Hidayatullah.com— Gerakan Hamas baru-baru ini membentuk pasukan keamanan baru bernama “Radaa’”, sebagai upaya untuk “menegakkan ketertiban dan keamanan publik” dari tangan penghianat kriminal bersenjata yang didukung penjajah ‘Israel’.
Dalam operasi terbarunya, Pasukan Radaa mengumumkan bahwa mereka telah melakukan serangkaian penggerebekan menargetkan tempat persembunyian agen dan tentara bayaran musuh yang berusaha bersembunyi di antara warga sipil. Beberapa dari mereka berhasil dilumpuhkan.
Awal pekan lalu, terjadi bentrokan bersenjata di lingkungan Al-Shuja’iyya di Kota Gaza antara pasukan Radaa’ dan beberapa kelompok bersenjata, termasuk kelompok Yasser Abu Syabab.
Pasukan Hamas menuduh kelompok-kelompok tersebut sebagai “penjahat dan pelaku kejahatan” yang melakukan penjarahan dan mendapatkan pasokan senjata dari Tel Aviv.
Dalam pernyataan hari Selasa itu, Hamas mengatakan bahwa pasukan Radaa’ telah mengepung area operasi milisi Abu Syabab, yang memungkinkan mereka “menguasai lokasi dan menangkap para buronan tanpa perlawanan berarti.”
Sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 setelah perang dua tahun, Hamas berupaya menegaskan kembali kendalinya atas Jalur Gaza yang hancur akibat konflik.
Sesaat setelah gencatan senjata diberlakukan, Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza mengumumkan program amnesti bagi anggota geng dan kelompok bersenjata yang tidak terlibat pembunuhan, guna “menyelesaikan status hukum mereka.”
Namun, menurut sejumlah sumber lokal, Hamas juga memburu dan menindak tegas individu yang menolak menyerahkan diri kepada aparat keamanan.
Dengan operasi ini, Hamas menegaskan bahwa penegakan keamanan internal dan pembersihan terhadap pihak-pihak yang dianggap kolaborator ‘Israel’ merupakan prioritas utama setelah berakhirnya perang.
Langkah ini sekaligus menandai upaya Hamas memperkuat kembali cengkeramannya atas Gaza, dengan menumpas kelompok-kelompok yang dipandang mengancam “ketertiban umum dan kedaulatan nasional.”
Sejak kesepakatan gencatan senjata dicapai di Jalur Gaza setelah genosida dua tahun, pasukan keamanan Hamas telah berusaha untuk kembali ke jalan-jalan untuk menegaskan kekuasaannya pada situasi di daerah kantong Palestina yang hancur.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional di wilayah Gaza bahkan mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah membuka pintu untuk amnesti bagi anggota “Geng Kriminal” yang didukung ‘Israel’ dan banyak terlibat dalam pertumpahan darah dan menuntut mereka yang menolak menyerah kepada dinas keamanan, menurut sumber lokal.*




