Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Pemuda Ansor, Jadilah Pembela Islam (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Oktober 2014 11:20 11:20 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Oktober 2014 11:20
Bagikan
Ribuan orang hadiri Harlah GP Ansor ke-78 GP Ansor di Stadion Manahan Solo, Jateng
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

PERNYATAAN Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Nusron Wahid (NW) dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TVOne Selasa, 14 Oktober 2014 bertema “FPI Menyerang Ahok Melawan” yang mengatakan ‘di atas hukum agama dan adat, ada konstitusi negara’ nampaknya telah menuai kontroversi. Wabil khusus, telah dianggap mencoreng nama baik Gerakan Ansor dan kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sendiri.

Faris Khoirul Anam, anggota Aswaja Center PWNU Jawa Timur mengecam pendapat NW tersebut. Bagi Faris, sudah saatnya NU menerapkan “Aswaja Terapan” yakni semacam disiplin ajaran yang tujuannya untuk menertibkan kader NU yang melenceng pemikirannya dari asas-asas dasar organisasi. [baca: Nusron Wahid, Aswaja Terapan dan Tongkat Nabi Musa]

NW, sebagai ketua GP Ansor, harusnya mengeluarkan statemen yang membela Islam. Bukan justru melecehkan hukum agama. Sesuai dengan nama organisasinya ‘Ansor’ yang artinya ‘penolong’.

Pada awal-awal berdirinya, Ansor, yang merupakan organisasi kepemudaan NU, selalu membela Islam dari penjajah dan musuh-musah Islam lainnya. Ansor dulu tidak pernah menjadi antek penjajah.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

KH. Wahid Hasyim pada acara reuni Pengurus Besar Ansor Nadlatul Ulama (nama lama GP Ansor) pada 14 Desember 1949 di Surabaya mengemukakan pentingnya membangun kembali organisasi Pemuda Ansor karena dua hal: (1) Untuk membentengi perjuangan umat Islam Indonesia; (2) Untuk mempersiapkan diri sebagai kader penerus NU.

Pada tanggal 23 Oktober 1945 Ansor ikut serta rapat bersama Rais Akbar NU, KH. Hasyim Asy’ari, membahas tentang seruan jihad melawan penjajah yang menduduki Surabaya. Rais Akbar KH. Hasyim Asy’arie menyampaikan amanatnya berupa pokok kaidah kewajiban umat islam dalam berjihad membela tanah air.

Rapat yang dipimpin Ketua Besar KH. Abdul Wahab Hasbullah itu kemudian menyimpulkan satu keputusan dalam bentuk resolusi, yang diberinama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”. Intinya, mewajibkan setiap umat Islam (Fardlu ‘Ain) mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan musuh. Resolusi jihad tersebut telah membakar semangat perjuangan arek-arek Suroboyo dan menjadi sumber inspirasi dan motifasi dalam mengusir penjajah.

Pada saat PKI (Partai Komunis Indonesia) memberontak kepada pemerintah RI, lagi-lagi Ansor berada di depan. Bahkan Ansor dianggap musuh besar PKI pada saat itu. Perlawanan NU terhadap penganut komunis ini dilakukan secara all out. Baik secara fisik maupun kultural.

Peristiwa G/30/PKI merupakan sejarah suram bangsa yang tidak bisa dilupakan oleh Ansor terutama NU. Sebab, pengalaman pahit yang menimpa warga NU (Pemuda Ansor) dalam aksi PKI di Madiun 1948, puluhan bahkan ratusan warga NU menjadi korban keganasan palu arit. Karma itu seperti dikemukakan oleh KH.Saefuddin Zuhri, Perlawanan NU terhadap PKI di lakukan di semua medan juang.

Antara PKI dan NU berhadapan sebagai lawan. PKI menggerakkan massanya, NU mengorganisasi Pemuda Ansor dan Banser-nya. PKI mengerakkan Lekranya, NU mengaktifkan Lesbuminya. PKI menyajikan lagu Genjer-genjer yang penuh hasutan dan sindiran, NU mengobarkan Shalawat Badar. NU mengobarkan semangat perlawanan terhadap PKI sebagai kelanjutan peristiwa aksi PKI di Madiun 1948.

Beginilah semangat perjuangan Ansor, tidak pernah absen menolong kaum Muslimin Indonesia di saat peristiwa-peristiwa penting. Jika kini oknum Ansor absen bahkan berbalik menolong barisan musuh, berarti Ansor telah keluar dari tradisi ke-Ansor-an dan e-NU-an. Melawan arus pemikiran ulama NU dan ulama Ahlus Sunnah dari dahulu hingga sekarang. Mereka tidak pernah mengajarkan liberalisme. Justru sejak lahir, ajaran NU anti aliran-aliran sesat.*/bersambung.. KH Hasyim tegas terhadap orang kafir, lembut pada sesama Muslim

Penulis adalah santri NU dan anggota MIUMI Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:MuslimNU
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tokoh Syiah Ternama Saudi Diancam Hukuman Mati
Tulisan selanjutnya Transgender, Homoseksual dan Rahmat Islam (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?