oleh: Ilham Kadir
RELASI antara tiga kata kunci dari judul di atas membawa kita pada momen yang sedang barlangsung hari ini. Hari kebesaran umat Islam, Hari Raya Idul Adha, atau Hari Raya Qurban. Hari yang disyariatkan bagi umat Nabi Muhammad untuk mempersembahkan qurban terbaiknya demi meraih ketakwaan. Di lain pihak, ketakwaan adalah puncak spritual seorang hamba, dan jika takwa melekat pada seorang pemimpin, alamat keberkahan Allah akan menyelimuti para masyarakat, pintu langit akan terus-menerus terbuka pada pemimpin dan masyarakat bertakwa. Tulisan ini akan merajut tiga kata kunci di atas, takwa, qurban, dan kepemimpinan.
Secara etimologis kata takwa merupakan bentuk masdar dari ittaqa–yattaqi yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Kata ini berakar dari waqa-yagi-wiqayah yang berarti “menjaga diri menghindari dan menjauhi” yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakan, takwa juga berarti mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan, atau melaksanakan semua perintah allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kehati-hatian, laksana berjalan di area penuh duri waktu malam gelap gulita.
Takwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama, namun semuanya bermuara pada satu pengertian yaitu seorang hamba melindungi dirinya karena takut akan kemurkaan Allah dan juga siksa-Nya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang-Nya.
Afif Abdulullah Al-Fahah Thabbarah mengatakan Takwa adalah seorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Allah dan dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat baik dirinya maupun orang lain. Ibnu Rajab rahimahullah berkata bahwa asal takwa adalah seorang hamba membuat pelindung yang melindungi dirinya dari hal-hal yang ditakuti. Jadi ketakwaan seseorang hamba kepada Rabnya adalah ia melindungi dirinya dari hal-hal yang dia takuti, yang datang dari Allah berupa kemurkaan dan azab-Nya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiyatan kepada-Nya.
Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini.
Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya; (2) Dimudahkan segala urusannya; (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi; (4) Dianugerahi furqân yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil; (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya; (6). Disediakan surga-surga yang mengalir dibawahnya air terdapat dalam surat Ali Imran[3]: 15; (7). Dikaruniai istri-istri yang disucikan serta mendapat keridhoan allah, terdapat dalam surat Ali Imran[3]: 15.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS: Ali Imron[3]:102).
Jika seorang ingin mencapai derajat takwa mustahil ia dapatkan dalam waktu yang sekejap melainkan melalui proses yang sangat panjang dengan izin Allah. Allah pun tidak melihat hasil melainkan proses melalui ujian-ujian yang diberikan pada hamba-Nya baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, kelonggaran maupun kesempitan dan sebagainya. Allah pun memberikan keluasaan untuk memilih bagi hambanya dua jalan yang terbentang dihadapannya berupa jalan fujur dan takwa. Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha, (QS. As-Syams[91]:8).
Di sisi lain ayat-ayat al-Qur’an yang bertemakan takwa tersebut pada umumnya sangat berhubungan erat dengan “martabat” dan “peran” yang harus dimainkan manusia di dunia, sebagai bukti keimanan dan pengabdian kepada Allah. Misalnya, ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah ini terungkap dalam Surat al-Hujarat[49]: 13. ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Dalam ayat tersebut, takwa dipahami sebagai “yang terbaik menunaikan kewajibannya”. Maka, manusia “yang paling mulia dalam pandangan Allah” adalah “yang terbaik dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya”. Inilah yang menjadi salah satu dasar kenapa Allah menciptakan langit dan bumi yang menjadi tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.
Allah juga menegaskan bahwa yang paling mulia di atas semuanya bukanlah yang menjadikan keragaman sebagai faktor yang memunculkan disharmoni, Orang paling mulia adalah orang yang dapat memanfaatkan keragaman itu untuk memaksimalkan peran dirinya, peran sosialnya, peran profesinya, dan peran beragamanya melalui amalan. Bukan hanya amal dalam pengertian shadaqah, akan tetapi amal dalam pengertian karya nyata dan amal shalih. Rasulullah bersabda, bahwa manusia yang paling baik adalah mereka yang menciptakan manfaat, karya, serta amal shalih yang lebih banyak dan lebih baik bagi sesama umat manusia.
Mengenai takwa, ada wasiat khusus dari Nabi, Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi [Negro]. Maka sesungguhnya, barangsiapa di antara kamu hidup pada saat itu akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat,” (HR Ahmad IV , 126-127, Abu dawud, 4583). Dan, Ibnu Rajab mengartikan takwa dalam hadis di atas sebagai garansi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
Berkaitan dengan qurban
Sesungguhnya, semua ibadah yang Allah syariatkan kepada umat manusia lewat Rasul-Nya untuk meraih sebuah maqam yang disebut takwa, termasuk qurban. Maka, qurban yang dilakukan tanpa dengan tujuan meraih posisi takwa, tidak hanya sia-sia malah akan melahirka dosa, ini tidak jauh beda dengan puasa, salat, zakat, dan haji, semuanya untuk menjadi wasilah untuk meraih takwa. Ingat, ibadah harus didahului dengan niat yang benar. * (bersambung)
Enrekang, 21 September 2015 H.
Penulis peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas DDII; Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor