Oleh: Kartika Linggawati
DI TAHUN 1998 gaung mahasiswa begitu riuh terdengar acapkali lahir kebijakan penguasa atas rakyatnya yang menyalahi perundang-undangan.
Bahkan berbagai catatan pilu peristiwa gugurnya beberapa mahasiswa dalam upaya mereka memperjuangkan kehidupan masyarakat yang lebih baik turut mewarnai sejarah negeri ini. Namun dimanakah gaung itu kini?
Pergantian tahun berlalu namun justru suara lantang pembela rakyat di garda terdepan itu kini seolah meredup. Tugas kuliah yang menumpuk, batas DO dipersingkat, dan jadwal mata kuliah yang begitu padat serta tuntutan dunia kerja yang menginginkan output lulusan terbaik agaknya telah mengalihkan perhatian para pemuda sebagai agent of change ini dari memikirkan nasib umat.
Diantara yang tengah terlena dengan kesibukan dunia kampusnya ternyata masih ada dari mereka yang berani bersuara menyerukan keadilan dan kebenaran. Namun apa yang kemudian para pemuda ini peroleh atas kekritisannya terhadap kebijakan penguasa?
Alih-alih aspirasi mereka didengar justru mereka terancam di DO dari kampus bahkan hingga ancaman dibui. Tak hanya sampai disitu kekritisan mereka kembali diuji dengan adanya labelisasi radikalisme kampus.
Baca: Salahkah bila Mahasiswa Turun Aksi Menanyakan Kepeminpinan Jokowi?
Tak tanggung-tanggung demi membungkam kekritisan mahasiswa ini kementerian riset dan teknologi pun turun tangan mengatasi hal ini.
Alhasil setiap lembaga-lembaga yang mewadahi kegiatan mahasiswa pun dicurigai bahkan ada yang telah dibekukan dengan alasan serupa yakni menjadi benih radikalisme. Inikah ruang demokrasi yang dielu-elukan bebas bersuara dan memberikan pendapat?
Yang justru kini difahami masyarakat bahwa ketika siapapun dia yang memiliki kekritisan terhadap kebijakan penguasa sekalipun ia berkata benar maka ketika hal itu dapat mengganggu kepentingan para penguasa harus bersiap dicap radikal. Hal itu sama saja sebagai upaya tak langsung untuk membungkam kekritisan rakyat, khususnya para mahasiswa.
Rakyat akhirnya hanya akan duduk pasrah menerima berbagai kebijakan meski hal itu mendzalimi mereka.
Mahasiswa tonggak kebangkitan umat
Sebuah paradigma berpikir yang tidak akan pernah terbantahkan bahwa sesungguhnya pemuda adalah sebuah tonggak perubahan. Di tangan merekalah kebangkitan sebuah bangsa berada. Para pemuda yang kritis dan cerdas lah yang dibutuhkan sebuah negeri untuk terus menuju kepada perubahan kehidupan yang lebih baik. Mereka juga tang akan menjadi pengganti pemimpin masa kini di masa depan.
Namun akankah sosok-sosok pemuda seperti ini muncul tatkala segala ilmu dan kecakapannya ini hanya berakhir di kursi pegawai atau karyawan perusahaan semata?
Tentu semestinya tidak demikian. Kampus sejatinya bukan hanya tempat bagi mereka menuntut ilmu namun juga sebagai wadah penggemblengan mental, kecakapan serta kepemimpinan mereka yang harus ditumbuhkan. Mereka di persiapkan untuk memiliki kekritisan dan keahlian dalam menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi di masyarakat agar mereka kelak mampu menjadi solusi ketika terjun ke tengah-tengah masyarakat.
Secara tidak langsung menjadikan mereka generasi yang siap mengarungi kehidupan dan menjadi tongkat estafet perjuangan kebangkitan umat.
Islam mampu lahirkan para pemuda tangguh
Islam sebagai agama paripurna telah menggariskan bagaimana seorang pemuda semestinya dibentuk.
Tidak pernah kita temukan dalam sejarah perjuangan dan kebangkitan umat Islam sosok pemuda yang lemah. Kita mengenal seorang Ali bin abi Thalib yang di usia belinya memiliki khasanah keilmuan yang luar biasa. Kita pun mengenal sosok Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel yang menjadi panglima perang di usianya yang masih muda.
Mungkinkah mereka lahir dari sebuah keterlenaan dan kenyamanan hidup ataupun berleha-leha dan hanya menyibukkan diri dengan pelajaran semata? Tentu tidak!. Mereka lahir dari kerja keras orangtua menghadirkan guru yang terbaik disamping pola pendidikan yang baik serta lingkungan tempat hidup yang baik. Yang tentunya semuanya itu diatur sesuai tuntunan Islam.
Bagaimana pola pendidikan di dalam Islam adalah bertujuan untuk menciptakan output-output pendidikan yang memiliki pola pikir dan pola sikap islami. Disamping dibekali dengan keterampilan-keterampilan penguasaan alat dan teknologi pada masanya, dibina dengan pembinaan intensif tentang tsaqofah Islam dan dilatih fisik serta mentalnya dengan kegiatan fisik sebagaimana yang Rasululloh contohkan.
Kecakapan dan kepemimpinan mereka pun dibentuk dengan suasana keimanan menjalankan kewajiban amar makruf nahi munkar serta menjadi tempat bertanya umat atas permasalahan umat. Hal inilah yang kini tidak dimiliki oleh sistem hidup selain sistem Islam. Sistem saat ini lebih memberi peluang kepemimpinan pada pribadi-pribadi yang lemah (mudah tergoda) akan harta dan kekuasaan. Tujuan materialistik ketika tercapainya sebuah kekuasaan menjadikannya melakukan berbagai hal demi kelanggengan kekuasaannya meski harus membungkam siapapun pihak yang tidak sejalan dengan kepentingannya, tak terkecuali kalangan intelektual seperti mahasiswa dan dosen.
Akhirnya kita hanya bisa berharap masih ada dan bahkan masih banyak para pemuda yang tegar menyuarakan aspirasi dan kebenaran serta keadilan di negeri ini. Jika telah padam api semangat perubahan di dalam dada para pemuda ini, maka bukan tidak mungkin kelak kita akan meninggalkan generasi yang lemah di masa mendatang. Dan kepemimpinan yang tangguh serta kebangkitan umat tiada kan terwujud.*
Sekretaris Komunitas Ibu Pecinta Ilmu Kota Tasikmalaya. Email: [email protected]