Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

H Agus Salim: Pemimpin yang Menderita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 November 2020 16:16 4:16 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 November 2020 16:16
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com |‘Leiden Is Lijden”;  memimpin itu menderita, demikian pepatah kuno berbahasa Belanda. Pemimpin yang baik adalah mereka yang memilih terdepan dalam derita dan terakhir dalam bahagia demi yang dipimpinnya.

Dalam catatan sejarah banyak sekali kita dapati para pemimpin yang mengimplementasikan pepatah Belanda tersebut.  Tentu saja dimulai dari kepemimpinan Rasulullah ﷺ, Amirul Mukminin Radiyallahu Anhum hingga para sultan dan raja-raja yang terkenal adil dalam jejak rekam sejarahnya.

Dalam masa perjuangan memerdekakan Republik ini, sejarah emas Indonesia banyak menorehkan kisah keteladanan para pemimpin bangsa. Salah satunya adalah H. Agus Salim.

Menurut Mr. Kasman Singodimejo, slogan Leiden Is Lijden yang bermakna memimpin adalah menderita sangat melekat erat dalam identitas khas sang guru bangsa itu.  Pejuang berjuluk The Grand Old Man (Sesepuh Agung) itu memang dikenal sangat bersahaja dalam kehidupannya.

Agus Salim Sang Jenaka Penopang Republik adalah salah satu putra terbaik Indonesia asal ranah Minang. Tokoh pergerakan yang masih keponakan dari ulama besar Syaikh Khatib Al Minangkabawi itu sangat jenius dalam bidang bahasa.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Sang Poliglot itu dikabarkan menguasai sedikitnya sembilan bahasa asing secara aktif.  Diplomat ulung yang  bernama asli Masyhudul Haq itu sangat disegani di kalangan kawan maupun lawan baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Sesuai arti namanya, sang pembela kebenaran itu sangat cakap menjaga kedaulatan Indonesia di mata Internasional.  Beliau bisa berbicara atas nama bangsa Indonesia tanpa harus ”menjual” Indonesia layaknya menyajikan masakan gratis atas nama investasi di atas piring-piring para kapitalis seperti yang kini jamak terjadi.

Pengkader para pejuang muda bangsa macam Mohammad Natsir, Roem, Kasman Singodimejo, Prawoto dll itu sangat dihormati oleh Presiden Soekarno.  Karena kepiawaiannya dalam berdiplomasi, Bung Karno tidak pernah ragu menaruh beliau di garda terdepan gerbong diplomasi Indonesia.

Sebab Presiden Soekarno paham bahwa beliau orang yang tepat, tidak akan gadaikan kehormatan bangsanya untuk mengemis-ngemis kepada bangsa asing. Diplomasinya elegan dan pasti didengar oleh bangsa asing. Namun hanya satu kelemahan beliau, yakni hidupnya selalu melarat.

Seorang profesor, sekaligus Perdana Menteri Belanda (1945-1946), Willem Schermerhorn dalam buku hariannya, Het Dagboek van Schermerhorn, secara gamblang pernah memuji sosok Haji Agus Salim.  Menteri Muda Luar Negeri periode 1946-1947 itu digambarkan sebagai sosok ouwer heer (orang tua) yang sangat pintar.

Bahkan bisa dikatakan paling cerdas di antara para perwakilan Republik (Indonesia) yang pernah ditemui Schermerhorn selama masa perjuangan diplomasi. “Dalam hubungan ini saya khusus ingat kepada Salim, yang pada suatu hari akan saya undang di Istana sini. Orang tua yang sangat pintar ini seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit sembilan bahasa. Salim hanya memiliki satu kelemahan: selama hidupnya dia melarat,” kata Schermerhorn.

Padahal jika mau memilh hidup ”normal” beliau akan kaya raya. Tetapi beliau lebih memilih melarat karena tidak mau diikat oleh dunia. Beliau memilih jalan para sholihin yakni wara’ dan zuhud, sebab jiwanya sudah kaya. Jangankan meminta kenaikan gaji dan tunjangan seperti para anggota dewan saat ini, berfikir mengenai hal itu saja tidak terlintas dalam benaknya.

Salah satu dari sembilan perumus Pembukaan UUD 45, anggota dewan Volksraad, diplomat ulung yang meraih pengakuan internasional pertama bagi RI, dan Menteri Luar Negeri era revolusi itu sampai akhir hayatnya hidup berpindah-pindah. Sepanjang hidupnya H. Agus Salim hidup nomaden, berpindah-pindah dari kontrakan di satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Baru setelah kematiannya, selang beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan untuk membeli rumah kontrakannya itu demi mengenang sang ayah.  Inilah sekelumit gambaran salah satu sosok pemimpin dari kalangan pribumi yang mulai langka di zaman ini.

Seorang pemimpin yang konsisten memilih jalan menderita dalam laku nyata bukan slogan kampanye belaka. Pemimpin yang berwawasan luas, cakap, paham agama, dan bisa mendengar pendapat orang lain.

Pemimpin yang mampu menyatukan bangsanya dan meredam seteru sesama anak bangsa meski berbeda pendapat.  Sebab sejatinya pemimpin memang boleh dikagumi namun bukan untuk difanatiki sepenuh mati.

Pemimpin juga harus merasa legawa jika memang salah karena mereka bukanlah nabi yang ma’shum.  Pemimpin juga harus mau dikritisi karena mereka hidup di dunia nyata yang di dalamnya ada potensi untuk melakukan kesalahan maupun kebenaran.

Sebab yang tak bisa dikritisi hanyalah seorang Pemimpi yang hidup hanya di ruang imaji dimana di dalamnya nilai benar dan salah bisa ditentukan sesuai kehendak pribadi. Semoga negeri kita dikarunia oleh Allah para pemimpin yang benar-benar bisa merasa menderita demi rakyatnya.

Bukan hanya seorang pemburu kuasa yang hanya bisa jadi “leiders die het de mensen vertellen” alias pemimpin yang menderitakan rakyat. Setidaknya semoga lekas muncul H. Agus Salim – H. Agus Salim yang baru di negeri ini. Wallahu A’lam Bis Showab.

Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan, Pembaca Sejarah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BelandaDiplomat UlungH Agus SalimKasman SingodimejoLeiden Is LijdenMasyhudul Haqpemimpin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mesut Ozil: Kita Lawan Islamofobia dengan Kebaikan
Tulisan selanjutnya Kemenag Mutasi Kepala KUA Petugas Pernikahan Putri HRS karena Dinilai Abaikan Protokol Kesehatan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?