WALAUPUNA secara historis gerakan 212 dipicu oleh tuntutan penegakan keadilan secara hukum atas penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, sesungguhnya gerakan ini tidak sebatas berdimensi politik, tetapi juga peradaban.
Hal ini karena dalam gerakan 212 menyeruak tegaknya nilai-nilai moral, norma, etika, juga di dalamnya estetika. Tidak ada buang sampah sembarangan, tidak ada injak rumput, dan tidak ada kata-kata buruk. Semua itu adalah bagian dari indikasi kuat bahwa 212 bukan semata politik, tetapi lebih luas adalah peradaban.
Aspek itu telah mengundang perhatian publik secara lebih luas, tidak saja di Tanah Air tetapi juga mancanegara. Seperti yang kemarin terjadi (2 Desember 2019) seorang mantan gangster asal Kanada nimbrung acara Reuni Akbar 212.
“I have to see 212 with my own eyes,” kata pria bernama Ishaq ketika masih di perjalanan dari Bandung, Jawa Barat, Ahad (01/12/2019) seperti dilansir hidayatullah.com.
Dan, melalui akun twitternya @IshaqMustaqim pria bule itu menulis, “The 212 event went well. Alhamdoulillah. No violence. No disturbing the peace. No walking on grass. No garbage on the floor. We are Muslims.”
Dapat dianalisis secara sederhana, Ishaq tertarik datang ke 212 bukan lagi karena motif politik sebagaimana disangkakan oleh para pihak yang selalu gagal paham, tetapi lebih pada penegakan nilai keindahan, kebenaran, kecintaan pada alam dan peradamaian itu sendiri.
Oleh karena itu, tantangan umat Islam ke depan adalah bagaimana “mengkapitalisasi” gerakan 212 sebagai penggerak kesadaran umat akan pentingnya peradaban, sehingga keindahan dan kedamaian itu tidak berhenti hanya di Monas pada momentum dua Desember, tetapi berlanjut, mewujud di dalam keseharian umat dalam beragam aspek kehidupan, mulai ekonomi, politik, pendidikan, dan lain sebagainya.
Kesadaran yang mengarah pada titik tersebut akan sangat mungkin mengubah wajah umat Islam Indonesia, yang tidak lagi sebatas sebagai mayoritas, tetapi juga berpengaruh dalam menebar energi positif. Bayangkan kalau setelah 212 umat maju ekonominya, umat terdepan pendidikannya, sungguh sangat luar biasa.
Dalam pandangan Ibn Khaldun sepertinya apa yang ada dalam gerakan 212 akan menjadi pemantik tegaknya peradaban Islam itu sendiri.
Sebab setidaknya dengan hadirnya gerakan 212, tiga hal penting yang dapat mendorong kejayaan bangsa menurut Ibn Khaldun (seperti dikutip Syamsuddin Arif dalam buku Islam dan Diabolisme Intelektual) telah terpenuhi.
Tiga hal itu meliputi solidaritas, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, dan optimis dan kerja keras (Islam dan Diabolisme Intelektual, halaman: 189).
Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku menzalimi, membenci, dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi. Dalam aksi 212 sejauh ini hal itu adalah pemandangan lumrah.
Kedua, kuantiti dan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni. Dijelaskan, “Rakyat yang setia kepada negara akan bertambah makna strategis maupun dampak positifnya secara ekonomis dsb jika setiap individunya unggul dan mumpuni.”
Kita sudah melihat bahwa 212 telah melahirkan kesadaran ekonomi hingga lahir 212 Mart. Namun harus diakui masih butuh proses panjang, tetapi ini adalah sebuah indikasi penting yang jika dikuatkan akan menjadikan Islam tampil sebagai peradaban yang menginspirasi dan mendamaikan bumi.
Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. “Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong (la yahsaulu lahum zhafarun bi’l-munajazah),” ujar Ibn Khaldun.
Oleh karena itu, kepada segenap pihak, jadikanlah momentum 212 sebagai aset sejarah yang menggerakkan. Tanpa harus mempedulikan segala statement yang tidak konstruktif terhadap 212.
Karena sesungguhnya jika momentum penuh sejarah ini tidak mampu membuat kita optimis, lantas kapan kita akan segera sadar, bersatu, bangkit, dan membangun bangsa dan negara dengan sebaik-baiknya?*
Imam Nawawi