Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Nasib Muslimah Inggris, Dicitrakan Negatif atas Penyebaran Gelombang Kedua Covid-19

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 11 Agustus 2020 14:44 2:44 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 11 Agustus 2020 14:31
Bagikan
[Ilustrasi] Muslimah di Eropa
Bagikan

Oleh: Fatima Rajina

 

Hidayatullah.com | KETIKA Muslim di Inggris bersiap untuk merayakan Idul Adha akhir bulan lalu, keadaan berubah bagi mereka yang tinggal di utara negara itu karena pemerintah mengumumkan pelarangan di menit-menit akhir untuk berkumpul merayakan Idul Adha.

Pemberitahuan aturan pembatasan itu datang secara mendadak. Bagi banyak Muslim, ini berarti membuat mereka harus mengatur ulang rencana, termasuk perjalanan.

Tren yang Mengkhawatirkan

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Yang paling mengejutkan saya tentang aturan pembatasan ini adalah hasil liputan media. Saya tertarik dengan bagaimana media terkemuka meliput peraturan baru tersebut dengan gambar yang mereka gunakan.

Sebagian besar liputan pembatasan baru karena Covid-19 menampilkan Muslimah yang mengenakan hijab dan jilbab. Beberapa menggambarkan Muslimah asal Asia Selatan yang menggunakan jilbab khasnya.

Tubuh wanita Muslim telah menjadi tempat penilaian politis. Pilihan estetika membuatnya sangat terlihat, tetapi secara bersamaan jadi tidak penting.

Mengapa penting untuk memperhatikan gambar yang digunakan? Ketika cerita-cerita negatif membahas daerah-daerah tertentu di Inggris dan mencatat peningkatan kasus virus Corona, sangat mengkhawatirkan, sekali lagi, kita melihat gambar-gambar etnis minoritas, terutama Muslim yang ditampilkan. Penelitian telah menunjukkan bagaimana liputan media tentang Muslim berkontribusi membangun stereotip negatif.

Citra Muslim dan liputan peraturan pembatasan menimbulkan ketakutan bahwa Muslim adalah penyebar Covid-19, meskipun tidak ada bukti tentang ini. Sementara komunitas Muslim membentuk empat persen dari populasi Inggris, mereka tampaknya menanggung beban kegagalan negara.

Berayun di atas Pendulum

Tapi yang menurut saya sangat menarik adalah bagaimana gambar-gambar itu sebagian besar adalah wanita. Ini menerangi banyak hal.

Secara historis wanita Muslim telah dibangun citranya oleh Barat sebagai individu yang pasif, ditindas oleh pria Muslim dan miskin namun di sisi lain tetap menjadi ancaman bagi tatanan sosial masyarakat umum. Mantan Ibu Negara Inggris Laura Bush bahkan membuat argumen bahwa invasi ke Afghanistan diperlukan untuk membebaskan perempuan Afghanistan.

Tubuh wanita Muslim telah menjadi tempat penilaian poin politik. Pilihan estetika membuatnya sangat terlihat, tetapi secara bersamaan tidak terlihat. Dia selamanya mengayun di pendulum antara berbahaya dan pasif.

Wanita Muslim dipersenjatai, digambarkan selalu membawa potensi untuk menyebabkan perpecahan. Tubuhnya menimbulkan kecemasan, meski berada di pinggiran masyarakat.

Saat situs berita menyebarkan gambar-gambar ini, hal itu menambah kecemasan yang sudah ada di sekitar Muslim. Ini memungkinkan dan memfasilitasi gagasan bahwa Muslim selalu menyebabkan masalah, tidak pernah benar-benar mengetahui tempat mereka. Tubuh wanita Muslim, khususnya, digunakan sebagai alat manajemen sosial. Dia memberatkan, tetapi juga mengundang tatapan orang-orang yang ingin memanfaatkannya.

Sebuah artikel di Guardian tentang larangan pertemuan di dalam ruangan menggunakan gambar wanita Asia Selatan dalam shalwar kameez, meskipun agamanya tidak jelas. Penggunaan etnis minoritas dalam gambar-gambar tersebut tidak jujur. Komunitas ini sangat terpengaruh oleh Covid-19 lebih dari yang lain, dan menghadapi hambatan yang lebih signifikan untuk melindungi diri mereka sendiri karena rasisme dan diskriminasi.

Lebih mudah untuk menyalahkan mereka yang memiliki kekuasaan paling kecil dalam masyarakat, karena ini membebaskan pemerintah dari tanggung jawabnya

Jadi mengapa “yang lain” menjadi gambar yang lebih menarik untuk digunakan? Jika ada sejarah yang menggambarkan Muslim dan etnis minoritas secara positif, saya mungkin akan melihat gambaran ini secara berbeda. Tapi bukan itu masalahnya.

Gambar membawa makna. Fokus yang tidak proporsional pada komunitas minoritas, termasuk Muslim, adalah bagian dari tradisi lama mengkambinghitamkan komunitas “lain”. Lebih mudah untuk menyalahkan mereka yang memiliki kekuasaan paling kecil dalam masyarakat karena ini membebaskan pemerintah dari tanggung jawabnya dan membuka kedok kegagalannya.*

Artikel terbit pertama kali di Middle East Eye. Dr Fatima Rajina adalah seorang akademisi yang mengkhususkan diri pada isu-isu yang berkaitan dengan identitas, ras, Muslim Inggris dan postkolonialisme.

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:framing mediaislamophobiaMuslimahNasib Muslimah Inggris
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dewan Dakwah Jabar Bersama Ormas Islam Laporkan Penista Agama
Tulisan selanjutnya Perhitungan Kasus Covid-19 Kacau, Direktur Kesehatan California Mundur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Berita
2 September 2026 20:21
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?