kertas untuk bermain kapal-kapalan dengan anak-anaknya di atas baskom penampungan air. Luar biasa. Walau hidup sangat bersahaja, bahkan bisa dibilang melarat, beliau bersama tidak pernah meratap, malah mencari cara untuk mengubahnya sebagai kebahagiaan.

Baca:  Belajar Memaafkan dari Buya Hamka

Saat agresi militer Belanda yang ke-2 meletus, beliau bergerilya di Maninjau, Sumatra, untuk berjuang melawan penjajah. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah pejuang muslim tulen yang berkontribusi besar bagi kemerdekaan negeri ini. Ketika Indonesia merdeka secara paripurna, kiprahnya dalam ranah politik adalah ketika menjadi anggota konstituante. Di situ beliau memperjuangan aspirasi Islam, mewakili Masyumi.

Syafruddin Prawiranegara

Dalam buku “Presiden Prawiranegara Kisah 207 Hari Syafruddin Prawira Negara Memimpin Indonesia” (Basral, 2011: 25), Pahlawan Nasional Syafruddin Prawiranegara, Mentri Keuangan, begitu bersaha hidupnya sampai suatu hari tidak bisa membelikan gurita atau popok buat anaknya.

Ketika menjadi Menteri Keuangan ada peristiwa yang dikenal dengan “Gunting Syarifuddin”. Beliau juga dikenal sebagai  Pimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Pada 19 Desember 1948. Untuk sementara waktu menggantikan presiden Soekarno, akibat agresi militer Belanda, hingga negara stabil kembali. Menariknya, ketika negara kembali stabil, dengan legawa beliau berikan kembali jabatan itu. Kelak beliau menjadi politisi Masyumi bersama Natsir dan kawan-kawan.

Sebenarnya, masih banyak contoh-contoh lain dari pahlawan negeri. Namun, contoh-contoh tersebut penulis pikir cukup untuk meneladani perjuangan dan kesederhanaan politisi muslim di negeri ini. Meski kehidupan mereka bersahaja, tapi persembahan mereka untuk negeri ini tidaklah sederhana. Kita bisa menikmati kemerdekaan hingga detik ini –setelah rahmat Allah- tentu karena perjuangan tulus mereka.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya HamkakesederhanaanM Natsrmasyumipahwalan nasionalperjuanganpolitisi islamSyafruddin Prawiranegara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mengenal Brakmintis dari Komunitas Sahabat Tsiqoh
Tulisan selanjutnya Zambia Sita Minuman Energi ‘Perangsang Gairah’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?