Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Nasib Guru Hervina, Bukan di Zaman Romusha

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Februari 2021 06:45 6:45 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Februari 2021 06:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Kasihan guru Hervina, kasihan nasibnya. Sudah 16 tahun mengabdi sebagai guru honorer di salah satu SDN, di Bone, Sulawesi Selatan.

Kasusnya hanya sederhana, karena saking senangnya ia meng- upload gajinya yang Rp 700 ribu di media sosial. Nasibnya menjadi nelangsa.

Ia langsung dipecat sang kepala sekolah sebagai guru di SDN itu, tempat pengabdiannya selama ini. Itu karena unggahannya viral menggelegar.

Satu pihak, guru Hervina, meng- upload itu karena riang gembira mendapatkan hak gajinya, uang halal atas jerih payahnya sebagai guru selama sebulan.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Sedang pihak lainnya, kepala sekolah, yang lagaknya percis bak Menteri Dikbud, Mas Nadiem Makarim, saat mendengar ada SMKN di Padang, Sumatera Barat mewajibkan siswinya yang non-Muslim memakai hijab, langsung instruksinya pecat kepala sekolahnya.

Kepala Sekolah di tempat guru Hervina mengajar, itu pun lalu mengikuti jejak sang Menteri, memecatnya. Tidak tahu persis apakah ada pejabat di atasnya yang menelpon untuk memecat, atau inisiatifnya sendiri.

Alasan pemecatan itu katanya, karena ada 2 guru baru ASN, maka itu yang lebih diutamakan. Dan lalu guru honorer belasan tahun itu dipecatnya. Bisa jadi itu cuma alasan pembenar pemecatan, meski dengan alasan tidak manusiawi.

Baca:  CAP Adian Husaini:  Jiwa Guru

Banyak yang lebih percaya, pemecatan itu karena langkah guru Hervina dianggap memalukan sekolah, yang cuma bisa menggaji guru belasan tahun dengan gaji seuprit.

Tidak ada yang tahu persis, meski guru Hervina mengatakan, bahwa tidak ada niatan lainnya kecuali rasa senang mendapatkan gajinya itu, atau justru itu bentuk “pemberontakan” agar nasibnya, dan nasib guru-guru honorer lain di seluruh negeri bisa terangkat.

Meski itu diniatkan sebagai perlawanan lewat medsos, itu haknya. Tidak ada aturan larangan meng- upload gaji yang diterima. Memang hal tidak patut, tapi bukan perbuatan terlarang, apalagi pelanggaran yang sampai harus diganjar dengan pemecatan.

Belasan tahun jadi guru honorer, itu pengabdian luar biasa. Sungguh miris jika karena kesalahan yang debatable, lalu pengabdian panjangnya itu terhapus, seperti debu tersapu angin.

Baca: Belajar Tanpa Guru Berakibat Melahirkan Rusak Pemikiran

Mas Nadiem Dengar Gak, ya?

Tidak juga persis tahu, apakah Mas Nadiem dengar tidak ya nasib guru Hervina itu, semacam ia dengar masalah pemaksaan pemakaian hijab di Padang. Kalau di Padang dengar, mustahil di Bone tidak didengarnya.

Dari segi pemberitaan dan penyikapan soal “pemaksaan” penggunaan hijab, yang di Padang tentu lebih seksi, dan karenanya menjadi pintu masuk terbitnya SKB 3 Menteri.

Sedang kasus yang dihadirkan guru Hervina, itu kasus tidak seksi, bahkan bisa menjebak terbitnya keputusan menteri, berkenaan penetapan maksimal guru honorer bisa diangkat menjadi guru tetap. Ini justru yang dihindari.

Baca: 6 Guru Honorer Pro Prabowo Yang Dipecat Gajinya Belum Dibayar

Permasalahan guru honorer, ini tidak kunjung bisa diatasi oleh rezim yang lalu-lalu, maupun yang sekarang. Nasib guru honorer terkatung-katung. Tidak lebih baik dari nasib nelayan.

Maka tidak sedikit nasib guru honorer yang sepanjang pengabdiannya tetap sebagai guru honorer. Tidak pernah merasakan diangkat sebagai guru tetap. Bahkan sampai wafat pun, bermimpi diangkat sebagai guru tetap tidak pernah dirasakan.

Tidak tahu persis bagaimana kelanjutan nasib guru Hervina, yang hidup bukan di zaman romusha. Apakah nasibnya berbuah manis, karena peruntungannya disikapi secara baik, atau justru sebaliknya.

Jika sebaliknya yang terjadi, itu sama dengan negara tidak hadir menyapa dan membela selayaknya atas hak-haknya. Tentu tidak berharap yang demikian, agar kata zalim tak sempat keluar dari mulut ini. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca opini Ady Amar lainya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gajiguruguru honorer
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketua MUI: Menuduh Prof Din Radikal adalah Fitnah Keji
Tulisan selanjutnya Fatwa MUI: Aktivitas Buzzer dan Yang Mendukungnya Haram

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Feature
29 Agustus 2026 10:49
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?