Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Panggilan untuk Peduli Dunia Muslim yang Menderita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Agustus 2013 11:30 11:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Agustus 2013 11:30
Bagikan
Di saat kaum bergembia menyambut Ramadhan, ibu dan anak-anak Suriah justru menderita
Bagikan

Oleh:  Evi Marlina

HASTAGH #SaveEgypt menggelombang,  membanjiri dunia jejaring social. Salah satunya akun twitter. Sebuah pertanyaaan muncul pasca krisis Mesir. “Di mana hati nurani kita?”  atas kasus pembantaian 200 jiwa syuhada Mesir yang tertuduh sebagai “teroris” oleh Jederal  Abdul Fattah al-Sissi beserta militer pengkudeta presiden Mursy di malam ke 27 Ramadhan?

Di saat di seberang dunia yang berbeda milyaran umat Islam tengah merayakan sahur dengan menu istimewa atau di seberang dunia yang lain umat Islam tengah mengutuk hidangan berbuka puasa yang kurang garam atau kurang sedapnya lauk pauk. Mungkin kita menjadi bagian dari salah satu yang lalai untuk bersyukur atas menu sahur di malam pembantaian itu, na’udzubillah.

Adalah sebuah pernyataan tegas dan lantang dari Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan yang disampaikan saat iftar bersama serikat pengusaha Turki di Istanbul 28 Juli lalu. “Dunia Muslim, saudara-saudara Anda di bantai. Kapan Anda peduli?”

Pertanyaan Erdogan ini menjadi daftar menu deret kewajiban kita untuk wajib peduli. Cukuplah ini menjadi tamparan tajam untuk kesekian kalinya yang harus mampu membuat hati kita lebih peka. Dunia Muslim memanggil hati kita.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Mari sejenak kembali belajar dari muslim Palestina. Negeri al-Quds yang mahasiswanya menyebar dan menggurita. Mereka belajar dengan penuh kesungguhan meski terbata-bata. Sungguh, saya menyaksikan bagaimana salah seorang teman kelas bahasa Turki saya yang meninggalkan keluarga dan negerinya di tengah berkecamuknya perang Palestina dan memutuskan belajar di Turki.

Saya tahu betapa ia mengalami kesulitan dalam belajar bahasa. “Wa’allahi hocam”(Demi Allah hocam) Saya sudah belajar menulis 20 Essay menjelang ujian untuk mempersiapkan ujian essay bahasa Turki.”

Betapa kesungguhannya memutus “kesulitan belajar bahasa” yang ia sampaikan saat entah yang kebarapa kalinya Hoca [guru] bahasa Turki mengatakan bahwa ia bermasalah dalam mata pelajaran menulis essay bahasa Turki.

Mari bercermin dari semangat ruh belasan teman Palestina yang menggelar presentasi di depan mata teman-teman internasionalnya. Ia bersuara lantang di tengah kampus negera Kemalis, menyampaikan apa yang tengah terjadi di negerinya. Menyerukan kebenaran. Membuka dan memanggil kembali jiwa-jiwa yang lalai akan “definisi perduli.”

“Kami hanya memiliki batu dan jiwa yang berserah diri pada setiap sujud-sujud di penghujung malam-malam kami,” ungkap mereka pada akhir penutupan presentasi sembari menyebarkan majalah dan selebaran masjid al-Quds. Dunia muslim memanggil hati kita!

Jika kita salah satu yang melupakan secara sadar akan kasus pembantaian saudara seiman oleh aksi genosida terhadap Muslim Rohingya di Myanmar pada tahun 2012. Baru saja beberapa bulan berlalu. Maka Ramadhan ini adalah Ramadhan yang sesak bagi hati sejatinya, jika kita secara sadar menjadi penonton yang melihat tanpa suara dan tidak berdenyut nyeri hati sekali pun.

Berapakah korban kasus pembantaian saudara Muslim Rohingya? Adakah kita rasakan hati kita bergetar nyeri menyaksikan kabar berdarah pembantaian jiwa saudara muslim? Dunia Muslai memanggil kita!

Kitalah saudara seiman mereka. Masihkah kita menyimpan perih atas perang berdarah di Suriah? Hingga detik ini, jika kita lupa, mari sejenak membuka tirai berdarah merahnya di Ramadhan ke 21 ini.

2.014 jiwa yang meninggal dalam perang Suriah sejak di mulainya Ramadhan pada 10 Juli bulan ini. 105 di antaranya anak-anak dan 99 wanita. Masih adakah gelombang perih di hati kita dengan terbunuhnya jiwa-jiwa akibat perang yang saat detik ini pun masih berlangsung di Suriah?

