Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pantaskah Menafsirkan Tuhan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 September 2014 09:09 9:09 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 September 2014 09:09
Bagikan
Spanduk acara ospek UIN Sunan Ampel yang jadi kontroversi
Bagikan

Oleh: Puput Wahyudi Z.P, S.Sos.I

TEMA besar  kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) 2014 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNISA) Surabaya “Tuhan Membusuk”[Konstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan] secara dahsyat terus menyebar di media massa, jejaring sosial bahkan televisi.

Banyak orang gempar membicarakan ulah nakal oknum mahasiswa dalam kalimat “Tuhan Membusuk” ini.

Betapapun sudah ada “bayan” dari pelaku pembuat tema tersebut, berita sudah menyebar tidak hanya di dalam negeri bahkan sudah sampai ke mancanegara termasuk Turki dan Mesir.

UINSA panen gugatan pelecehan agama. Sebagai warga negeri ini saya merasakan sekali, masyarakat tidak mau tahu plesetan “bayan” yang ada, faktanya stigma negative yang muncul.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Memang dalam literatur Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak tercantum kata “Tuhan” namun lebih dikenal kata “Allah”.

Tuhan, kata Adolf Houken, peneliti sejarah Melayu, justru berasal dari bahasa melayu dari “tuan” yang ditambah “h” menjadi tuhan seperti kata “apus” menjadi hapus, “utang” menjadi hutang.

Namun jangan salah, kata tuhan secara historis telah disepakati bangsa Indonesia menjadi jalan tengah pertikaian istilah masing-masing agama sebagai sinonim keberagaman antar pemeluk agama untuk menyebut “yang dipuja dan disembah”.

Bahkan kata “Tuhan” dimasukkan dalam Pancasila sila pertama “ke-Tuhan-an Yang Maha Esa”. Sebuah kesepakatan yang tidak mudah dalam mendefinisikan Tuhan. Kata “Tuhan” menjadi sakral dan milik semua agama yang tidak boleh disalahgunakan.

Bahkan sopannya, untuk bisa mendefinisikan kata “Tuhan” dengan penafsiran lain haruslah mendapat persetujuan dari bangsa ini.

Namun kini, agar dianggap filosofis ada mahasiswa Fakultas Ushuluddin UINSA Surabaya menafsirkan kata “Tuhan” dengan penafsiran lain, bahkan mengkesampingkan historical maupun epistimologinya hanya dengan tafsir Nietzche, sang Atheis Jerman.

Siapapun yang memuja pemikiran filsafat Nietzche akan ketuhanan, dia tetaplah tokoh Atheis sepanjang sejarah yang dunia mengakui perjalanan hidupnya. Isi perkataanya di buku “God is Death” cukup untuk membuktikanya. Bagi Niectzhe yang Atheis mungkin dimaklumi karena dia membenci Tuhan dan kekuasaan yang mengekang.

Namun bagi kita yang beragama, terlalu tergesa-gesa mengambil sudut pandang Nietzche guna menilai segala sesuatu dngan memburukan Tuhan. Jadi jangan salahkan masyarakat jika menyebut ini pelecehan agama, karena ada benarnya.

Bagi mereka “Tuhan membusuk” adalah orang-orang yang menghancurkan nilai-nilai ketuhanan dengan mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingannya. Termasuk membunuh, merampok, mencuri, korupsi dll para fundamentalis islam masuk dalam tafsir penjelasan mereka.

Tapi sayang penempatan kata “Tuhan” tidaklah bijak sebagaimana mestinya. Sifat manusia yang berdosa dinisbatkan ke Tuhan.

Pertanyaanya “Siapakah yang mengaku menjadi Tuhan dan mendeklarasikan dirinya Tuhan? Sehingga begitu mudah Tuhan di plesetkan sebagai kambing hitam?

Bagi merka yang berbuat salah karena membunuh, mencuri, korupsi, dll atas segala kejahatan mereka tidak akan mengatas namakan tuhan atau nilai-nilai agamanya atas perbuatannya, namun sebagai kesalahan pibadinya sebagai manusia yang khilaf. Apakah cara menghukumi seorang muslim yang bersalah harus mengikutsertakan tuhan telah membusuk? Lagi lagi Tuhan kena getahnya.

Cukuplah manusia itu salah atas apa yang dikerjakannya, tidak tepat mendramatisir mereka “Membusukkan Tuhan” apalagi “Tuhan membusuk”.

Tafsir bias yang menyesatkan akan selalu membingungkan sebab sifat kejahatan manusia disamakan dengan tuhan yang sakral, seperti jauhnya langit dan bumi.

Membenarkan tafsir yang mereka sampaikan sama halnya membenarkan tafsir bebas akan tuhan. Bahkan mungkin kedepan bagi mereka, kata “Allah” pun akan mereka definisikan dengan tafsir liberal lainnya.

Orang akan bebas bicara Tuhan bahkan dalam hal-hal yang jorok untuk mengkritik maupun menghujat.

Seharusnya jika kita mengusung istilah kosmopolitan tidak perlu berlebihan membuat tema“ Tuhan Membusuk”. Sebab kata “tuhan” adalah sakral bagi semua umat agama, justru sangat mnyakiti umat jika digunakan bukan pada tempatnya.

Jadi sesungguhnya yang mengaku sedang mengusung ide ‘Islam kosmopolitan’ justru menghancurkan arti kosmopolitan dengan tafsir sendiri. Sebab, mencuri dan menyelewengkan istilah yang benar ke wilayah yang salah adalah kejahatan intelektual.*

Penulis adalah alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA Surabaya) tahun 2010 dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:IAINperguruan tinggi islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menjadi Muslim Berakhlak Mulia
Tulisan selanjutnya Anggota Hizbullah Tewas Terkena Ledakan Peralatan Intelijen Zionis Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?