Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Perempuan dalam Cengkraman Kapitalisme

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 19 Mei 2020 15:01 3:01 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 19 Mei 2020 15:01
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayatullah.com | PEREMPUAN dan bisnis, seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisah. Hal ini tidak terbantahkan manakala kita melihat realita bahwa hampir semua iklan sebuah produk pasti menyertakan tenant perempuan di dalamnya.

Di luar produk kosmetik, sekitaran keperempuanan dan dapur, iklan yang tak ada hubungannya dengan perempuan pun juga memakai perempuan sebagai bintang iklannya.  Bahkan tak jarang produk yang “lelaki banget” dan tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan perempuan masih pula didominasi kaum hawa sebagai pemanis iklannya.

Selain iklan, jamak kita dapati bejibun audisi yang menghimpun banyak peserta juga tak luput dari serbuan perempuan. Mulai dari audisi memasak, menyanyi, casting film dan iklan serta masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu-persatu.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

“Ajaran” agar perempuan berada di rumah saja nampak sudah kurang laku pada zaman dimana semua orang ingin viral seperti saat ini.

Apakah motivasi para perempuan mengenai keterlibatannya dalam semua hal tersebut, mungkin jika ada daftar alasan maka demi mengejar popularitas adalah kata pertama yang akan bertengger di urutan pertama.

Padahal jika ditanyakan apakah popularitas adalah syarat utama untuk bahagia bagi para perempuan? Jawabannya tentu tidak.

Marlyn Monroe, artis Amerika yang menjadi icon seks dunia paling populer pada tahun 1950 – an yang terkenal sedunia dengan pose rok terangkat karena tersapu angin – nya pernah mengeluh di dalam sebuah memoirnya.

“Waspadalah terhadap kemasyhuran, waspadalah terhadap pujian yang disampaikan orang atas permainan di film. Saya adalah perempuan yang paling malang di atas bumi ini. Karena saya tidak dapat menjadi seorang ibu , saya rindu kepada rumah tangga yang bahagia. Kehidupan bersuami-istri itulah lambang kebahagiaan seorang perempuan. Bahkan, kebahagiaan bagi segenap umat manusia. Bekerja sebagai artis bagi perempuan ibarat barang dagangan yang murah. Ia tidak mempunyai nilai yang luhur. Meski ia mendapatkan kejayaan dan kemasyhuran yang gemilang.” (MacCormack, 1980).

Artis yang meninggal di usia muda akibat overdosis obat-obatan itu semasa hidupnya memang mengalami nikah-cerai beberapa kali.  Keluh kesah dalam memoirnya itu menggambarkan bagaimana kebahagiaan ternyata tak pernah ia dapatkan meskipun karirnya meroket.

Artinya kesuksesan duniawi tak selalu berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan seseorang.  Harusnya memoir itu bisa dibaca oleh para perempuan di zaman ini yang sedang terjebak dan dijebak oleh syahwat untuk mengejar popularitas akibat kampanye masiv para kapitalis.

Para kapitalis dunia sedang menjebak perempuan demi bisnis mereka. Tubuh perempuan mulai ujung rambut hingga ujung kaki dieksploitasi sedemikian rupa sebagai pemanis dagangan mereka.

Ironisnya, kebanyakan perempuan tidak menyadari bahwa mereka sedang dijadikan manekin hidup oleh para Kapitalis tersebut. Dan yang lebih mirisnya lagi ada perempuan yang sudah sadar akan hal itu namun malah menikmatinya.

Di dalam buku Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, halaman 31-32, Dr. Irwan Abdullah dalam tulisannya yang bertajuk Kematian Perempuan : Tubuh Perempuan Dalam Iklan,  menulis bahwa perempuan sesungguhnya bukan hanya menghadapi musuh lama (laki-laki), tetapi musuh baru yang lebih perkasa, yakni Kapitalisme.

Laki-laki bahkan telah dimanfaatkan oleh Kapitalisme untuk bersama-sama melestarikan struktur hubungan gender yang timpang. Pelestarian ketimpangan hubungan itu tidak hanya menyebabkan perempuan semakin tersubordinasi, tetapi juga menyebabkan terjadinya subordinasi perempuan oleh perempuan sendiri.

Hal ini tampak dari posisi yang ditempati perempuan dalam iklan dimana di satu sisi perempuan merupakan alat persuasi di dalam menegaskan citra sebuah produk dan di sisi lain perempuan merupakan konsumen yang mengkonsumsi produk Kapitalisme. (Fine & Leopold, 1993 : 208).

Keberadaan perempuan dalam iklan ini sesungguhnya juga menggelisahkan perempuan lain, karena produk yang ditawarkan oleh sebuah iklan telah membangkitkan fantasi begitu banyak perempuan lain terhadap produk mengingat perempuan merupakan kelompok pembelanja terbesar. (Courtney & Whipple, 1983 : 69).