Suriah tidak meminta kita berpura-pura seolah mendengar desing pesawat dan hujan tembakan pelurunya. Cukuplah sebuah tanya masih adakah ruang kepekaan di hati kita? Karena saudara terdekatnya adalah kita, seorang Muslim. Tidak ada yang lain.

Mari belajar dari seorang ibu yang usianya sekitar 43 tahun di suatu sore di Turki. Ketika itu, saya baru saja merampungkan shalat Maghrib di Masjid Sultan Mahmet atau dikenal Blue Mosque, Istanbul.

Di sana duduk dua adik tingkat saya dan seorang ibu berpakaian dan berjilbab hitam. Khas pakaian Arab, Ditemani beberapa tangkai butir anggur dan biscuit. Tidak ada percakapan yang panjang di antara mereka, setelah akhirnya saya ketahui bahwa ibu itu berbahasa Arab.  

“Saya seorang Suriah. Ramadhan ini hijrah ke Turki karena perang masih berkecamuk di Suriah. Kedua orangtua saya meninggal karena pembunuhan perang, demikian pula dengan suami saya,” lalu diam cukup lama.

“Insya Allah mereka syahid di Jalan-Nya,” lanjutnya.

“Saya memiliki empat orang anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan,” lalu ia diam lagi.

Cukup lama saya dan kedua adik tingkat saya menjadi pendengar. Malu rasanya hanya menjadi pendengar.

“Ambillah ini untuk kalian,” tangannya menyodorkan dua bungkus tisu basah. Saya tahu tisu itu adalah yang biasa di jual ibu-ibu lanjut usia Turki.

“Apakah ibu menjual tisu ini untuk kamim,” tanya saya ketika ia memaksa saya menerima tisu itu. Saya berfikir sang ibu sangat membutuhkan uang.

“Tidak nak, ambillah tisu ini. Kalian seperti anak-anak saya. Ambillah tisu ini,” katanya sekali lagi sembari memelukku.

Hati saya makin berdenyut ketika ia mengajak berbuka bersama. “Makanlah nak, silahkan berbuka. Saya sudah makan,” jawabnya sekali lagi.

Kami memutuskan pamit sebelum akhirnya ia memberikan belasan permen manis untuk bekal kami di jalan ketika saya menjelaskan bahwa malam itu saya akan pulang ke Ankara.

“Ambillah ini untuk bekal di jalan,” katanya. Saya tidak tahan berdiri di depan ibu itu. Hati dan mata saya terus berdenyut.

Mari kita cermati. Ibu ini adalah korban perang Suriah yang kehilangan anak, suami dan keluarganya.  Ia tidak hanya kehilangan rumah dan tanah airnya, tapi semua jiwa-jiwa terdekatnya. Jiwa macam apakah yang masih mampu memberi, peduli dan berbagi dengan tulus dan tanpa pamrih?

Sudah tidak ada lagi yang ia miliki selain kesetiaan pada keyakinan akan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala yang jauh lebih dekat dengan urat nadinya.  

Ternyata memberi dan peduli bukan perkara sederhana. Banyak negara memiliki alat-alat pertahanan canggih;  tank, senjata-senjata modern yang siap menyalak melawan musuh sewaktu-waktu. Tapi mereka tak mampu dan tak memiliki  kepedulian terhadap sesama, sekali pun yang berteriak merintih adalah jiwa seiman yang dibantai pada malam suci Ramadhan.

Belajar dari ibu asal Suriah yang hingga kini belum sempat aku tanyakan namanya itu, sesunggunya “peduli” itu sesuatu yang mahal harganya.

Kenyataannya, meski banyak di antara kita sudah pernah berhutang budi (termasuk Negeri kita Indonesia yang banyak berhutang budi pada Negara-negara Timur Tengah selama masa-masa kemerdekaan) belum juga cukup menjadi gelombang penggerak “hati dan fikiran” untuk memberi dan menjadi peduli terhada sesama saudara kita sendiri.*/Ankara, 21 Ramadhan 1434 H  

Penulis adalah Master Student Education Psychology Ankara Universitesi, Turkey

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dunia muslimhutang budiindonesiakepedulianMesirpedulisuriahTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Konflik yang Terjadi di Iraq dan Suriah Bisa Saja Terjadi di Indonesia
Tulisan selanjutnya Pendidikan yang Melembutkan Hati Anak-anak Kita! (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?