Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Kado Ulang Tahun untuk Polri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Juli 2010 11:39 11:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Juli 2010 11:39
Bagikan
Bagikan

ADA sesuatu yang tidak lazim pada perhelatan hari Bhayangkara yang jatuh pada hari ini. Hari ulang tahun Polri kali ini diselenggarakan secara tertutup di Mako Brimob Kelapa Dua. Dengan latar pencitraan yang sedang guncang seperti saat ini, saya memandang format perayaan hari ulang tahun Polri itu sebagai bentuk perayaan yang tepat. Sudah semestinya demikian.

Intinya mawas diri dan mencoba tampil lebih bersahaja. Karena dengan reputasi yang anjlok, sungguh Polri tidak punya cukup alasan untuk merayakan hari jadinya dengan high profile dan gegap gempita.

Saya ingin membingkiskan satu kado bagi Polri. Kado tentang Kepala Polri yang akan datang. Ini perlu disinggung, karena Jenderal Bambang Hendarso Danuri tak berapa lama lagi akan memasuki masa pensiun.

Di masyarakat mulai mengemuka desas-desus tentang siapa yang akan menjadi pengganti BHD. Yang bikin agak cemas, tidak sedikit kalangan yang menilai para kandidat Kapolri yang baru belum ada yang benar-benar punya komitmen dan prestasi signifikan di bidang pemberantasan korupsi.

Tentu saja, sikap antikorupsi harus dipandang sebagai harga mati. Kontrak kerja yang tidak bisa ditawar-tawar. Namun yang perlu semua pihak ingat, porsi terbesar kerja kepolisian sesungguhnya bukan pada pemberantasan korupsi, yang termasuk dalam ranah penegakan hukum.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Lingkup kerja polisi yang paling besar adalah pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Jadi seorang Kapolri, hemat saya, idealnya adalah figur yang memang punya catatan kuat di tiga kegiatan tadi, yaitu pelayanan, pengayoman, dan perlindungan publik.

Torehan positif pada pembasmian terorisme, penangkapan koruptor, pembongkaran sindikat narkoba, pencidukan komplotan perdagangan manusia, memang penting. Tapi kepercayaan publik pada Polri sebenarnya tidak terlalu ditentukan oleh area-area kerja semacam itu.

Adrianus Meliala katakan, perhatian masyarakat terhadap Polri akan terhisap pada seberapa jauh Polri mampu menanggulangi kasus-kasus besar semacam di atas. Namun, kepercayaan publik adalah persoalan berbeda. Kepercayaan masyarakat akan tumbuh terpelihara berdasarkan kinerja aparat Polri dalam tugas keseharian yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat itu sendiri.

Apalagi, perlu digarisbawahi, karena penegakan hukum faktanya hanya sebagian kecil dari total kerja polisi, maka yang lebih penting adalah Kapolri mendatang dikenal dan dikenang sebagai perwira Tribrata yang berwibawa, hangat, dan dapat dibanggakan masyarakat.

Kita sadar, mencari kandidat Kapolri yang seperti itu bukan urusan mudah. Ibarat mencari manusia setengah dewa. Tapi juga bukan sesuatu yang mustahil.

Tahun 2007 silam, seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian menulis di media massa. Si mahasiswa, Ajun Komisaris Adi Sumirat namanya, merindukan tampilan polisi Indonesia yang lebih agamis. Adi yakin, pembenahan kinerja Polri bahkan perbaikan relasi antara Polri dan masyarakat akan bisa dilakukan apabila personel Polri berperilaku lebih religius.

Tidak butuh waktu lama bagi Adi untuk melihat kenyataan dari tulisannya itu. Di Jawa Timur, Irjen Anton Bachrul Alam (ABA) selaku Kapolda Jatim saat itu, menjalankan tugasnya dengan pendekatan yang begitu khas.

