Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Organisasi Bubar, Ideologi Berkobar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Mei 2017 09:07 9:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Mei 2017 09:07
Bagikan
Partai Masyumi: Menjadikan politik sebagai wasilah dakwah
Bagikan

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

 

PADA hari Senin kemarin (08/05/2017) jagat media diramaikan kasus pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah.

Aroma kejanggalan begitu tercium tajam ketika hari ini dilangsungkan sidang putusan terdakwah penistaan agama: Ahok. Apa itu kebetulan atau justru pengalihan isu? Ironisnya, kenapa terhadap HTI penguasa seolah “gagah perkasa”, tapi kepada Ahmadiyah dan Syi’ah misalnya, seakan “tak berdaya”?

Masyarakat mungkin akan bertanya: Mengapa selama HTI masih eksis di Indonesia? Apalagi punya surat izin resmi sebagai organisasi yang legal, kalau memang sejak awal terlarang dan bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 misalnya? Kenapa baru sekarang ditindak?

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Kalau pertanyaan tersebut tidak terjawab, akan muncul sedikitnya dua spekulasi: HTI ini, kalau bukan peliharaan pemerintah -yang kapan saja siap diadu domba-, berarti membahayakan kepentingan pemerintah sehingga harus dihabisi.

Berkaca pada sejarah rezim pemerintahan Indonesia, cara-cara represif acap kali digunakan untuk membabat habis setiap kelompok yang dianggap bersebrangan. Di samping itu, yang agak lucu, dalam kasus HTI yang sekarang lagi viral, pembubarannya tanpa proses peradilan, hanya melalui penyampaian pemberitaan via media massa dan ditulis melalui tulisan sederhana yang viral di media. Sudahkah mereka diberi kesempatan berdialog, membela diri, dan kalrifikasi?

Baca:  Fahmi Salim: HTI Dibubarkan, Kok Syiah Tidak?

Dengan munculnya keputusan pembubaran, maka sangat sulit kalau tidak boleh dikatakan mustahil- untuk tidak mengatakan kasus ini menggunakan standar ganda dan ditunggangi oleh pihak berkepentingan.

Apapun alasannya, benar atau salah, sejatinya yang namanya organisasi bisa saja bubar atau dibubarkan, tapi ideologi akan tetap berkobar. Bisa saja penguasa dengan seperangkat alat kekuatannya menghabisi suatu lembaga, tapi tetap saja, pemikiran tidak akan bisa diberangus, kecuali dengan alternatif pemikiran yang jauh lebih bagus. Kisah tindakan represif Mamun terhadap ulama-ulama yang berseberangan  dengan ideologi Mutazilahnya, apa mampu mengoyak ketegaran Imam Ahman bin Hanbal misalnya (al-Kâmil fi at-Târîkh, 3/180), walau harus merasakan pahitnya cambukan dan jeruji besi? Tidak. Pemikiran Imam Ahmad tidak pernah mati.

Peristiwa pembubaran Partai Masyumi (17/08/1960) melalui Keputusan Presiden No. 200, seakan terjadi lagi pada rezim sekarang. Sejak Dekrit 5 Juli 1959, Presiden Soekarno dengan sokongan penuh pihak militer berusaha kembali ke UUD 1945. Dengan demikian dirinya memiliki wewenang penuh untuk memutuskan sesuatu (Thohir Luth, 1999: 51).

Oleh karenanya, dengan leluasa ia bisa memaksakan kehendak berdasarkan sistem demokrasi terpimpin. Siapa saja yang bersebrangan, pasti akan diganyang. Justru partai yang berkali-kali memberontak seperti PKI malah disayang.

Proses pembubaran semakin mulus karena menemukan santapan empuk. Natsir, Burhan, Syafrudin (yang merupakan tokoh Masyumi), dianggap bersekongkol dengan pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia).

Padahal, menurut Mansur Surya Negara dalam buku Api Sejarah 2 menjelaskan bahwa kedatangan Natsir ke Sumatra Barat adalah berusaha keras untuk mengingatkan Letkol Ahmad Husein bahwa PRRI inkonstitusional. Namun, justru Kepres. 200/1960 tetap lahir (2014: 379).

Baca: Sejarawan: Mosi Integral Natsir Selesaikan Konflik Golongan Federalis-Unitaris

Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif dalam bukunya Islam dan Politik Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) menyoal apakah keputusan pemerintah saat itu bisa dipertanggung jawabkan secara yuridis.

Dari Diktum Musyawarah Nasional III PERSAHI (Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia: 3/12/1966) dapat diketahui bahwa yuridis formal tidak sah dan yuridis materil tidak beralasan dan hanya menjadi korban Orde Lama (1996: 68).

Justru yang kentara, pembubaran ini adalah alibi Soekarno untuk melicinkan sistem Demokrasi Terpimpin (Mahfud Md, 1998: 149).

Prawoto sempat dihasut untuk mengutuk tokoh-tokoh Masyumi (Seperti: Natsir, Burhan dan Syafrudin), agar Masyumi tak dibubarkan. Ia pun tak mau. Konflik akan bertambah luas jika keinginan Soekarno dituruti. Karenanya, ia rela Masyumi dibubarkan (Iin Nur Insaniwati, Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya, 1924-1968, 2002). Namun, seandainya  Prawoto menuruti Soekarno, Syafii Maarif meragukannya karena Soekarno telah menempatkan diri di atas UUD (1996: 68).

Pada akhirnya, terlepas apakah Masyumi benar atau salah, memang partai ini resmi dibubarkan. Walaupun sebulan sebelumnya sudah membubarkan diri sehingga tidak bisa disebut sebagai partai terlarang (M. Zulfikriddin: 2010).

Baca:  Perjuangan Tokoh Masyumi Natsir Hadirkan NKRI

Setelah dibubarkan, justru Natsir menginisiasi berdirinya DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Bila sebelumnya beliau berdakwah lewat politik, maka dengan DDII berpolitik lewat dakwah. Memang berbeda, tetapi tidak meninggalkan subtansi awal. Justru jangkauannya semakin luas. Sepeninggal Natsir pun, ideologinya tetap berkobar hingga sekarang dengan baju atau bentuk yang beraneka ragam.

Itu baru Masyumi. Belum lagi PKI, NII atau selainnya yang sudah ditumpas dan dibubarkan sejak dulu lembaganya. Apakah ada jaminan pemikiran mereka lenyap ditelan zaman ketika lembaga ditumpas? Justru sangat besar kemungkinan mereka bermetamorfosa dengan bentuk-bentuk baru dengan cita rasa sama.

Terakhir saya tegaskan, tulisan ini bukan untuk membela HTI karena saya bukan pengikutnya atau menyudutkan pemerintah, demikian juga sebaliknya.

Belajarlah kepada sejarah, menghadapi pemikiran harus dengan pemikiran; ideologi harus dengan ideologi. Pemberangusan lembaga justru akan melahirkan bermacam-macam lembaga yang bersubtansi sama.

Alangkah indahnya jika masing-masing pihak berendah hati duduk bareng untuk menemukan solusi terbaik, tanpa main bubar membubarkan. Karena perkara ini bukan gerak jalan yang harus diakhiri dengan: BUBAR BARISAN, JALAN! Wallahu alam.*  

Penulis adalah Alumni Al Azhar Mesir, peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hizbut Tahrir IndonesiaHTIHTI Dibubarkanideologikomunismemasyumipancasilapembubaran masyumiPKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Andai Seekor Burung, Aku akan Terbang ke Burma’ [1]
Tulisan selanjutnya ‘Andai Seekor Burung, Aku akan Terbang ke Burma’ [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal

Berita
9 Juli 2026 18:04
Rusia Kirim Kembali Pekerjanya ke Pembangkit Nuklir Bushehr Iran
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
  • Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
  • Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?