Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Menjaga Kehormatan Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 September 2020 10:31 10:31 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 September 2020 10:31
Bagikan
Bagikan

Oleh: Wildan Hasan

 

Hidayatullah.com | “Ulama adalah pewaris para Nabi,” begitulah Rasulullah ﷺ tegaskan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Tirmidzi. Tentu saja sebagai pewaris para Nabi, ulama memiliki peran dan fungsi sebagaimana para Nabi sekalipun status mereka tetap sebagai manusia biasa bukan Nabi ataupun Rasul.

Oleh karena itu ulama memiliki tanggung jawab membina, membimbing, menjaga umat di jalan kebenaran dan menghindarkan mereka dari jalan kesesatan sesuai syariat Allah dan Rasul-Nya.  Jika keberadaan para Nabi adalah karunia yang sangat berharga, maka keberadaan para ulama pun di tengah-tengah masyarakat merupakan karunia yang tak ternilai harganya.

Jika keberadaan para Nabi mutlak dibutuhkan oleh umat maka begitupun para ulama. Jika para Nabi adalah manusia agung yang harus ditaati dan dihormati, begitu pula para ulama adalah manusia mulia yang harus ditaati dan dihormati sesuai koridor syar’i.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Imam Ibnu Jarir at Thabari dalam tafsirnya Jami’ul Bayan menjelaskan bahwa yang dimaksud ulama adalah seseorang yang Allah jadikan sebagai pemimpin atas manusia dalam perkara fiqih, ilmu, agama, dan dunia. Sementara imam Ibnul Qayyim al Jauziyah dalam I’lamul Muwaqqi’in membatasi ulama pada orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa, yang menyibukkan diri dengan mempelajari hukum-hukum Islam kemudian menyimpulkannya dan merumuskan kaidah-kaidah halal dan haram.

Ulama adalah seorang pemimpin agama yang dikenal luas masyarakat akan kesungguhan dan kesabarannya dalam menegakkan kebenaran. Sebagaimana Allah firmankan dalam surat As-Sajdah ayat 24, “Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.”

Dengan kedudukan ulama yang begitu penting dan terhormat, maka menjaga kehormatannya menjadi sebuah keniscayaan. Karena membela kehormatan ulama sama dengan membela agama itu sendiri.

“Mengghibah ulama memberikan mudharat kepada Islam seluruhnya. Karena umat akan tidak percaya lagi kepada ulama lalu mereka akan meninggalkan fatwa para ulama dan lepaslah mereka dari agama,” demikian kata Syaikh Utsaimin. Sementara Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata, “Memuliakan para ulama adalah sebuah kewajiban. Karena mereka adalah pewaris para Nabi. Sikap meremehkan ulama yang mereka lakukan termasuk perendahan terhadap kedudukan mereka, perendahan terhadap warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan perendahan terhadap ilmu yang mereka miliki.”

Jika kita tidak memiliki kepercayaan pada para ulama, lalu kepada siapakah kita akan menaruh kepercayaan? Jika kepercayaan terhadap para ulama telah hilang, lalu kepada siapakah kaum muslimin meminta solusi dalam menyelesaikan masalah-masalahnya dan meminta penjelasan tentang hukum-hukum syari’at? Tatkala hal itu telah terjadi, maka akan terjadi kekacauan dan kebingungan dalam umat.

Memiliki dan mengamalkan adab terhadap ulama adalah keharusan. Tidak boleh mencela, menggibah dan merendahkan kehormatan ulama.

Ibnu ‘Asakir berkata, “Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan atau merendahkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa yang melepaskan lidahnya untuk mencela ulama maka Allah akan mengujinya dengan kematian hati sebelum ia mati.”

Syaikh Awad Ar-Ruasti menjelaskan tentang makna perkataan ini, “Siapa yang suka berbicara tentang aib para ulama, maka dia layaknya memakan daging para ulama yang mengandung racun, akan sakit hatinya, bahkan dapat mematikan hatinya.”

Sementara Syaikh Umar As-Sufyani mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Kalangan yang memusuhi syariat agama ini menggunakan berbagai cara untuk menghancurkan Islam. Salah satu cara yang mereka lancarkan dalam rangka meruntuhkan kewibawaan Islam adalah menggugat otoritas dan kehormatan ulama.

Mereka mengetahui bahwa pokok dari tegak dan terpeliharanya agama ini adalah keberadaan para ulama yang dihormati dan ditaati. Maka mereka menyebarkan pemikiran bahwa tidak ada yang boleh dan bisa menjadi pihak yang otoritatif dalam memahami agama ini.

Semua orang berhak dan bisa memahami dan menafsirkan agama sesuai kehendaknya. Bahwa semua faham dan tafsir adalah benar dan tidak ada yang paling benar atau satu-satunya yang benar. Bahwa para ulama juga adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar.

Hanya Allah lah yang benar sementara pemahaman manusia terhadap agama hanya bersifat nisbi dan relatif. Mereka gambarkan dan publikasikan gambaran buruk dan fitnah kepada ulama sehingga hilanglah kepercayaan dan rasa hormat manusia kepada ulama.

Sehingga ketika umat terpengaruh oleh paham mereka yang sesat itu dan lepas dari pemahaman dan keyakinan bahwa Allah telah mengajarkan kebenaran dan telah memberitahukan mana kebenaran dan mana kebatilan serta manusia telah diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah maka umat terjerat turut menjauhi ulama. Mereka merendahkan ulama dan mencampakkan fatwa dan pandangan para ulama.

Lebih mengerikan lagi, mereka bukan hanya memburukkan citra ulama dan menghancurkan kehormatannya, mereka juga mengintimidasi para ulama secara fisik dan psikis. Mereka meneror, mengancam, dan mencoba melakukan kekerasan fisik sebagaimana terjadi beberapa tahun terakhir hingga saat ini bahkan sampai pembunuhan kepada para ulama.

Allah memberikan ancaman kepada mereka dengan firman-Nya:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orng mukmin, maka Kami biarkan ia bergelimang dalam kesesatannya, dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)

Rasulullah ﷺ bersabda, Allah SWT berfirman, “Barangsiapa memusuhi para wali (kekasih/ulama) Ku, maka Aku umumkan perang kepada mereka.”  Telah sangat jelas sikap meninggalkan, merendahkan dan mengintimidasi ulama berdampak kepada kerusakan masyarakat yang sangat fatal dan mengerikan juga mendatangkan kemurkaan Allah SWT.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dalam sabdanya, “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu begitu saja dari diri para ulama, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan matinya para ulama, sehingga jika tidak tersisa seorang ulama-pun, maka masyarakat akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin, jika mereka ditanya mereka menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari).

Sesungguhnya menjaga kehormatan ulama, mentaati, menjaga dan memuliakan mereka adalah kebutuhan manusia dan kehidupan. Tanpa ulama, manusia akan hidup tanpa bimbingan dan arahan yang pada akhirnya tatkala manusia hidup tanpa aturan, tidak ada yang ditaati dan dipatuhi maka kehancuran kehidupan hanya tinggal menunggu waktu.

Maka sebagai bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah manusia mentaati para ulama yang benar sebagaimana Allah titahkan dalam firman-Nya; “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 59).*

Anggota Dewan Tafkir PP Persis

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Menjaga Kehormatana Ulamapewaris para nabiulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya AS Akan Hapus Sudan dari Daftar Negara Pendukung Teroris dengan Syarat Normalisasi dengan ‘Israel’
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Agama Peta Pendidikan Penanganan Pandemi Covid-19 dan Pelaksanaan Pilkada, Haedar Nasir: Tugas kami Sebagai Ormas Sudah Dilaksanakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?