Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Rezim Jokowi: Antara Korupsi dan Aliran Sesat [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Februari 2015 21:04 9:04 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Februari 2015 06:15
Bagikan
Bagikan

Oleh: Aktifanus Jawahir

Sambungan artikel PERTAMA

KINI sudah empat presiden yang menggantikan Prof Dr Ing BJ Habibie sebagai Presiden Indonesia, namun apa perubahan dan pembaharuan yang telah mereka lakukan?

Inilah pertanyaan yang terus terbersit dalam fikiran rakyat Indonesia, terutama oleh pengamat dan analis politik serta pakar ekonomi.

Semasa BJ Habibie menggantikan Soeharto banyak reformasi dan perubahan yang dilakukan; mulai dari dibolehkannya kembali menggunakan Islam sebagai dasar atau asas perjuangan partai politik dan ormas-ormas Islam serta berdirinya beberapa partai politik Islam dan bernuansa Islam.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Dalam bidang ekonomi turunnya nilai atau kurs dollar dari Rp 18.000,- turun menjadi Rp 6.500,- persatu dollar US.

Dalam bidang kebebasan bersuara dan media, boleh berdemontrasi dan media cetak atau elektronik bebas dalam batas dan garis yang bias dipertanggungjawabkan, walaupun selalu juga kebablasan tanpa kawalan akhlak dan moral, begitu dikuranginya sistim protokoler dan pengawalan serta pengamanan presiden yang sangat berlebihan, Habibie begitu akrab dengan awak media yang ditugaskan di lingkungan istana dan meliput kegiatan presiden dan para menteri.

Presiden juga bisa bercanda dan bergurau dengan pimred dan awak media lainnya, inilah kelebihan BJ Habibie seorang Muslim yang shaleh. Ini nampak berbeda dengan presiden sebelum dan sesudahnya. Termasuk mantan Presiden SBY dan kini Presiden Jokowi. Hanya faktanya, Jokowi saat ini adalah Presiden Indonesia.

Bagaimanapun, kita harus tetap kritis mengkritik dan  menegur kebijakan Jokowi tentu dengan cara yang beradab dan sopan. Sebab, menegur ini karena firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam rangka amar makruf nahi munkar.

Memang Jokowi tidak jadi melantik Jenderal Polisi Drs Budi Gunawan, menggantinya dengan Komjen Drs Badrodin Haiti, tetapi pada masa yang sama Jokowi mengganti dua orang pimpinan KPK dengan tiga orang Plt yang berdasarkan informasi dua orangnya tetap bermasalah.

Apakah ini untuk melindungi orang-orang di belakang Jokowi yang bermasalah dengan kasus BLBI dan lain-lainnya?

Bagaimana pula dengan citra atau imej Jokowi yang dikenal bersih atau anti korupsi ini?

Sebaiknya para ulama atau da’i di Indonesia tetap terus mendakwahi Jokowi agar dia terlepas dari sejarah hitam atau latar-belakang keluarganya. Lebih afdhal lagi jika kita berhasil memisahkan Jokowi dengan PDI-P yang jelas fakta sejarahnya bermula dengan PNI, di mana dikenal sangat tidak mesra dengan Islam dan gerakan-gerakan Islam.

Tiada artinya ‘Revolusi Mental’ yang menghabiskan dana Rp 14 trilyun, jika pijakan  atau dasar revolusi mental itu saja tidak jelas.

Sebaiknya, Jokowi yang sudah menunaikan haji dan umrah ke Makkah ini alangkah baiknya kembali kepada Islam yang syumul, dengan segenap dimensi dan segala aspeknya. Ke depan Jokowi tiada pilihan lain kecuali memantapkan diri dan pemerintahannya dengan sinergi iman yang mantap dan kuat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Kita harus jujur mengatakan Jokowi memang bukanlah seorang intelektual apalagi cendikiawan. Walaupun dia seorang insinyur kehutanan, makanya perlu mengasah dirinya dengan lebih cermat dan bijak untuk berfikir dan bertindak lebih intelektual, untuk akhirnya menjadi seorang cendikiawan yang mampu berfikir lebih matang dan lebih dewasa. Sehingga nantinya dia bukan hanya sebagai politikus tetapi akan naik kelas menjadi negarawan.

Bukan hanya berfikir untuk kepentingan diri sendiri keluarga dan partainya, tetapi lebih mengutamakan kepentingan agama untuk kesejahteraan rakyatnya. Barulah dia akhirnya dia dicintai dan disayangi oleh mayoritas rakyatnya, barulah rakyat menilai Jokowi bukan seorang pemimpin yang lamban dalam berfikir bersikap dan bertindak.

Waktu yang ada ini seharusnya digunakan sebaik-baiknya oleh Jokowi untuk menunaikan janji-janjinya. Jokowi juga harus mampu melakukan pembaharuan dan reformasi, terutama dalam memperbaiki ekonomi dan kembali mempertahankan nilai kurs rupiah, atau melakukan tindakan menggunting nilai rupiah dari Rp 1000 menjadi Rp 1 tetapi dengan syarat berhentilah untuk melakukan percetakan uang rupiah, yang semakin melorot dan menjunam ke perut bumi, insya Allah semoga.

Dalam hal ini pemerintahan Jokowi harus tegas membantu Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ormas Islam lainnya, untuk menghadapi agama dan aliran sesat lainnya, yang jelas meresahkan dan mengoyakkan akidah dan fikrah umat Islam, yang selama ini dinilai harmonis dan aman damai, tanpa adanya gangguan dan ancaman dari luar. Wallahu’alam.*

Penulis aktivis gerakan Islam, keluarga besar Muhammadiyah dan keluarga Bulan Bintang. Kini tinggal di Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Joko widodoJokowiKPKmasyumiMUI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 4 Golongan Manusia Menurut Imam Al-Ghazali
Tulisan selanjutnya Solusi Masalah PRT dan TKI Ala Rasulullah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?