Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Peradaban dan Gerakan 212

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Desember 2019 09:54 9:54 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Desember 2019 09:54
Bagikan
Reuni 212 di lapangan Monas, Jakarta, 2019.
Bagikan

WALAUPUNA secara historis gerakan 212 dipicu oleh tuntutan penegakan keadilan secara hukum atas penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, sesungguhnya gerakan ini tidak sebatas berdimensi politik, tetapi juga peradaban.

Hal ini karena dalam gerakan 212 menyeruak tegaknya nilai-nilai moral, norma, etika, juga di dalamnya estetika. Tidak ada buang sampah sembarangan, tidak ada injak rumput, dan tidak ada kata-kata buruk. Semua itu adalah bagian dari indikasi kuat bahwa 212 bukan semata politik, tetapi lebih luas adalah peradaban.

Aspek itu telah mengundang perhatian publik secara lebih luas, tidak saja di Tanah Air tetapi juga mancanegara. Seperti yang kemarin terjadi (2 Desember 2019) seorang mantan gangster asal Kanada nimbrung acara Reuni Akbar 212.

“I have to see 212 with my own eyes,” kata pria bernama Ishaq ketika masih di perjalanan dari Bandung, Jawa Barat, Ahad (01/12/2019) seperti dilansir hidayatullah.com.

Dan, melalui akun twitternya @IshaqMustaqim pria bule itu menulis, “The 212 event went well. Alhamdoulillah. No violence. No disturbing the peace. No walking on grass. No garbage on the floor. We are Muslims.”

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Baca: ‘Spirit 212 Tak Akan Pernah Padam’

Dapat dianalisis secara sederhana, Ishaq tertarik datang ke 212 bukan lagi karena motif politik sebagaimana disangkakan oleh para pihak yang selalu gagal paham, tetapi lebih pada penegakan nilai keindahan, kebenaran, kecintaan pada alam dan peradamaian itu sendiri.

Oleh karena itu, tantangan umat Islam ke depan adalah bagaimana “mengkapitalisasi” gerakan 212 sebagai penggerak kesadaran umat akan pentingnya peradaban, sehingga keindahan dan kedamaian itu tidak berhenti hanya di Monas pada momentum dua Desember, tetapi berlanjut, mewujud di dalam keseharian umat dalam beragam aspek kehidupan, mulai ekonomi, politik, pendidikan, dan lain sebagainya.

Kesadaran yang mengarah pada titik tersebut akan sangat mungkin mengubah wajah umat Islam Indonesia, yang tidak lagi sebatas sebagai mayoritas, tetapi juga berpengaruh dalam menebar energi positif. Bayangkan kalau setelah 212 umat maju ekonominya, umat terdepan pendidikannya, sungguh sangat luar biasa.

Dalam pandangan Ibn Khaldun sepertinya apa yang ada dalam gerakan 212 akan menjadi pemantik tegaknya peradaban Islam itu sendiri.

Sebab setidaknya dengan hadirnya gerakan 212, tiga hal penting yang dapat mendorong kejayaan bangsa menurut Ibn Khaldun (seperti dikutip Syamsuddin Arif dalam buku Islam dan Diabolisme Intelektual) telah terpenuhi.

Tiga hal itu meliputi solidaritas, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, dan optimis dan kerja keras (Islam dan Diabolisme Intelektual, halaman: 189).

Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku menzalimi, membenci, dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi. Dalam aksi 212 sejauh ini hal itu adalah pemandangan lumrah.

Baca: Reuni 212 Bernilai Pendidikan Karakter bagi Anak

Kedua, kuantiti dan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni. Dijelaskan, “Rakyat yang setia kepada negara akan bertambah makna strategis maupun dampak positifnya secara ekonomis dsb jika setiap individunya unggul dan mumpuni.”

Kita sudah melihat bahwa 212 telah melahirkan kesadaran ekonomi hingga lahir 212 Mart. Namun harus diakui masih butuh proses panjang, tetapi ini adalah sebuah indikasi penting yang jika dikuatkan akan menjadikan Islam tampil sebagai peradaban yang menginspirasi dan mendamaikan bumi.

Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. “Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong (la yahsaulu lahum zhafarun bi’l-munajazah),” ujar Ibn Khaldun.

Oleh karena itu, kepada segenap pihak, jadikanlah momentum 212 sebagai aset sejarah yang menggerakkan. Tanpa harus mempedulikan segala statement yang tidak konstruktif terhadap 212.

Karena sesungguhnya jika momentum penuh sejarah ini tidak mampu membuat kita optimis, lantas kapan kita akan segera sadar, bersatu, bangkit, dan membangun bangsa dan negara dengan sebaik-baiknya?*

Imam Nawawi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aksi 212ekonomi umatperadabanreuni 212spiriti 212umat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muwafiq Sampaikan Permintaan Maaf soal Ceramahnya
Tulisan selanjutnya Tagar #KamiBersamaRasulullahSAW Trending Topic

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Berita
31 Agustus 2026 11:10
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?