Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pesan Penting Ledakan Brussels: “Senjata Makan Tuan” (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Maret 2016 06:58 6:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Maret 2016 06:44
Bagikan
Musibah bom Brussel Selasa (22/03/2016)
Bagikan

Oleh:  Abdel Bari Atwan

 

HARI Selasa (22/03/2016) pagi, benua Eropa dan berbagai Ibu kota dunia dikagetkan ledakan bom yang melanda Airport Brussels dan terminal kereta bawah tanah yang memakan korban nyawa dan puluhan luka.

Kondisi darurat pun diperlakukan di berbagai airport dan terminal-terminal kereta bawah tanah, sehingga kelancaran perjalanan terganggu, menyusahkan dan repot. Karena pemeriksaan keamanan diperlakukan begitu sangat ketat,  khawatir adanya serangan dan ledakan susulan serupa yang akan mengganyang kota-kota lainnya.

Ledakan Brussel –yang mirip-mirip dengan ledakan Paris pada beberapa bulan yang lalu– terjadi tepat 4 hari setelah penangkapan  Solah Abdessalam yang kebetulan juga tertuduh sebagai tokoh utama dalang ledakan Paris dan pun sudah melakukan berbagai komunikasi via telephone dengan partener-partnernya di Belgia, dimana hal ini menguatkan beberapa asumsi:

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Pertama, menuduh ISIS sebagai dalang berbagai peledakan tersebut- terlihat semakin gagah dan lebih tangguh dari  yang diperkirakan oleh para pengamat militer dan keamanan di Barat.

Dan  serangan udara yang jumlahnya lebih dari puluhan ribu kali di berbagai tempat di Suriak,  Iraq dan  Libya ternyata tidak mampu melumpuhkan ISIS atau tidak membuahkan hasil yang bisa diharapkan oleh dunia Barat.

Kedua, selama dalam rentang 18 bulan yang lalu ISIS ternyata sukses mengerahkan puluhan dan bahkan ratusan pemuda Arab dan Muslim untuk melakukan operasinya di Eropa dan di berbagai tempat lainnya di dunia, baik itu dengan melakukan kontak langsung atau komunikasi lewat media sosial.

Waktu yang relatif singkat itu ternyata dapat memberi mereka ruang  yang cukup untuk pelatihan tehnis pembuatan bahan-bahan dan alat-alat peledak.

Ketiga, dari Ledakan-Ledakan Brussels dan sebelumnya Paris, terungkap bahwa ledakan-ledakan ini tidaklah dilakukan oleh orang-orang yang gagal dan putus asa. Melainkan dilakukan oleh jaringan rapi dan terkendali yang menyebar diberbagai kota di Eropa, dimana para pimpinan-pimpinan operasionalnya dapat berhubungan langsung dengan para petingginya di Mosul-Iraq dan Al-Raqqah-Suriah, dan terakhir Sirt-Libya sebagai markas ke dua ISIS di Utara Afrika.

Keempat, ISIS (jika itu pelakunya) dapat dengan mudah dan cepat memindahkan berbagai operasi strategis militernya  ke luar Timur Tengah, tepatnya ke jantung negara-negara yang bersekutu  memerangi ISIS dibawah komando Amerika.

Itu berarti ISIS bukan ‘pemain remeh’ (Iraq-Suriah) melainkan sudah sukses melebarkan sayapnya untuk melakukan operasi-operasi balasan ke Eropa dan ke wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Eropa tepatnya di wilayah-wilayah sepanjang pesisir utara Laut Tengah.

Kelima, serangan di Brussels ini diyakini diback up oleh jaringan “Molenbeek”, sebagai balasan atas penangkapan pimpinan mereka Solah Abdessalam, dan juga untuk menghajar Barat yang  melakukan intervensi militer ke Libya yang   skenerionya sudah disiapkan sejak lama.

Kesalahan besar telah dilakukan pemerintahan-pemerintahan  Eropa ketika mereka mengirim pesawat-pesawat tempurnya dan pasukan-pasukan khususnya ke Iraq, Suriah dan Libya untuk menumpas ISIS dan memborbardir para petingginya sejak  18 bulan yang lalu.

Mungkin tidak ada yang pernah mengira ISIS dan sejenisnya akan melakukan balas dendam akibat intervensi yang dilakukan Barat ini.

Itu terlihat pada proses penjagaan keamanan di airport-airport  dan tempat-wisata  Eropa  sangat lemah, sehingga gampang dibobol.

Jika Barat memperkirakan adanya serangan balasan sudah barang tentu dari dulu sudah memperketat pengamanan mereka.

Sudah berulang kali –bahkan beribu kali–  kami mengingatkan Barat, bahwa model solusi keamanan yang kini diterapkan Amerika dan konco-konconya dalam kampanye terorisme dan tindakan kekerasan, belum  mencukupi,  khususnya apabila tidak dibarengi dan dilengkapi dengan “politik nafas panjang” yang siap jantan mengakui  kesalahan-kesalahan mereka di kawasan yang sudah mengakibatkan berbagai bencana.

Langkah pertama yang harus mereka lalukan Barat adalah mengakui kesalahan-kesalahan mereka yang berbuah bencana itu.

Kesalahan mereka yang berusaha untuk menggeser rezim-rezim Arab dengan menggunakan kekuatan militer demi kepentingan Yahudi-Israel dan demi membalaskan dendam dan kesumat serta kebencian-kebencian politik dengan berdasarkan keagamaan dan keyakinan Salibis-Zionis, namun dalam waktu yang sama tidak pernah mau menawarkan model-model alternatif yang lebih baik.

Barat tidak mengerti bahwa ISIS pada awal pertumbuhannya bukanlah menjadikan ibu-ibu kota Barat sebagai target serangan mereka. Paling tidak pada awal-awal munculnya hanya menginginkan wilayah. Dan yang menjadi fokus ISIS adalah melengserkan rezim-rezim Arab (yang bagi mereka anggap lemah dan tak bisa diandalkan).

Rezim-rezim inilah yang menjadi prioritas operasi mereka. Tetapi, operasi militer Barat dibawah komando Amerika dalam rangka mem-back up rezim-rezim bobrok Arab dan memperkuat cengkraman rezim-rezim tersebut terhadap rakyat yang terus menderita; menyebabkan prioritas ISIS menjadi kacau dan jungkir balik, yang harusnya tidak penting malah menjadi prioritas, hasilnya adalah ledakan Paris dan Brussels.* (BERSAMBUNG)

Abdel Bari Atwan adalah  pemimpin redaksi Rai al-Youm, situs berita dan opini berbahasa Arab. Artikel diambil dari Rai al Youm,  diterjemahkan Syafruddin Ramly  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratbrusselEropaISISislamRaqqahsuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Haedar Nashir Ajak Mahasiswa di Kairo Hindari “Gaptek”
Tulisan selanjutnya ITS Surabaya Dirikan Pusat Kajian Halal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?