oleh: Muhammad Faruq Al-Mundzir
Hari AHAD kaum muslimin sudah memasuki tahun baru hijriah yang ke-1438 H atau 1 Muharram bertepatan dengan 2 Oktober 2016. Muharram adalah bulan pertama dalam urutan bulan-bulan menurut islam atau dalam kelender hijriah, sedangkan tahun Hijriah diawali dengan hijrahnya nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan para sahabat ke kota yatsrib.
Itu artinya, Bulan Muharram adalah bulan yang menjadi saksi bisu bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya memulai langkah awal di Kota Yatsrib (Madinah) yang dikemudian hari menjadi cikal bakal peradaban Islam yang Agung.
Maka, marilah kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah tentang apa saja yang Rasulullah lakukan diawal hijrahnya dalam cita-citanya membangun peradaban rabbani.
Setidaknya, ada dua aspek yang rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam terapkan setibanya di madinah.
Pertama, aspek spiritual dengan membangun masjid. Sebagai mana yang ditulis syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam sirah nabawiyyah, langkah paling pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid yang kemudian dikenal dengan masjid Nabawi, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam terjun langsung dalam pembangunan ini.
Masjid yang didirikan nabi bukan hanya untuk melaksanakan shalat semata, tapi juga tempat mengenyam pendidikan bagi semua umat muslim, sebagai balai pertemuan untuk mempersatukan umat islam dan membahas berbagai masalah, juga tempat tinggal kaum muhajirin yang tak membawa harta ke Madinah.
Fakta tersebut tentu berseberangan dengan keadaan sekarang. Dimana kaum muslimin kebanyakan hanya menggunakan masjid sebagai sarana ibadah seperti shalat. Sangat jarang ditemukan masijd yang Multifungsi.
Kedua, aspek sosial dengan mempersaudarakan dan mempersatukan kaum muslimin. Setelah Rasulullah membangun masjid, Rasulullah lalu mengambil tindakan spektakuler, yaitu dengan mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar.
Tentang hal ini, Ibnu Qayyim menuturkan, “kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mempersaudarakan antara orang-orang muhajirin dan kaum anshar di rumah Anas bin Malik. Mereka yang dipersaudarakan ada Sembilan puluh shahabat, separuh dari muhajirin dan separuhnya dari anshar.”
Selain itu, makna persaudaraan ini menurut Muhammad al-ghazali adalah agar fanatisme jahiliah menjadi cair dan tidak ada yang dibela selain islam, juga agar perbedaan-perbedaan warna kulit, dan daerah tidak mendominasi, dan agar seseorang tidak merasa lebih unggul dari yang lainnya.
Di samping mempersaudarakan, Rasululullah juga banyak menganjurkan persatuan dan saling tolong menolong di antara umat islam, agar umat islam semakin solid. Di antara hadits-hadits beliau di masa-masa awal hijrah antara lain; Abdullah bin salam berkata, ”tatkala Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tiba di Madinah, aku mendatangi beliau, maka aku bisa melihat bahwa wajah itu bukan lah wajah pendusta. Yang pertama kali kudengar dari beliau adalah sabda beliau, “wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan, dan shalatlah di malam hari ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.” (HR At-tarmidzi, ibnu majah, dan Ad-darimi)
Dari beberapa lembaran sejarah di atas, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran bahwa dalam mencapai cita-cita kita yaitu khilafah, perlu diterapkan sekurang-kurangnya 2 hal, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, menjalin silaturrahim, membangun jama’ah, dan bermusyawarah. Hal ini bisa lakukan dengan maksimalisasi masjid. Kemudian yang selanjutnya, seorang muslim harus saling tolong-menolong, mempunyai kepekaan social yang tinggi, mempunyai rasa kasih sayang dan suka berbagi. Hal ini bisa di implimentasikan dengan sedekah, infaq serta berzakat.
Maka dari itu marilah kita jadikan hadirnya kita di dalam bulan muharram ini dengan mencontoh apa-apa yang telah beliau lakukan atau marilah kita memulai dari awal, sebelum terlambat, sehingga akan lahir kembali peradaban yang menjamin kesejahteraan masyarakat, keadilan para pemimpin, dan negara yang makmur sentosa. Wallahu a’lam bisshawab.*
Penulis mahasiswa STAIL Surabaya