Deborah Lupton mengatakan bahwa iklan – iklan pada dasarnya menggunakan tubuh perempuan untuk membangkitkan daya tarik erotik terhadap suatu produk. (Lupton, 1994 : 36).

Keberadaan perempuan seperti yang terlihat di dalam iklan tampaknya ditentukan oleh serangkaian hubungan yang rumit. Tubuh yang merupakan bagian paling private dari seorang perempuan telah menjadi milik publik yang tampak dari cara tubuh perempuan ditampilkan.

Iklan yang menonjolkan bentuk, penampilan, dan keindahan tubuh ditayangkan ke rumah-rumah dan ke berbagai ruang publik dimana proses belajar berlangsung. Pada saat terjadi pergesearan dari dunia private ke publik terjadi pula pergeseran citra tentang perempuan, namun yang menarik proses ini tidak menyebabkan terbentuknya potret perempuan yang baru, tetapi lebih merupakan “penegasan kembali” potret lama dimana perempuan merupakan objek seks. (Abdullah, 1996).

Mengenai dominasi Kapitalisme pada tubuh perempuan tersebut, Fuocault mengatakannya sebagai The Death Of Subject yakni perempuan sebagai subjek telah mati.  Dimana ia tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, tetapi telah dikendalikan oleh ideologi dan kepentingan pasar. (Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, hal. 43).

Bahkan bagi Irigaray, perempuan dianggap “Not Knowing What She Wants” alias tidak tahu apa yang ia mau. (Rojek & Turner, 1993 : 95).

Mereka seperti robot yang dikendalikan oleh tangan-tangan Kapitalis. Perempuan sejatinya sedang dijajah baik tubuh dan pemikirannya oleh para Kapitalis.  Namun alih-alih sadar mereka malah menyangka bahwa kehidupan yang mereka jalani sekarang adalah sebuah kehormatan dan kesuksesan.

Di dalam Al Qur’an dijelaskan banyak sekali bentuk pemuliaan Islam kepada perempuan. Bahkan ada satu surah dalam Al Qur’an yang memakai identitas gender tertentu yakni perempuan, yaitu surah An Nisa’.

Surah yang menjelaskan tentang berbagai macam permasalahan yang menyangkut perihal perempuan. Di dalamnya dijelaskan tentang hak hak, kewajiban, dan kisah-kisah perihal keperempuanan.

Merupakan suatu hal yang sangat mulia dimana satu Juz dalam Kitabullah Al-Qur’an di setiap ayatnya membahas penuh perihal perempuan.  Dalam ayat pertama surah tersebut disebutkan bahwa,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan Kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS: An Nisa” : 01).

Kalimat dalam ayat tersebut menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari satu tubuh yakni tulang rusuk sebelah kiri dari Nabi Adam As, seperti dalam penjelasan beberapa hadis. Artinya fitrah perempuan adalah pendamping yang memang disiapkan Allah untuk melengkapi lelaki.

Bahkan di dalam Islam perempuan dikodratkan mesti dijaga oleh lelaki.

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) , dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah dari hartanya.“ (QS: An-Nisa : 34).

Berbeda dengan Kapitalis Barat yang memposisikan perempuan sebagai alat dagang bekaka , Islam memandang perempuan sangat mulia bahkan menjadi standar kesenangan tertinggi di dunia ini bagi para lelaki.

“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan / kesenangan dunia adalah perempuan yang shalihah.” (HR. Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Adakah sama Islam dengan para Kapitalis dalam menempatkan perempuan?

Tentu sangat berbeda. Yang satu menjadikannya alat bisnis sedangkan yang satu memuliakan perempuan sedemikian rupa. Sebagai penutup tulisan saya kutipkan pernyataan menarik dari La Rose yang dia tulis di sampul bukunya, Dunia Perempuan, yang berbunyi, “Masalah yang dihadapi kaum perempuan kian hari semakin banyak semakin sulit, semakin rumit dan semakin kompleks, karena perempuan harus ada dimana-mana, di pabrik, di kantor, di dalam organisasi sosial, bahkan di posisi penting pemerintahan; sementara letak dasar perempuan paripurna harus tetap di dalam rumah tangga, di samping suami, di jangkauan anak-anak tercinta, di lingkungan keluarga, di ajang pergaulan sesama manusia. Justru di situ letak masalah, kian hari kian banyak persoalan yang dihadapi, perempuan cenderung kian lalai pada fitrahnya.” Wallahu A’lam Bis Showab.*

Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kapitalismekolonialismeperempuanwanita
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Parpol Tampak Sibuk , Raja Malaysia: Jangan Berpolitik Semasa Pandemi Covid-19
Tulisan selanjutnya Mahfud MD: Kegiatan Keagamaan yang Masif Kumpulkan Orang Banyak Dibatasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

genosida bosnia
Berita

Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun

Berita
28 Agustus 2026 02:27
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?