Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Menerka Tangan Gaib di Balik Serangan pada Charlie Hebdo (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Januari 2015 07:01 7:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Januari 2015 07:01
Bagikan
Pelaku penyerangan Charlie Hebdo tampak terlatih dan profesional. Tetapi menjadi tidak profesional saat identitasnya tertinggal di mobil. Apakah mereka orang yang sama?
Bagikan

Dr PAUL yang juga editor di Wall Street Journal menyatakan, teka-teki juga timbul dari cerita resmi yang belum dilaporkan adalah mengenai tindakan bunuh diri dari aparat polisi yang terlibat dalam penyelidikan serangan Charlie Hebdo, Helric Fredou. Polisi malang ini disebutkan bunuh diri pada tengah malam saat membuat laporan hasil penyelidikannya. Ajaibnya, kasusnya tidak dilaporkan oleh media utama AS.

Versi resmi terhadap Fredou bahwa ia menderita “depresi” dan “letih ” tanpa ada penjelasan dan bukti lebih lanjut. “Depresi” dan “letih ” agaknya jawaban standar pada kematian secara misterius terkait implikasi tanpa solusi.

Insiden kali ini dapat dilihat bahwa media cetak dan TV AS bertindak sepenuhnya selaku mesin propaganda untuk Washington. Alih-alih melakukan penyelidikan, media sekadar mengulang informasi pemerintah yang tidak masuk akal.

Insiden ini menyebabkan kita berpikir dan merenung, apa benar Muslim lebih marah karena kartun satir oleh majalah Charlie Hebdo tersebut dibandingkan dengan ribuan umat Islam yang dibunuh oleh armada militer Washington, Prancis, dan NATO sejak 14 tahun terakhir?

Jika saja umat Muslim mau bertindak terhadap publikasi kartun-kartun tersebut, mereka bisa saja menuntutnya atau mendakwa atas kejahatan kebencian? Majalah Eropa tidak ada yang berani mempersendaguraukan bangsa Yahudi, sebagaimana Charlie Hebdo lakukan terhadap orang Muslim. Faktanya, orang Eropa bisa dipenjara karena ingin menyelidiki holocaust.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Kalau pun tindakan hukum oleh kalangan Muslim terhadap Charlie Hebdo dikesampingkan oleh pemerintah Prancis, maka kalangan Muslim masih bisa menerima, dibanding dengan melakukan serangan dan pembunuhan yang justru hanya memberikan imej jelek kepada orang Muslim, yang pada akhirnya hanya mengundang tindakan Washington memerangi negara-negara Islam.

Sehubungan itu Dr Paul bertanya, jika benar orang Muslim bertanggungjawab atas serangan terhadap Charlie Hebdo, apakah tujuan yang ingin dicapai? Tidak ada satu pun jawaban untuk ini. Bukankah serangan ini hanya akan menghilangkan simpati dan dukungan Prancis serta Eropa atas Palestina dan penentangan Eropa terhadap kebanyakan serangan-serangan AS terhadap negara dan orang Islam.

Perlu dicatat, baru-baru ini Prancis mendukung Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memilih menentang kebijaksan AS-Israel. Pendirian dan kebijakan luar negeri Prancis ini tidak sesuai dengan kebijakan AS-Israel, diperkuat lagi Presiden Perancis menyatakan, sanksi ekonomi terhadap Rusia harus dihentikan.

Jelas, Prancis semakin memperlihatkan kebijakan luar (negeri)nya yang bebas. Ini bukanlah suatu yang menyenangkan bagi Washington, juga Tel Aviv. Sebab itu serangan terhadap Charlie Hebdo sebenarnya bertujuan menempatkan, atau membuat Prancis sebagai sapi yang bisa dicucuk hidungnya bagi Washington. Maka, pembenaran di balik serangan ini sudah dapat dilihat. Ini bukanlah disebabkan oleh “kemarahan orang Islam”, tetapi merupakan percaturan politik internasional untuk dalam menguasai dan berkuasa.

“Jadi adalah sangat bodoh orang Muslim menembak kepala mereka sendiri dengan cara begini. Sama pula kebodohannya yang menyamakan tuduhan orang Muslim terlibat dalam serangan 9/11, dengan serangan profesional Charlie Hebdo?” kata dia.

Jika kita percaya versi resmi bahwa serangan 9/11 terhadap AS melibatkan 19 orang Muslim, yang umumnya warga Arab Saudi –jika tanpa adanya dukungan intelijen atau pemerintah (AS)– maka dapat dikatakan, mereka adalah orang-orang cemerlang yang dapat mengalahkan kehebatan semua institusi keamanan AS, termasuk Dewan Keamanan Nasional, Dick Cheney, dan semua faksi neokonservatif yang memegang posisi tinggi dalam pemerintah AS. Juga mengalahkan pihak keamanan bandara, bahkan lembaga keamanan dan intelijen di seluruh Eropa dan Mossad.

Jadi bagaimana bisa “orang-orang dapat mempermalukan negara adi kuasa tanpa kesulitan”, dengan secara tiba-tiba melakukan tindakan bodoh dengan menembak kepala sendiri, padahal mereka sebenarnya dapat bertindak terhadap Prancis (Charlie Hebdo) melalui tindakan hukum?

Cerita versi resmi Charlie Hebdo ini memang tidak masuk akal. Jika Anda mempercayainya, maka Anda bukanlah orang Islam sesungguhnya.

Orang yang berpikiran bahwa pelaku serangan adalah kelompok ahli, pasti akan mengatakan, “serangan rekayasa” di Prancis itu mustahil tanpa kerjasama dengan intelijen negara itu. Secara praktis dan pasti, dalam hal ini CIA lebih berkuasa atas intelijen Prancis, dibandingkan Presiden Prancis sendiri.

Buktinya Operasi Gladio. Sebagian pemimpin pemerintah Italia tidak percaya serangan bom dilakukan oleh CIA dan intelijen Italia. Serangan itu ditargetkan pada wanita dan anak-anak Eropa dengan tujuan menempatkan kesalahan pada partai komunis di Italia, dan serangan itu telah berhasil meruntuhkan dukungan pemilih terhadap komunis pada pemilu Italia.

Serangan (yang dilakukan) CIA dan intelijen Italia itu, telah mengkambinghitamkan faksi komunis Italia. Bukankah ini mainan kotor tangan yang tersembunyi. Jadi apakah cerita yang sama mungkin diulang kembali di Paris? Faktanya, banyak operasi rekayasa yang melibatkan CIA, Mossad dan sekutu intelijennya, terbongkar kasusnya.

Hal menarik di ujung versi resmi atas serangan terhadap Charlie Hebdo adalah pengakuan Al-Qaidah Yaman bahwa mereka bertanggungjawab melakukan serangan terhadap Charlie Hebdo. Skenario dan jalan ceritanya tidak berbeda dengan perihal peristiwa 9/11 yang menjadi dasar besar AS mengganyang Afghanistan.

Jadi setelah kondisi tidak menentu di Yaman akibat pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintah dan antara faksi, apakah mungkin Charlie Hebdo merupakan “lisensi kuat” bagi Washington dan NATO untuk memburu Al-Qaidah –sekali lagi– dan (menyerang) Yaman, atas nama “Perang Melawan Terorisme?*

Ditulis oleh Iman Hakim, dimuat pada laman FMT News. Sebagian tulisan diedit untuk penyesuaian kebahasaan.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menerka Tangan Gaib di Balik Serangan pada Charlie Hebdo (1)
Tulisan selanjutnya Tiga Perkara yang Harus Selalu Ada dalam Hidup Kita

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Berita
3 September 2026 09:53
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?