Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Adab dan Etika, Pesan Syantik Anies

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Januari 2021 15:52 3:52 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Januari 2021 15:12
Bagikan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungjungi RS Fatmawati /IG@aniesbaswedan
Bagikan

Adab dan etika, dua kata yang dinarasikan Anies itu, meski disampaikan “seolah” hal biasa saja, tapi punya muatan tajam. Adab dan etika itu pertanda, bahwa kita masih bagian dari manusia selayaknya

 

Oleh: Ady Amar

 

Hidayatullah.com | ANIES BASWEDAN, Gubernur DKI Jakarta, memang piawai menarasikan sesuatu yang tidak wajar dengan sentilan berkelas. Semacam sindiran halus.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Sentilannya itu lebih bersifat umum, tidak dimaksudkan hanya untuk kalangan terbatas, atau pada pribadi tertentu. Meski orang bisa melihat atau menerjemahkan bahwa sentilan itu respons atas perlakuan tidak sepatutnya dari pihak atau pribadi tertentu.

Anies coba ajarkan pada yang lain, bahwa ada cara elegan patut disampaikan. Meski tidak harus dengan kalimat kasar. Maka sentilan syantik jadi pilihannya. Mestinya sentilannya itu mudah dipahami, meski bagi mereka yang cuma dikit gunakan akal.

Tidak semua mampu menghadirkan sentilan berkelas jadi pilihan. Bagian dari respons atas perlakuan tidak wajar, yang dihadirkan tanpa pendekatan budaya sewajarnya.

Baca: Gubernur Anies Baswedan Beri Sertifikat 1.110 Juru Sembelih Halal

Pilihan merespons sesuatu dengan sentilan seolah tidak ada kaitan dengan sebuah peristiwa, itu bukan perkara mudah. Anies terbiasa dengan hal demikian. Sentilan seperti hook tanpa tenaga, tapi bisa buat tersungkur.

Tidak perlu harus berdebat menampakkan ketidaksukaan dengan narasi kasar apalagi marah-marah, menyangkut hal tak wajar yang diterimanya.

Sikap Anies jadi mengingatkan pada sosok H. Agus Salim, yang biasa merespons sesuatu dengan sikap elegan, terukur dan telak. Tidak dengan bersungut-sungut menampakkan kemarahan.

Saat rapat Syarikat Islam (SI), itu di tahun 1923, tengah H. Agus Salim berdiri di mimbar untuk memulai pidatonya. Terdengar di barisan belakang suara hadirin yang mengembek-embek, khas suara kambing.

Agus Salim memang memakai jenggot putih khas, yang diserupakan jenggot kambing. Suara itu ia dengarkan dengan tenang, tidak tampak kemarahan.

Baca: Raih 3 Penghargaan dari KPK, Anies Baswedan Tuai Pujian

Lalu, setelah mengucapkan salam sebagaimana layaknya mengawali sebuah pidato. Ia lalu memulai dengan nada bertanya.

“Saudara panitia… Apakah saudara dalam rapat ini, selain mengundang anggota SI, saudara juga mengundang pula gerombolan kambing? Saya mendengar suara mengembek-embek di barisan belakang itu…!”

Setelah itu, suara mengembek-embek tidak lagi terdengar. H. Agus Salim mampu merespons “penyerang” dengan media yang ada. Suara mengembek mustahil keluar dari mulut manusia.

Tidak banyak yang bisa demikian. Tidak cuma kemampuan intelektual yang dipunya, tapi kualitas emosi yang baik melatarbelakangi munculnya sikap demikian.

Membalas dengan narasi terukur itu akan dikenang sepanjang masa. Maka perdebatan bersahutan bagai burung beo tidak perlu jadi pilihan.

Anies Menghantar Simbol

Simbol, juga isyarat, bisa jadi media penghantar komunikasi efektif disampaikan. Bisa bersifat khusus maupun umum.

Anies entah disengaja atau justru di luar sadarnya, sering ditafsir menggunakan media simbol, dan narasi semacam isyarat dalam merespons sesuatu hal.

Apa yang diperlihatkan dan dinarasikan sebenarnya hal biasa saja. Tapi yang disampaikan itu, bentuk protes yang “seolah” ditempelkan pada simbol, atau isyarat. Menjadi berkelas.

Saat suasana seolah genting diperlihatkan Pak Dudung Abdurrahman, Pangdam Jaya, dengan operasi sikat habis baliho yang bergambar Habib Rizieq Shihab dan FPI (20/11/2020).

