Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Puan-Anies atau Anies-Puan, Berjodohkah?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juni 2021 22:02 10:02 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Juni 2021 06:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PUAN-ANIES adalah wacana jodoh-jodohan yang diusulkan Effendi Simbolon, pengurus PDI-P, dan anggota DPR RI. Ia terang-terangan menolak “perjodohan” Prabowo Subianto dengan Puan Maharani. Tanpa tedeng aling-aling, ia katakan bahwa Prabowo sudah sulit dijual untuk Pilpres 2024. Lebih kurang demikian ujarnya.

Pantasnya Mbak Puan itu disandingkan dengan Anies Baswedan. Artinya, Puan untuk capres, dan Anies cawapresnya. Jika dengan Prabowo posisi Puan hanya sebagai cawapres. Mungkin itu juga pikirnya. Ia ingin putri mahkota PDI-P itu nantinya sebagai RI-1.

Tawaran perjodohan versi Effendi Simbolon ini sulit direalisasikan. Banyak faktor yang melatarbelakangi. Satu di antaranya, bukannya pekan lalu jelas-jelas PDI-P sudah menjelaskan adanya perbedaan “ideologi” dengan partai PKS, partai yang jelas-jelas mengusung Anies Baswedan, bahkan sejak pencalonannya menjadi calon gubernur DKI Jakarta.

Memang sih tidak jelas apa yang dimaksud dengan beda “ideologi” sebagaimana ungkapan Sekjen PDI-P, Hasto Kristianto. Tampaknya Hasto asal jeplak, bicara tanpa mikir. Apa yang dimaksudnya itu PKS tidak berideologi Pancasila, dan hanya PDI-P partai yang paling pancasilais? Mestinya harus dijlentrehkan apa yang dimaksudnya dengan beda “ideologi” itu.

Baca: Ulah Makhluk Tanpa Nalar, Itu Buat Elektabilitas Anies Baswedan Meroket

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Jangan hanya berwacana beda “ideologi” dan jika ditanya bedanya di mana tak mampu jawab. Itu sih sama dengan kucing maling dendeng. Setelah mencuri lalu lari terbirit. Bicara asal gagah-gagahan tanpa makna, itu menandakan kualitas bersangkutan.

Beda “ideologi” itu bisa jadi yang memisahkan Puan dan Anies, setidaknya itu versi Hasto. Sedang yang kedua, yang sulit direalisasikan adalah posisi Anies yang sebagai cawapres. Memangnya yang mau dijual itu Puan atau Anies. Ini dulu yang perlu dijawab. Dan itu bisa dilihat dari elektabilitas keduanya.

Effendi Simbolon menjamin jika Mbak Puan (ia biasa memanggil), setelah turun ke daerah dalam rangka pencapresan, maka elektabilitasnya akan naik dengan sendirinya, bahkan melebihi Ganjar Pranowo. Dan itu yang dikatakan Effendi pada Mbak Puan, meyakinkan tentang elektabilitasnya. Keyakinan Effendi Simbolon pada Mbaknya itu boleh-boleh saja.

Dalam politik yang abadi memang kepentingan. Jika beda “ideologi” versi Hasto itu dianulir, dan terjadi kemufakatan Anies-Puan. Artinya, Anies sebagai capres, dan Puan menjadi cawapresnya. Lantas kira-kira tingkat keterpilihannya berapa persen. Itu pun mesti dihitung cermat oleh partai pengusung Anies Baswedan.

Di akar rumput umat (Islam) muncul penilaian yang hampir sama, bahwa pasangan Anies-Puan itu justru akan menggerus suara Anies. Berharap Anies bisa numpang banteng, tapi justru malah manggul banteng. Maka suara umat yang membersamai Anies sejak sebagai calon gubernur hingga kini, tanpa pernah berpisah, harusnya jadi perhatian utamanya.

Tapi setidaknya Anies “dihargai” selayaknya oleh politisi PDI-P, Effendi Simbolon, bahwa ia memang bisa dijual. Bahkan menurutnya, Puan bisa memenangkan kontestasi di 2024, itu jika berpasangan dengan Anies Baswedan. Meski apa yang disampaikannya itu bersifat pribadi.

