Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Diplomasi Ganja dan Logika Olok-olok Trump

Dunia diplomasi, kadang bukan tentang akal sehat, tapi tentang siapa yang paling berani mempermalukannya.

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Oktober 2025 17:30 5:30 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Oktober 2025 17:30
Bagikan
Donald Trump
Bagikan

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Hidayatullah.com – DONALD Trump kembali menyalakan panggung dengan api yang tak perlu, namun selalu ia butuhkan: api perhatian. Ia menunjuk Mark Savaya, seorang pengusaha ganja, sebagai Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Irak. Sebuah keputusan yang di negeri manapun mungkin hanya menimbulkan decak heran, tapi di Irak—negara mayoritas Muslim, di mana ganja bukan sekadar ilegal tapi dianggap najis secara moral—keputusan itu adalah tamparan terhadap nalar diplomatik.

Trump tentu tahu konsekuensinya. Ia bukan presiden yang tersesat di jalan protokol, tapi pemimpin yang sengaja menabrakkan dirinya pada tembok kesopanan diplomasi. Sejak awal, Trump membangun citra dengan kesengajaan: dari ucapan rasis hingga cemooh pada pemimpin dunia. Ia bukan politisi yang berperilaku salah, ia adalah aktor yang tahu bahwa kesalahan yang dilakukan dengan sadar bisa menjadi pertunjukan paling menguntungkan.

Maka penunjukan Savaya tak bisa dibaca sebagai keteledoran administratif. Ini adalah gertakan simbolik, pesan terselubung dari Trump kepada dunia bahwa ia tak akan tunduk pada tata krama moral yang tidak sejalan dengan logika kekuasaan Amerika. Seolah ia berkata: “Kami yang menentukan norma, bukan kalian.”

Di situlah justru letak tragedinya. Ketika negara seperti Irak—yang sedang berjuang menata diri dari reruntuhan perang dan luka sektarian—membutuhkan kehormatan diplomasi, Amerika justru mengirim figur bisnis yang diasosiasikan dengan narkotika. Ini bukan hanya kesalahan etika, tapi penghinaan terhadap sejarah bangsa yang telah lama dijadikan laboratorium kekuasaan Barat.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Trump tahu dunia Islam memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu ganja dan moralitas sosial. Tapi di tangan Trump, sensitivitas bukan untuk dihormati—melainkan untuk dijadikan alat provokasi. Ia mengerti betul, setiap kemarahan publik Timur Tengah akan memantul kembali ke layar-layar Amerika sebagai bukti “keberanian” melawan kemunafikan dunia Islam. Dengan kata lain, Trump sedang memanen kontroversi sebagai komoditas politik domestik.

Inilah diplomasi versi Trump: politik olok-olok yang dikemas dalam keseriusan negara. Ia menertawakan protokol, melecehkan logika diplomatik, dan menjadikan moralitas internasional sekadar ornamen di dinding Gedung Putih. Dalam pandangan Trump, setiap kemarahan dunia hanyalah tanda bahwa pertunjukannya berhasil.

Tapi dunia, terutama dunia Islam, tak bisa terus-menerus diperlakukan sebagai bahan lelucon. Irak bukan panggung sandiwara, dan rakyatnya bukan penonton yang bisa dipermainkan dengan simbol-simbol vulgar.

Keputusan ini menegaskan bagaimana Washington, di bawah bayang Trump, kembali ke pola lama: menganggap dunia Timur sebagai obyek, bukan subyek diplomasi. Ada ironi besar di balik semua ini.

Trump mengirim pengusaha ganja ke negeri yang menolak ganja bahkan sebagai ide, sementara ia sendiri berbicara tentang “stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah”. Seolah perdamaian bisa dibawa oleh aroma bisnis, bukan oleh penghormatan.

Seolah dunia bisa ditenangkan oleh asap wangi dari ladang ganja yang kini menjadi industri triliunan dolar di Amerika, tapi tetap menjadi dosa di Baghdad.

Kita sedang menyaksikan bagaimana politik global berubah menjadi panggung stand-up comedy, di mana tawa penguasa adalah penderitaan pihak lain. Dan Trump, dengan segala keanehannya, memahami satu hal yang membuatnya terus relevan: dunia ini suka disakiti, asal dengan cara yang menghibur.

Maka jangan harap ada penyesalan. Penunjukan Savaya akan tetap berjalan. Irak mungkin mengeluh, ulama mungkin mengecam, tapi bagi Trump, semua itu hanyalah suara latar dari film yang ia sutradarai sendiri. Ia hidup dari kegaduhan, dan diplomasi hanyalah alat pengatur volume agar sorak penontonnya tak berhenti.

Namun sejarah punya cara untuk menertawakan balik. Ketika masa Trump kelak hanya tinggal catatan di arsip Gedung Putih, dunia akan mengenang masa ini bukan sebagai era kekuatan, melainkan era kejang moral di balik topeng demokrasi.

Dan mungkin, di antara catatan-catatan itu, penunjukan seorang pengusaha ganja ke negeri yang melarang ganja akan dikenang sebagai metafora paling tepat tentang bagaimana absurditas bisa menjadi kebijakan luar negeri Amerika.**

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:diplomasiDonald TrumpTimur Tengah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dinkes: 29 dari 34 Peserta Pesta Sesama Jenis di Surabaya Terbukti Positif HIV
Tulisan selanjutnya Pasukan “Radaa’” Berhasil Menegakkan Ketertiban di Gaza dari Geng Kriminal Bersenjata

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?