Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mother Theresa, Idul Adha dan Sorot Media

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 September 2016 10:02 10:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 September 2016 10:02
Bagikan
Bunda Theresa berjabat tangan dengan Charles Keating di luar Bandara Sky Harbor 1989,
Bagikan

Oleh: Ady C. Effendy

 

EMPAT September lalu, negeri Vatikan dipimpin oleh Paus Francis mentahbiskan Bunda Theresa, seorang biarawati Katolik dalam sebuah upacara misa sebagai salah seorang santo/ orang suci dalam tradisi Katolik di depan lapangan St. Peter, Kota Vatikan.

Upacara pentabhisan  wanita bernama asli Anjece Gonxhe Bojaxhiu menjadi St. Teresa of Kolkata atau Santa Teresa dari Kolkata dihadiri oleh banyak peziarah ke kota suci umat Katolik ini.

Kebesaran nama Mother Theresa menyeruak terutama di akhir 80an dimana ia sempat memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 1979.  Seingat penulis di dekade 90-an pun namanya masih menghangatkan media-media internasional dengan aksi philatropist (dermawan) nya yang selalu memperoleh liputan media besar dunia.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Dilahirkan di Skopje, Macedonia, dalam keluarga keturunan Albania Kosovo, dan kemudian berganti kewarganegaraan menjadi dua warganegara Bangladesh (1950-1997) dan sekaligus Albania (1991-1997) hingga kematiannya, Teresa dipuja sebagai pembela kaum papa terutama melalui rumah sakit untuk kaum miskin di Kalkutta, Bengal Barat, Bangladesh. Berbagai penghargaan diperolehnya baik di Bangladesh maupun didunia, namanya bahkan dijadikan sebagai nama bandara internasional Albania di Tirana.

Didukung oleh media dan mungkin jutaan pengikutnya, figur Mother (Bunda) Teresa bukan tanpa kontroversi. Michael Parenti, misalnya, seorang guru besar ilmu politik menulis artikel yang cukup kritis tentang Teresa. Menurutnya Teresa adalah salah satu contoh pentahbisan orang suci jalur cepat atau ‘fast-track’ yang banyak dilakukan oleh Paus John Paul II, yang selama 26 tahun kepemimpinannya menobatkan 483 orang menjadi santo atau orang suci.

Praktek pentahbisan orang suci/ santo ini memang dikembangkan oleh beberapa gereja yakni Ortodoks, Ortodoks Timur, Katolik Roma, dan Anglikan. Pentahbisan/ pengukuhan santo (canonization) tidaklah dikenal dahulu dimana santo/orang suci lampau tidak melalui ‘upacara formal’ untuk menjadi santo, sebelum ritual ini dikembangkan oleh gereja-gereja tersebut.

Bunda Theresa sendiri semasa hidupnya dibawah Paus Paulus II hanya mencapai status “yang diberkati” (beatification) yang menjadikannya dinilai dapat menjadi perantara dalam doa dan dijamin masuk surga.

Disisi lain, Parenti pun mengkritisi Teresa yang faktanya menerima uang miliaran dolar dari Charles Keating seorang rentenir yang dibelanya dihadapan pengadilan, pun Teresa dinilai menerima uang dari diktator Haiti Duvalier yang mengkorupsi uang dari dana publik Haiti.

Rumah sakit Mother Theresa di Bangladesh pun sangatlah buruk kondisinya dimana orang sakit hanya berbaring diatas matras bersama lima puluh hingga enam puluhan pasien tanpa perawatan medis memadai dalam gedung yang disebut Parenti “gudang manusia”.

Ironis, mengingat Theresa biasa beramah-tamah dengan kaum kaya raya dan ternama dunia karena didaulat sebagai ibu kaum papa dan ketika sakit dirawat di rumah sakit termahal dunia.

Klaim Teresa bahwa rumah sosialnya memberi makan hingga ribuan orang setiap harinya juga ‘mentah’ karena faktanya ia hanya memberi makanan tidak lebih dari 150 orang yang mencakup biarawati dan saudaranya. Sekolahnya di kalkutta pun hanya mendidik kurang dari seratus siswa sementara diklaim mendidik lima ribuan siswa.

Figur Mother Teresa dengan reputasi internasional ini tidak mengherankan dimanfaatkan juga oleh misi Kristen dunia untuk menyebar kegiatan misionarisme Katolik.

Artikel Wikipedia mengutip surat kabar Balkan Insight menyebut salah satunya, yaitu pendirian gereja Katedral Katolik Roma di Pristina, Kosovo, yang diumumkan tahun 2010 atas namanya.

Pembangunannya yang dimulai tahun 2011 menuai kontroversi mengingat kecilnya jumlah penganut Katolik di tempat itu, juga aksi misionaris yang membangun Patung Teresa di kota kecil Pec yang 98 persen penduduknya justru Muslim.

Fakta yang ada ini mendorong kita untuk merenungi lebih mendalam realita dan interkoneksi antara berita media, dunia global dan misionarisme.

Pastinya umat Islam tidak pernah kekurangan dalam hal filantropisme atau kegiatan kemanusiaan, banyak sumbangan-sumbangan kemanusiaan dari negeri-negeri Muslim teluk misalnya seperti Qatar, Kuwait, dsb yang bekerja secara sunyi dari liputan media dalam skala dan jangkauan yang jauh lebih besar namun tidak beroleh kemewahan liputan.

Tanpa Sorotan Kamera

Individu-individu Muslim selama ini dididik dengan tradisi filantropi (kepedulian social)  seperti Idul Adha misalnya yang menebar jutaan hewan kurban bagi kaum miskin dan kelaparan di seantero bumi, karena menjalankan perintah-Nya:

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al Hajj [22]: 28)

Menafsirkan baris kalimat terakhir dari ayat ini, Ibn Katsir ra. menyatakan bahwa sebagian berpendapat untuk dibagi setengah, setengah untuk pelaksana kurban dan sebagian untuk kaum fakir.

Pandangan lain menyebutkan diatur sepertiga. Spertiga untuk si pelaksana kurban, sepertiga untuk dihadiahkan, dan sepertiga untuk disedekahkan ke fakir miskin.

Ikrimah ra. menerangkan bahwa yang dimaksud dengan (الْبَائِسَ الْفَقِيرَ) adalah seseorang yang ‘terjepit’ dan mengalami kesusahan (Tafsir Ibn Katsir, J. 5, ayat 417).

Idul Adha dan lagi ditambah tradisi-tradisi Islami lainnya seperti puasa dan zakat yang menempa jiwa sosial Muslim, tentulah jika dihitung, setiap individu Muslim tidak pernah kurang dalam aksi sosial yang dilakukan meski sepi dari sorotan kamera media dan berpribadi yang ikhlas lillahi ta’ala semata mencari balasan dari-Nya. InsyaAllah.*

Penulis kandidat doktor, pemerhati peradaban dan agama

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bunda Theresadermawanidul adhaMuslim
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muhammad Hamza, Anak Jenius Programer Komputer Termuda Dunia
Tulisan selanjutnya Tragedi Tanjung Priok 1984: Musibah dalam Musibah [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?