Baca: Langkah Ganjar Terhenti, Tapi Tidak Langkah Anies

Simulasi yang Dibuat Diam-diam

Effendi Simbolon meski politisi, ia tampak bicara fair, saat kecenderungan perjodohan Partai Gerindra dan PDI-P (Prabowo-Puan), ia memilih sikap yang berbeda dengan arus besar yang ada di partainya.

Ia tidak melihat elektabilitas Prabowo Subianto, yang di hampir seluruh lembaga survei ada di posisi 1. Anies dan Ganjar saling salip menyalip di urutan 2 dan 3. Tapi ia mengabaikan hasil lembaga survei yang ada, yang memposisikan Prabowo ada di atas Anies.

Memang bukan rahasia umum lagi, bahwa hanya sedikit lembaga survei yang benar-benar obyektif dalam merilis surveinya. Dan Effendi Simbolon pastinya tahu persis dengan lembaga-lembaga survei itu. Bahkan bisa jadi ia tahu, mana hasil elektabklitas yang dikatrol dan mana yang riil hasil yang sebenarnya.

Pilpres masih sekitar 2,5 tahun lagi. Segala kemungkinan bisa terjadi. Maka hal yang biasa jika kita lihat suasana sudah mulai dipanaskan dengan manuver-manuver yang ada. Kunjungan Prabowo Subianto dan jajarannya ke Teuku Umar (kediaman Megawati Soekarnoputri), disambut dengan suka cita.

Setelah acara itu, muncullah pernyataan tidak produktif Hasto tadi, yang mengatakan PDI-P menolak berkoalisi dengan PKS dan Partai Demokrat. Yang satu beda “ideologis”, sedang yang satunya beda “DNA”.

Muncullah manuver-manuver lainnya, acara kunjung-mengunjungi dilakukan dengan intensitas tinggi, dan tentu dengan mengundang media. Paling anyar adalah kunjungan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat, yang mengunjungi Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Mereka berboncengan moge, Ridwan Kamil membonceng AHY. Dan lalu seperti biasanya di depan pers keduanya saling puji-memuji.

Baca: Pilihan Anak Muda pada Anies Baswedan Sebagai Presiden, Tidaklah Mengejutkan

Sebelumnya, Ridwan Kamil juga didatangi Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar. Jauh sebelumnya, baik AHY dan Airlangga juga mendatangi Anies di Balai Kota Jakarta. Dan yang fenomenal saat Anies menghadiri undangan Rakorwil Partai Nasdem DKI Jakarta, yang hadir untuk membukanya, suasana di acara itu menjadi gemuruh suara hadirin mengelu-elukannya layaknya Presiden.

Pemanasan sudah dimulai, dan itu hal biasa. Saling membuat panggung dan beritanya sendiri untuk pada saatnya bisa diperhitungkan laik tidaknya untuk dijual. Maka sudah mulai dimunculkan simulasi siapa berpasangan dengan siapa.

Tentu simulasi ini bisa jadi acuan partai pengusung untuk mempertemukan jagoannya bersanding dengan siapa pada perhelatan Pilpres 2024 itu. Maka tampaknya hanya Anies yang dalam simulasi yang diadakan diam-diam berbagai partai, adalah yang paling menjual. Dan itu bisa tampak dari seberapa banyak perhatian partai-partai yang ada untuk menjodohkannya dengan kandidat yang diusung partai lain.

Tentu apa yang diusulkan Effendi Simbolon yang menjodohkan Mbak Puan(nya) dengan Anies, itu bukan sekadar lip service. Ia punya hitungan-hitungannya sendiri. Wallahu a’lam. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca: artikel lain Ady Amar

 

­

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Anies BaswedanAnies-Puancalon presiden 2024capres riPuan MaharaniPuan-Anies
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya peta islam rasis Islamofobia: Sejak Peluncuran ‘Peta Islam” Serangan Rasis Meningkat di Austria
Tulisan selanjutnya Pertama, Turki Lakukan Perjanjian Kerja Sama Keamanan dengan Otoritas Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?