Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Geger Fatwa MUI tentang “Keharaman” BPJS

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Agustus 2015 14:50 2:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Agustus 2015 14:50
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholila Ulin Ni’ma

MASYARAKAT dibuat kaget dengan adanya fatwa Mejelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS) Kesehatan tidak sesuai dengan syariat Islam.

Meskipun  hasil Ijtimak Ulama V Tahun 2015 tersebut  hanya menyatakan ‘tidak sesuai syariat’, tetap saja hal itu membuat masyarakat resah dan mulai berpikir tentang kehalalannya.

Pasalnya sudah banyak dari mereka yang terlanjur mendaftarkan diri dan keluarga sebagai penerima layanan BPJS.

Hasil Ijtimak MUI tersebut setidaknya memuat tiga poin yang menyebabkan BPJS kesehatan ini tidak sesuai dengan syariah.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Pertama, adanya riba yakni berupa bunga sebesar 2 persen dibebankan pada peserta BPJS jika mereka menunggak iuran.

Kedua, BPJS dinilai mengandung unsur gharar serta maisir. Gharar berarti ketidakjelasan kualitas dan kuantitas suatu produk sehingga bisa mengandung unsur penipuan.

Jika ada seorang karyawan yang gajinya dipotong tiap bulan oleh perusahaan dengan alasan membayar BPJS, maka yang diberikan oleh pihak BPJS kepada pihak rumahsakit hanya sekian persen. Dan sisanya tidak jelas kemana. Sedangkan maisir (judi) berarti merugikan sebagian pihak dan secara besar menguntungkan pihak tertentu tanpa harus kerja keras.

Ketiga, tidak mencerminkan konsep ideal jaminan sosial dalam Islam karena dalam sistem akad (hukum) salah satu pihak dirugikan dalam BPJS, yakni pihak peserta.

Karyawan perusahaan yang menjadi peserta BPJS yang terlambat membayar iuran lebih dari 3 bulan akan diputus. Ini jelas merugikan karyawan. Gaji karyawan dipotong perusahaan dengan dalih BPJS tapi tidak dibayarkan. Non-karyawan yang menjadi peserta BPJS yang terlambat membayar iuran lebih dari 6 bulan akan diputus. Ini juga merugikan karena uang yang sudah masuk ke BPJS akan hangus.

Sudah Ada Peringatan

Sebenarnya sejak dikeluarkannya UU 24/2011 Tentang BPJS ini sudah banyak suara yang mengingatkan rusak (fasad)-nya UU ini jika diterapkan dalam masyarakat. Kerusakanya nampak jelas dalam dua aspek.

Pertama, pengebirian fungsi dan tanggung jawab negara dan pemerintah sebatas regulator. UU ini secara fundamental telah mengubah kewajiban negara dalam memberikan jaminan sosial menjadi kewajiban rakyat, serta mengubah jaminan sosial menjadi asuransi sosial.

Padahal makna ‘jaminan sosial’ jelas berbeda sama sekali dengan ‘asuransi sosial’. Jaminan sosial adalah kewajiban Pemerintah dan merupakan hak rakyat, sedangkan dalam asuransi sosial, rakyat sebagai peserta harus membayar premi sendiri. Itu artinya rakyat harus melindungi dirinya sendiri.

Pada jaminan sosial, pelayanan kesehatan diberikan sebagai hak dengan tidak membedakan usia dan penyakit yang diderita, sedangkan pada asuransi sosial peserta yang ikut dibatasi baik dari segi usia, profesi maupun penyakit yang diderita. Disamping itu, akad dalam asuransi termasuk akad batil dan diharamkan oleh syariat Islam.

Kedua, UU ini juga telah memposisikan hak sosial rakyat berubah menjadi komoditas bisnis.

Bahkan dengan sengaja telah membuat aturan untuk mengeksploitasi rakyatnya sendiri demi keuntungan pengelola asuransi. Artinya, apabila hak sosial rakyat didekati sebagai komoditi bisnis, maka posisi rakyat yang sentral substansial direduksi menjadi marjinal residual. Sementara kepentingan bisnis justru ditempatkan menjadi yang sentral substansial.

Ini tentu sangat berbahaya karena berarti negara telah mempertaruhkan nasib jutaan rakyatnya kepada kuasa pasar, dimana dalam era globalisasi ekonomi sekarang ini pasar mengemban semangat kerakusan yang predatorik yang dikendalikan oleh kekuatan kapitalis global yang bakal merongrong hak sosial rakyat melalui badan-badan usaha asuransi.

Hal ini sudah terbukti di mana-mana, termasuk di Indonesia di mana institusi bisnis asuransi multi nasional saat ini tengah mengincar peluang bisnis besar di Indonesia yang dibukakan antara lain oleh UU 40/2004, Pasal 5 dan Pasal 17, juga UU 24/2011 Pasal 11 huruf b dimana disebutkan bahwa BPJS berwenang untuk menempatkan dana jaminan sosial untuk investasi. Ini merupakan bukti nyata dari pengaruh neoliberalisme yang memang sekarang sedang melanda Indonesia. Padahal Allah telah berfirman:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

“… dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa’: 141)

Perlu Peran Negara

Meskipun kerusakannya berusaha ditutupi dengan kedok jaminan sosial, namun pada akhirnya akan tercium bau busuknya juga, karena sesungguhnya program ini sudah rusak dari akarnya.

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

”Dan perumpamaan kalimat (penulis: konsep) yang buruk seperti pohon yang buruk, yang tercerabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.”(QS: Ibrahim: 26)

Oleh karena itu selayaknya kita meminta kepada pihak terkait untuk membatalkan penerapan program BPJS tersebut karena bila diberlakukan akan makin memberatkan kehidupan ekonomi rakyat.

Mereka hanya akan menjadi obyek pemalakan dengan kedok jaminan sosial, sehingga rakyat yang sudah menderita akan semakin sengsara.

Fatwa MUI terkait “keharaman” BPJS bisa jadi hanya akan menjadi wacana saja karena sifatnya tidak mengikat masyarakat untuk diikuti.

Dan lagi perang media juga terus dilancarkan untuk memberikan gelombang kebingungan pada masyarakat, sebagian malah diarahkan membully majelis ulama dan bertujuan agar ulama tak memiliki wibawa. Sehingga hal ini juga menegaskan kepada seluruh rakyat bahwa kita memerlukan penerapan syariah Islam dalam negara.

Karena dengan itu sajalah, negara akan benar-benar menyejahterakan rakyat, serta melegalkan aturan yang tidak menjadikan rakyat sebagai obyek pemalakan dengan dalih apapun sebagaimana dalam sistem kapitalis sekarang ini karena hal itu diharamkan oleh syariah Islam. allahu a’lam bish-shawaab.*

Alumni Program Pascasarjana IAIN Tulungagung

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Badan Penyelenggara Jaminan Sosial KetenagakerjaanBPJSghararIjtimak UlamaiuranmaisirMejelis Ulama IndonesiaMUIsyariat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tujuh Kunci Penjuru Kebahagiaan
Tulisan selanjutnya Tanwir Muhammadiyah Kerucutkan 39 Calon Pimpinan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Tak Mau Angkut Senjata 'Israel', Lufthansa Tetapkan Embargo
BeritaIptekes

Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Berita Iptekes
27 Agustus 2026 23:34
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?