Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Benci, Takut, Bingung Karena Jilbab

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 April 2016 09:39 9:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 April 2016 09:37
Bagikan
Wanita dan anak Yahudi melecehkan Muslimah Palestina,siapa membela mereka?
Bagikan

Oleh: Harri Ash Shiddiqie

 

TAHUN 2004 Prancis mengawali pelarangan simbol-simbol agama untuk anak-anak sekolah negeri, jilbab salah satunya.Tahun 2007  menyusul larangan bagi pekerja di instansi yang memberikan layanan publik. Tahun 2011 niqab dilarang di depan umum.

Dalam berbagai variasi, Belgia dan Belanda ikut-ikut.

Belum puas. Beberapa hari yang lalu, Perdana Menteri Prancis, Manuel Valls, mengusulkan pelarangan jilbab di universitas.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Jilbab menjadi isu politik kontroversial, muslim di Prancis yang jumlahnya diperkirakan 5 juta orang tidak berdiam diri. Mereka turun  ke jalan, protes. Di sisi yang lain, pelarangan jilbab juga ditunggangi kelompok politik tertentu untuk mendapat simpati saat pemilihan umum.

Bukan hanya jilbab. Tahun 2011 muncul larangan shalat di jalan. Untuk menunaikan shalat Jumat tempat ibadah tidak mencukupi, kaum muslimin tumpah di jalan-jalan. Tumpahan itu tidak mengganggu arus lalu lintas. Tuduhan dilontarkan :  Fenomena menggelar sajadah atau tikar di jalan  untuk shalat  merupakan ulah fundamentalis muslim untuk tujuan-tujuan politik.

Dalam kata-kata yang pedas, Menteri Dalam Negeri Prancis saat itu, Claude Gueant berkomentar  “Berdoa di jalanan adalah tindakan tidak bermartabat.”

Pemerintah menawarkan barak bekas pemadam kebakaran yang dapat menampung 2000 jamaah yang bisa disewa. Pemimpin Muslim mengunjungi  tempat tersebut, dan kemudian memakainya.

Tidak semua muslim setuju, “Tidak ada sistem di alam semesta dapat mengendalikan kita selain Allah,” teriak seorang pemuda yang marah. “Lebih bermartabat berdoa di rumput daripada di masjid palsu.”

***

Lontaran larangan jilbab di universitas di pertengahan April ini adalah susulan dari pernyataannya  4 April yang lalu tentang pakaian renang Islami, Burqini (Burqa-bikini) yang dipromosikan Marks and Spencer dengan  gaung: “Menutupi seluruh tubuh anda kecuali wajah, tangan dan kaki tanpa mengorbankan gaya.”

Perdana menteri  menyerang,  burqini bukanlah  fashion,   mengurungi  tubuh perempuan adalah semacam “perbudakan”.

Menteri Prancis Samakan Wanita Berjilbab dengan ‘Negro yang Dukung Perbudakan’

Pernyataan ini diawali oleh kontroversi sebelumnya yakni di akhir Maret ketika Menteri Urusan Keluarga Anak-Anak dan Hak Wanita,  Laurence Rossignol, yang  menyerang pemakai burqini sebagai negro Amerika yang mendukung perbudakan.

***

Derita kaum muslimin Prancis bertalu-talu.

Apakah mereka menyerah?  Tidak.

Banyak muslimah keluar dari tempat kerja karena pembatasan tersebut. Ada mantan asisten manajer sebuah perusahaan jasa yang kemudian menjahit dan mengembangkan bisnis pakaian bayi. Ada seorang sekeretaris laboratorium yang memilih berhenti lalu memproduksi manisan halal.

Tahun 2011 bisnis Muslim perempuan diwadahi sebuah jaringan e-trading, “Bisnis Akhawate”. Disisi yang lain muncul situs bagi konsumen muslim,  Al-Kanz.

Anggota jaringan saling berkomunikasi mengemukakan kesulitan, mendamaikan kepuasan,  saling mengingatkan untuk tidak meminjam modal dari bank karena larangan riba. Saling menyemangati bahwa dengan bisnis yang operasi dan produksi terbatas, itu melindungi diri dari kebangkrutan.

Muslimah-muslimah  itu memilih meneguhi “kewajiban agama” dibanding harus mengikuti peraturan buatan manusia. AllahuAkbar!*

Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Jl. Kalimantan III, Jember-Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamaHAMjilbabPrancis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mahathir Mohamad Ingin Temuan Kasus 1MDB Diungkap ke Publik
Tulisan selanjutnya Anggota DPRD: Ajuan Baru Raperda Reklamasi Tidak Dapat Dibahas Tahun Ini

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Feature
29 Agustus 2026 10:49
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?