Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Penolakan Miss World Bukan Soal “Bikini”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 April 2013 00:00 12:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 April 2013 00:00
Bagikan
Sungguh aneh jika ada kalangan muslim yang mendukung ajang maksiat ini
Bagikan

INDONESIA, untuk kali pertama didaulat menjadi tuan rumah Miss World 2013. Sebanyak 130 kontestan akan berkompetisi untuk meraih mahkota wanita tercantik sejagad. Miss World 2012 Yu Wenxia dari RRC akan datang dan menyematkan pada pemenang Miss World 2013. Hingga Jumat (5/4/2013) sudah 39 kontestan konfirmasi untuk mengikuti ajang kontes kecantikan itu.

Indonesia diwakili Miss Indonesia 2013 Vania Larissa. Sementara itu, menurut missindonesia.co.id, Chairwoman Miss Indonesia Organization Liliana Tanoesoedibjo, lebih dari 100 negara telah memiliki hak siar untuk acara final Miss World. Malam final akan disiarkan ke 140 negara. Hak siar di Indonesia dipegang MNC Group (hidayatullah.com)

Rencananya, karantina peserta dilaksanakan di Nusa Dua Bali.  Sedangkan puncak acara digelar di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Jabar, 28 September 2013. Sedangkan malam penobatan digelar di Sentul International Convention Center Bogor.

Gubernur Ahmad Heryawan pun mendapat kecaman setelah pernyatannya,  “Ajang Miss World ini berbeda dengan ajang sejenis lainnya karena saat puncak acara tidak menggunakan bikini, Insya Allah lebih sopan,” katanya.

Umat Islam Bogor yang terdiri dari para ulama, umaro dan aktivis dakwah dari berbagai ormas dan lembaga Islam dengan tegas menyatakan penolakannya atas rencana digelarnya Miss World 2013, baik di Bogor maupun di seluruh wilayah Indonesia.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Para pimpinan ormas Islam itu dalam pernyataan sikapnya, meminta kepada pihak pemerintah, melalui Walikota Bogor, Bupati Bogor, Kapolres Bogor, Gubernur Jawa Barat, Kapolda Jawa Barat, maupun instansi lainnya agar tidak mengijinkan acara Miss World tersebut.

Dalam acara milad ke 13 Keluarga Muslim Bogor (KMB), Sabtu 06/04/13, sejumlah elemen Islam diantaranya MUI Kota Bogor, FKUB, ormas Muhammadiyah, NU, Persis, Aisyiah, HASMI, HTI, Fos Armi, Garis, BSMI, FUI, PPI, dan dari kalangan partai seperti PAN, PPP, PBB, serta elemen umat Islam lainnya. Mereka sepakat menandatangani pernyataan menolak gelaran yang akan disaksikan publik dunia itu. 

Bukan Sekedar Bikini

Penolakan ajang Miss World wajar terjadi. Selama ini “hanya” mengirimkan duta kontes kecantikan tingkat internasional saja ditentang masyarakat, khususnya umat Islam. Apalagi bila penyelenggaraannya di Indonesia.

Alasan ¨tanpa bikini¨ tidak bisa diterima, mengingat ajang kontes kecantikan bukan sekadar masalah bikini. Itu terlalu dangkal. Kontes kecantikan itu menyangkut ideologi. Apapun namanya, kontes kecantikan itu benang merahnya cuma satu: mencari perempuan tercantik fisiknya untuk dieksploitasi. Itu sudah menjadi ideologi kontes kecantikan sejak dulu.

Apalagi Miss World, sejarah pertama dicetuskannya memang untuk mencari model pakaian renang alias bikini. Sudah tentu yang dijual adalah kemolekan tubuh para perempuan itu. Kontes kecantikan hanyalah stempel bagi legalisasi eksploitasi tubuh perempuan agar tampak elegan.

Mendukung ajang ini sama saja dengan melanggengkan penjualan tubuh perempuan. Sungguh aneh jika ada kalangan muslim yang mendukung ajang maksiat ini.