Tidak perlu terlalu banyak merujuk ke teori-teori Barat tentang bagaimana polisi berinteraksi dengan publik. Juga tanpa harus kongkow-kongkow di restoran-restoran, ABA mencoba mempererat hubungan antara polisi dan masyarakat dengan cara menyambangi masjid-masjid yang tersebar di Kota Pahlawan. Dengan pendekatan seperti itu, masjid-masjid di pelosok kota pun menjadi hidup. Di rumah Allah pula, masyarakat bisa menyaksikan langsung kesetaraan yang memang sepantasnya hidup di antara polisi dan masyarakat. Mereka bertakbir bersama, duduk bersila bersama, dan sujud bersama dalam satu shaf yang rapat dan lurus sebagai tanda kesempurnaan ibadah shalat.

Kegiatan harian berupa khatam atau menamatkan Al Qur’an, semakin memperkuat kesan positif tentang gaya kepemimpinan menenteramkan yang dihadirkan oleh ABA.

Tradisi baru yang dibangun ABA mengharuskannya untuk bangun pukul tiga pagi setiap hari. Bagi orang kebanyakan, ini jelas bukan perkara enteng. Apalagi ABA saban harinya juga terbiasa tidur sekitar pukul dua belas malam.

Apa yang bisa dilihat dari gaya perpolisian masyarakat ala ABA? Saya pribadi tidak melihat dirinya sebagai polisi tempur. Irjen Anton memurnikan kembali citra polisi yang sesungguhnya bukan melulu pasukan petarung.

Kita sebenarnya sudah lama paham, hati sebagian besar masyarakat bisa direbut lewat kegiatan keagamaan. Tapi sepertinya baru sekarang kita pantas gembira, setelah melihat adanya kesadaran di lingkungan Polri bahwa pendekatan keagamaanlah yang memang pantas diandalkan bagi manunggalnya Polri dan publik.

Tidak perlu alergi melihat jenderal polisi rajin ke masjid. Tidak perlu anti dipimpin oleh jenderal polisi yang pandai berkhutbah dan membaca kitab suci. Kita yakin, semakin dekat polisi dengan agama, semakin eloklah budi pekertinya. Semakin santun tindak-tanduknya, mudah-mudahan semakin bersih pula organisasi yang dipimpinnya.

Jika itu jadi kenyataan, semakin pantas pula si jenderal menjadi sosok teladan. Allahu a’lam.

Penulis dosen Psikologi Forensik, Universitas Bina Nusantara – Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perilaku Anak Berubah Setelah Nonton Video Mirip Ariel
Tulisan selanjutnya Anggota DPR dan Relawan RI Kembali Menembus Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Suriah Tangkap 9 Bekas Pilot Tempur Era Rezim Bashar al-Assad

Berita
12 September 2026 10:12
Negara-Negara Muslim Sambut Keputusan 12 Negara Barat Mensanksi ‘Israel’
Zionis Migrasikan Ribuan Yahudi ke ‘Israel’, Paling Banyak dari AS dan Rusia
Warga Thailand Demo Kedutaan ‘Israel’, Protes Kelakuan Wisatawan Zionis
Serangan Iran ke Pangkalan Yordania Dilaporkan Rusak Sejumlah Jet Tempur AS

Terbaru

  • Maladewa Peringati 900 Tahun Memeluk Islam
  • Anwar Ibrahim Serukan BRICS untuk Tolak Penjajahan dan Terorisme ‘Israel’
  • Bukan Sekadar Ngaji, Ini Cara Baru Belajar Islam ala SPI
  • Serangan Drone dari Iraq Merusak Pipa Minyak Arab Saudi, Melukai Sejumlah Orang
  • Turki akan Mengebor Minyak di Laut Hitam
  • Mahkamah Agung Tunisia Tolak Kasasi Puluhan Lawan Politik Presiden Kais Saied
  • QatarEnergy Berupaya Garap LNG Amerika Serikat Sampai 2031
  • Suriah Tangkap 9 Bekas Pilot Tempur Era Rezim Bashar al-Assad
  • Amerika Minta Libanon Formulasikan Rencana Perlucutan Senjata Hizbullah
  • Pengisi Utama Pro-Israel, Artis Portugal Berbondong-Bondong Tinggalkan Festival Lisbon

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?