Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Dari Santri ke Neo Santri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Oktober 2015 12:53 12:53 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Oktober 2015 12:53
Bagikan
Bagikan

Oleh: Fadh Ahmad Arifan

TANGGAl 22 Oktober 2015 ditetapkan sebagai hari santri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sayangnya, tidak dijadikan hari libur nasional sebagaimana Presiden ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan hari buruh sebagai hari libur nasional.

Namun gaung Hari Santri nampaknya tak disambut semarak umat Islam secara nasional. Lebih-lebih, dalam logi Hari Santri tertera “Revolusi Jihad” yang hanya memberi kesan klaim milik salah satu golongan. Masalah ini juga ikut andil peringatan ini menjadi tidak milik ‘semua golongan’ dan berdampak adem-ayem.

Bahkan lebih jelas, salah satu organisasi massa Islam besar, Muhammadiyah menyatrakan keberatan adanya “Hari Santri”.

Apa alasan mereka? Dalam beberapa pernyataan yang sat abaca, Muhammadiyah tidak ingin umat Islam makin terpolarisasi dalam kategorisasi santri dan Non-Santri.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Menurut Muhammadiyah, Hari Santri akan menguatkan kesan eksklusif di tubuh umat dan bangsa. Padahal, selama ini santri-Non Santri makin mencair dan mengarah konvergensi.

“Untuk apa membuat seremonial umat yang justru membuat kita terbelah,” kata Dr Haedar Nashir seperti yang dikutip Republika. Pimpinan Umum Muhammadiya rupanya masih terpaku teori Geertz di masa lampau. Teori yang saya maksud yaitu, “Santri, abangan dan Priyayi”.

Bila diajukan sebuah pertanyaan, siapa sih yang disebut santri itu? Mengenai istilah santri dalam analisis Cak Nur (Dr Nurcholis Madjid) bisa dilihat dari dua aspek.

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “santri” berasal dari kata “sastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya melek huruf. Pendapat ini menurut Nurcholish Madjid didasarkan atas kaum santri kelas literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan Bahasa Arab.

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari Bahasa Jawa, dari kata “cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap (Yasmadi, 2005).

Prof Clifford Geertz di bukunya yang terbit pada 1960-an mengartikan santri dengan dua definisi:

Pertama, dalam arti sempit: seorang pelajar sekolah agama yang bermukim pada suatu tempat yang disebut pondok. Kedua, dalam arti luas: identitas seseorang sebagai bagian dari varian komunitas penduduk Jawa yang menganut Islam secara konsekuen.

Di zaman sekarang “santri” sudah berevolusi menjadi Neo-Santri. Istilah Neo-Santri pertama kali dimunculkan oleh Dr Syafi’i Anwar. Bisa kita cek di dalam disertasinya Yon Machmudi P.hD yang berjudul “Islamising Indonesia: The Rise of Jemaah Tarbiyah and the Prosperous Justice Party”.

Istilah Neo Santri dinisbatkan pada Muslim kelas menengah yang muncul di era 1990-an, Muslim kelas menengah ini merupakan perpaduan antara tradisionalisme NU dan kemoderenan Muhammadiyah. Muslim kelas menengah tadi akhirnya mendirikan wadah bernama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Bila dilacak lebih jauh, Neo Santri muncul dari Gerakan Dakwah kampus yang dirintis oleh Dr. M. Natsir dan Bang Imad (Dr Imaduddin Abdurrahim dari ITB tahun 80-an).

Kini Neo Santri itu sudah berkecimpung di parlemen, gerakan filantropi dan gerakan ‘islamisasi ilmu’. Mereka inilah garda terdepan dalam melindungi umat Islam dari rongrongan kaum sekular, liberal dan anti Tuhan.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutarakan satu hal. Saya tidak pernah mondok di pesantren berkultur NU tapi, bersekolah di lembaganya Muhammadiyah juga tidak. Hanya saja, saya dididik sedari kecil oleh sepasang suami istri, yang satu NU dan satunya Muhammadiyah.

Dalam hal mencari ilmu agama Islam, saya mengaji ke Kiai NU, Habaib, ustadz-ustadz Muhammadiyah di Malang, kemudian pernah ikut halaqah Hizbut Tahrir serta pengajian pekanan Jamaah Tarbiyah. Jadi tidak terpaku kepada satu organisasi.

Apakah saya termasuk “Neo-Santri”? Wallahu’allam.*

Seorang pengajar Sejarah Kebudayaan Islam, tinggal di Kota Malang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kelas menengahMuhammadiyahMuslimneo santriNUPondok Pesantrensantri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Benyamin Netanyahu Pidato Kontroversial, Sudutkan Muslim terlibat Holocaust
Tulisan selanjutnya Yuk! Menjadi Keluarga Al-Quran [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Berita
3 September 2026 13:38
Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Terbaru

  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?