Sebab, Islam menempatkan perempuan pada posisi mulia, sebagai kehormatan sebuah keluarga bahkan sebuah bangsa. Perempuan harus dihargai, bukan dieksploitasi. Penyematan gelar tercantik bukanlah bentuk penghargaan, jika ujung-ujungnya mereka ¨dijual¨ sebagai daya tarik sebuah komoditi.

Nilai seorang perempuan ditentukan oleh ketakwaan dan sumbangsihnya bagi kebaikan dan perbaikan masyarakat. Karenanya perempuan yang mulia bukanlah yang paling aduhai bodinya, mulus kulitnya atau proporsional ukuran fisiknya, melainkan yang berdedikasi mencurahkan waktu, ilmu dan hartanya untuk kemaslahatan masyarakat.

Jahiliyah Modern

Kontes kecantikan adalah bagian dari industri kapitalisme, dimana perempuan menjadi ujung tombaknya. Perempuan cantik diorbitkan untuk mendongkrak image sebuah produk. Mereka menjadi pion-pion para sponsor yang terlibat dalam ajang tersebut. Seperti produk pakaian, baju renang dan kosmetik.

Kontes kecantikan tidak akan mendatangkan kehormatan bagi kaum perempuan. Sebaliknya, kontes ini justru merontokkan harkat dan martabat kaum perempuan. Perempuan kembali hanya dilihat dari segi penampilan fisiknya saja. Sungguh rendah. Persis seperti zaman jahiliyah.

Ini jelas suatu memunduran atas apa yang disebut sebagai perjuangkan harkat dan martabat perempuan. Ironisnya, para pejuang perempuan yang katanya memperjuangkan kesetaraan perempuan itu, diam seribu bahasa. Seharusnya mereka yang jadi terdepan menentang kontes-kontes yang melecehkan kaum perempuan. Bukankah selama ini mereka selalu mengembar-gemborkan agar kaum perempuan tidak dijajah dan dieksploitasi?

Liberalisme Budaya

Tentu bukan kebetulan jika Indonesia dipilih sebagai tuan rumah perhelatan Miss World 2013. Padahal, belum pernah ada kontestan Indonesia tahun-tahun sebelumnya yang memenangkan selempang Miss World. Ada motif ideologis sekaligus ekonomis di baliknya. 

ideologis, yakni mengingat posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dalam kancah percaturan global, negara ini semakin dipandang sebagai kiblat dunia muslim. Penerimaan Indonesia atas Miss World akan meneguhkan opini bahwa Islam tidak mempermasalahkan  eksistensi perempuan melalui kontes kecantikan. 

Hal ini akan menjadi model bagi negeri-negeri muslim lain agar lebih toleran dan terbuka terhadap ¨kemajuan¨ kaum perempuan. Dari sinilah dijajakan pemahaman tentang kebebasan berekspresi dan gaya hidup hedonis. Pemenang kontes kecantikan akan menjadi ikon bagi perempuan, termasuk para muslimah dalam memandang makna kebahagiaan hidup, yakni berupa kecantikan, ketenaran dan berlimpahnya materi.

Adapun motif ekonomis, sangat jelas karena pupulasi 250 juta penduduk negeri ini adalah market menggiurkan bagi penjualan berbagai komoditi. Pemegang hak siar malam final Miss World yang di Indonesia di tangan MNC misalnya, dipastikan akan meraup pundi-pundi rupiah dari para pemasang iklan yang mengerubutinya. Belum lagi penjualan produk-produk para sponsor.

Bukan tidak mungkin, demi memuluskan dua motif itu, gelar Miss World pun akan disematkan kepada kontestan tuan rumah. Jika itu terjadi, sungguh bukan sebuah kebanggaan melainkan petaka yang memalukan. Naúzubillah.*

Penulis Buku “Indonesia Dalam Dekapan Syahwat”

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ikhwan Rilis Buku Prestasi Presiden Mursy
Tulisan selanjutnya Di Mesir, Taufiq Ismail Menyindir Ariel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Berita
31 Agustus 2026 06:08
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?