Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Kecerdasan Literasi Ibunda Khadijah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 September 2016 09:30 9:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 September 2016 09:30
Bagikan
Bagikan

Oleh: Eka Sugeng Ariadi

 

Seketika setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali dari Gua Hira, mendapatkan wahyu pertama kali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala(QS. Al A’la; 1-5) melalui malaikat Jibril, beliau langsung pulang  menemui istrinya, Khadijah Radhiyallahu Anha.

Begitu sampai di rumah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamduduk di paha istrinya dan bersandar padanya. Khadijah Radhiyallahu Anhabertanya, “Hai Abu Al Qasim, dimana engkau berada? Sungguh, aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Makkah Atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.”Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallammenceritakan apa yang baru saja terjadi. Khadijah lantas berkata, “Saudara misanku, bergembiralah, dan tegarlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kiranya engkau menjadi Nabi untuk umat ini.”

Subhanallah, respon Khadijah Radhiyallahu Anha adalah jawaban cerdas dan menenangkan batin suami yang kala itu dalam kebimbangan luar biasa, bertemu dengan sosok manusia laki-laki yang lututnya saja membentang dari ufuk barat hingga timur, belum lagi saat menerima wahyu itu Jibril memaksa beliau membaca hingga berulang-ulang. Khadijah Radhiyallahu Anha sama sekali tidak turut bingung dan bimbang seperti kebiasaan manusia pada umumnya.Apa yang lantas dilakukannya? Khadijah Radhiyallahu Anha beranjak menemui saudara misannya, pemeluk agama Nasrani, pembaca kitab-kitab, dan mendengar dari orang-orang Yahudi dan Nasrani; Waraqah bin Naufal. Barangkali dalam terminologi hari ini, Waraqah adalah seorang agamawan sekaligus cendekiawan. Khadijah Radhiyallahu Anha menceritakan persis seperti apa yang diceritakan suaminya. Akhirnya, Waraqah berkata, “Mahasuci Allah. Mahasuci Allah. Demi Dzat yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan benar wahai Khadijah, sungguh suamimu didatangi Jibril yang dulu pernah datang kepada Musa. Sungguh suamimu adalah Nabi untuk umat ini. Katakan padanya agar ia bersabar.” Setelah sampai di rumah, Khadijah Radhiyallahu Anhamenceritakan jawaban Waraqah yang baru saja ia terima.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Apa yang dilakukan Khadijah Radhiyallahu Anha merupakan bentuk kecerdasan literasinya yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita pada saat itu.

Kecerdasan yang diperoleh bukan hanya sekedar membaca isi QS. Al Alaq ayat 1-5, tetapi membaca seluruh fenomena perubahan jalan hidupnya bersama suaminya tercinta. Secara psikologis, berita kenabian dari suaminya tidak ditelan mentah-mentah ataupun dimuntahkan begitu saja, namun beliau tetap berusaha berpikir tenang, kritis dan masuk akal. Informasi yang diterima dari sang suami, tak lantas dipublikasikan agar semua orang tahu dan mengikutinya. Secara akademis, Khadijah langsung mencari rujukan dan referensi ilmiahnya, khususnya pada ahli agama yang benar-benar mumpuni saat itu.

Rasa cintanya yang dalam dan kepercayaan yang kokoh kepada suaminya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,tidak mengurangi tingkat kecerdasan literasi dan logika keimanannya.

Inilah pengejahwantahan model kecerdasan literasi ideologis, sebagaimana Rednaningdyah (2004) sampaikan bahwa model ini tidak saja menjadi transformasi kognitif dan sosial seseorang, tetapi juga secara kontekstual, hubungan kekuasaan yang mendorong atau menghambat terjadinya transformasi ini akan bisa diungkap. Sebagai seorang muslim, layak kiranya menjadikannya sebagai Ibu Literasi kaum muslimin.

Satu lagi contoh tingkat kecerdasan literasi ideologis Khadijah Radhiyallahu Anha, awal-awal diangkatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang karenanya beliau mendapatkan pujian dan salam secara khusus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yaitu ketika beliau ‘mengetes’ secara ilmiah, logis, dan masuk akal tentang keberadaan Malaikat Jibril ketika bertemu suaminya. Khadijah Radhiyallahu Anha, “Hai saudara misanku, bisakah engkau cerita kepadaku tentang sahabatmu (Malaikat Jibril) yang datang kepadamu?”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, menjawab, “Ya, bisa.”“Jika ia datang lagi kepadamu, maka ceritakan kepadaku!”. Tak lama setelah itu, Jibril datang seperti biasanya. Setelah memberitahu kehadiran Jibril, Khadijah Radhiyallahu Anha meminta suaminya duduk di pada kirinya, lantas bertanya, “Apa engkau melihatnya?”. “Ya.”, jawab Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian pindah posisi duduk ke sebelah kanan, pertanyaan dan jawabannya sama.

Lalu, duduk di pangkuan, pertanyaan dan jawabannya pun sama, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih melihat Jibril. Akan tetapi, begitu Khadijah Radhiyallahu Anha dengan sengaja membuka wajah dan kerudungnya, jawabannya berbeda, ternyata Malaikat Jibril tidak ada.

Khadijah Radhiyallahu Anhapun berkata, “Saudara misanku, bergembiralah dan bersabarlah. Demi Allah, sungguh dia adalah malaikat bukan Syetan.”

Subhanallah, sungguh luar biasa kemampuan literasi ideologis Khadijah Radhiyallahu Anha, mengantarkannya memiliki pola pikir dan pola sikap yang lebih cerdas dari sebelumnya.

Setelah peristiwa itu, beliau semakin yakin bahwa suaminya benar-benar bersama Malaikat Jibril,bukan bersama Syetan, karena selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak ada yang mampu melihat Jibrik dengan kasat mata.

Tingkat kecerdasan dan keimanan inilah perpaduan yang membentuk ideologinya, yang tidak dengan sekedar dibangun dari tekstual ayat-ayat yang sudah diturunkan, akan dilengkapi dengan kontekstual hubungan praktik sosial yang saat itu terjadi.*

Mahasiswa Pascasarjana Unesa Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Istri NabiKhadijah binti khuwailit
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penelitian: Merokok Dapat Rusak DNA Anda Secara Permanen
Tulisan selanjutnya Bersila di Negeri Kāfūr: Kehadiran Pedagang Muslim di Nusantara sebelum Abad ke-10 Masehi [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?