Muncul berseliweran protes atas hal itu. Bukankah baliho-baliho itu, jika mesti dicabut atau diturunkan, itu wilayah kerja Satpol PP Pemprov DKI Jakarta.

Anies tidak berkomentar dengan “ulah” Pangdam Jaya itu. Anies membiarkan saja itu terjadi, tidak protes atau bersuara. Anies memilih diam.

Setelah adegan pencopotan baliho itu, di Ahad pagi (22/11/2020), Anies mengunggah di Facebook dan Twitter, ia sedang santai membaca buku. Buku yang dibacanya tampak mencolok, How Democracies Die (Bagaimana Demokrasi Mati), karya Prof Steven Levitsky dan Prof Daniel Ziblatt.

Baca: Anies Baswedan Resmi Mencabut Izin Proyek Reklamasi 13 Pulau

Orang lalu menafsirkan, itu bahasa simbol. Itu bentuk protes Anies. Buku itu, bisa jadi, pesan tersirat yang dikirim Anies, bahwa masuknya militer ke panggung politik adalah sebuah tanda-tanda (akan) matinya demokrasi.

“Orang lalu menafsirkan, itu bahasa simbol. Itu bentuk protes Anies. Buku itu, bisa jadi, pesan tersirat yang dikirim Anies, bahwa masuknya militer ke panggung politik adalah sebuah tanda-tanda (akan) matinya demokrasi”

Juga dalam melihat dan menyikapi ulah Tri Rismaharini, biasa dipanggil Risma, selaku Menteri Sosial yang baru, yang blusukan memakai “panggung” DKI Jakarta yang tanpa kulo nuwun. Hal semestinya yang patut dilakukan seorang pejabat, Anies pun tidak langsung meresponsnya. Anies memilih diam.

Risma ke kali Ciliwung, menemui para pemulung. Terjadi dialog, dan menawarkan macam-macam fasilitas. Lalu menjadi berita viral.

Juga Risma yang lalu menemukan gelandangan di kawasan Sudirman-Thamrin, meski orang menyebut aneh di kawasan itu ada gelandangan. Terjadi dialog, dan lalu viral. Netizen menyebut itu aksi pansos Risma semata. (Lihat, “Risma Bagai Roti Dikerubuti Lalat“).

Selaku Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memposting di Instagramnya, mengabarkan kunjungannya ke Rumah Sakit Fatmawati, di kawasan Cilandak, 7 Januari 2021.

Di akun Instagram @aniesbaswedan, Anies mengajarkan sikap seorang pejabat yang semestinya saling menghormati, dan tahu akan wilayah kerjanya.

Baca: Dua Pendekatan Mendidik Anak Menurut Anies Baswedan

Menjadi menarik, bukan pada foto yang diunggahnya, tapi narasi yang ditulisnya amat menggelitik. Anies tetiba menulis kata adab dan etika.

“Untuk menghormati adab dan etika, pagi ini berkabar terlebih dahulu kepada Menkes bahwa saya akan mengunjungi rumah sakit yang milik Kemenkes, bukan milik DKI.”

Adab dan etika, dua kata yang dinarasikan Anies itu, meski disampaikan “seolah” hal biasa saja, tapi punya muatan tajam. Adab dan etika itu pertanda, bahwa kita masih bagian dari manusia selayaknya.

Kata adab dan etika dipilih Anies, tentu hal tidak biasa. Lalu orang boleh mengaitkan dengan peristiwa tidak semestinya. Itu menyangkut aktivitas Risma, yang seolah masih sebagai wali kota Surabaya, yang sedang dialog dengan gelandangan di jalan Tunjungan dan jalan Darmo, dua kawasan elit di Surabaya.

Anies “seolah” mengirim pesan, mengajarkan adab dan etika selayaknya bagi seorang pejabat. Itu setidaknya yang ditangkap netizen, dan lalu komentar bermacam memujinya.

Tentu hanya Pak Anies sendiri yang tahu penggunaan kata itu dimaksudkan sebagai apa. Berhenti hanya pada keterangan foto yang ada, atau sebagai pesan pada Risma, sebagaimana yang ditangkap netizen. Rasanya, itu sebagai pesan syantik Anies…*

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Anies Baswedanbahasa simbol
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ali Mazloum, Hakim Federal Muslim Pertama di Brazil
Tulisan selanjutnya Investigasi Komnas HAM Soal Tewasnya Laskar FPI, HNW: Kok Bukan Pelanggaran HAM Berat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Berita
3 September 2026 13:38
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?