Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mengokohkan Pancasila dengan Agama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juni 2017 16:16 4:16 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juni 2017 16:16
Bagikan
SIdang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah  

 

MINGGU ini kita disibukkan dengan pro kontranya hari lahir Pancasila, 1 Juni. Rasanya yang terpenting dari peringatan ini, kita mengamalkan Pancasila saja lah. Karena belakangan ini kita sudah bosan melihat Pancasila oleh sebagian kalangan ramai digembar-gemborkan, dipidatokan, disemboyankan, dan dikampanyekan, tapi sepi-sepi saja diamalkan dalam kehidupan nyata. Bahkan malah dikhianati.

Ada partai yang berteriak ideologinya Pancasila dan katanya partai wong cilik, tapi mendukung calon gubernur yang menghancurkan rumah orang miskin. Ada pejabat publik yang menegaskan Pancasila sebagai ideologi negara, tapi menodai kesucian agama. Ada pemimpin yang berkata “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, tapi membiarkan tambang emas dirampas asing. Beribu kali diucapkan pun Pancasila itu, akan kosong saja kata-katanya. Tak berdampak!

“Yang Pancasilais itu kan bukan yang ‘senang ngomong’ Pancasila melulu,” ujar Tokoh NU, mantan Menteri Agama, Kiai Saifuddin Zuhri, dalam Panji Masyarakat, 15/10/1978. “Bahwa esensi Pancasila tidak pada ‘ngomong’nya, tapi perbuatan.”

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Kiai Saifuddin betul! Pertanyaannya, yang seperti apa perbuatan Pancasila itu? Dijawab oleh anaknya, Menteri Agama yang sekarang, Lukman Hakim Saifuddin. Kata Lukman, Pancasila pada hakikatnya merupakan wujud  dari pengamalan dan pelaksanaan nilai agama (Republika, 2/6/2017). Itu artinya, orang-orang yang menjalankan ajaran agamanya, otomatis juga mengamalkan Pancasila. Jadi sangat mengherankan kalau ada kalangan yang masih doyan membenturkan syariat agama dengan Pancasila.

Baca: “Menjernihkan Tafsir Pancasila”

Kalau hari-hari ini kita tidak merasakan hidup berpancasila, barangkali memang itu karena kita belum sepenuhnya mengamalkan ajaran agama. Kita masih memisahkan politik dengan agama, tidak adil menegakkan hukum, intoleran, berkata kasar, mencaci dan memusuhi saudara sebangsa, bertindak sewenang-wenang, tidak berdaulat atas kekayaan sumber daya alam, korupsi, membiarkan yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin, dan seterusnya. Karenanya sangat mendesak kita menerapkan kehidupan beragama sekarang ini.

Seorang cendekiawan muslim, Prof.Dr.Deliar Noer, dalam bukunya Islam, Pancasila, dan Asas Tunggal (1983) menyebutkan, di antara syarat hidupnya lingkungan penghayatan dan pengamalan Pancasila adalah kehidupan beragama. “Tidak pada perumusan-perumusan, tidak pada penjabaran yang sengaja disusun, dan tidak pada bentuk-bentuk penyelenggaraan yang sengaja dipersiapkan apalagi dengan biaya jutaan,” terangnya.

Untuk menciptakan kehidupan beragama, sangat diperlukan peran aktif umat Islam. Mengingat jumlahnya paling banyak di negeri ini. Tentu akan sangat memberikan pengaruh besar bagi kehidupan beragama. Terlebih Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Baca: Jangan Pertentangkan Islam dan Pancasila

Selain umat Islam, peran penguasa juga sangat penting dalam menjaga agama. Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, menyatakan, agama sebagai pondasi dan peguasa adalah penjaganya. Sesuatu tanpa pondasi, maka akan runtuh. Begitu pun sesuatu tanpa penjaganya, maka akan musnah. Menjaga dengan cara seperti apa? Misal, dengan menjamin dan melindungi kebebasan warga negaranya untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing, atau membuat kebijakan-kebijakan yang memuat syariat agama.

Kita bersyukur sudah ada UU Peradilan Agama, UU Perkawinan, UU Haji, UU Zakat, UU Wakaf, UU Perbankan Syariah, UU Jaminan Produk halal dan lain sebagainya. Tentu ini menggembirakan. Apalagi kalau Undang-Undang semacam ini lebih banyak lagi diproduksi. Meski begitu, masih banyak juga Undang-Undang yang bertentangan dengan agama, terutama hukum pidana. Ini yang harus disesuaikan.

Kalau umat dan penguasa bisa menjaga kehidupan beragama, maka niscaya terjaga pula Pancasila. Menjalankan ajaran agama akan semakin mengokohkan Pancasila.

Karenanya jangan lagi ukuran Pancasila selalu ditempatkan di belakang pemujaan terhadap tokoh. Tapi tempatkanlah ia sekarang di belakang agama.*

Penulis adalah pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Islam dan Pancasilapancasilapiagam Jakartaumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Muslimah Tunadaksa, Demi Jadi Guru “Gadaikan” Ijazah kepada Allah
Tulisan selanjutnya Presiden Erdogan Lakukan Serangkaian Pembicaraan Terkait Perkembangan Qatar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?