Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Membahas Syiah Bukan Berarti Memecah Belah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 September 2018 14:45 2:45 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 September 2018 12:57
Bagikan
Pemeluk Syiah dalam acara Karbala di Iran [ilustrasi].
Bagikan

SERINGKALI ketika dibahas masalah Syi’ah, sebagian kalangan –baik dalam internal maupun eksternal umat Islam—seringkali merasa tabu. Di media di-image-kan sedemikian rupa bahwa membuka kembali lembaran Syi’ah dianggap sebagai petaka. Dalih yang digunakan adalah karena muslim mencakup Syi’ah dan Sunni. Lebih dari itu, membicarakan tema ini justru memecah belah umat Islam menjadi dua bagian.

Dr. Ragib As-Sirjani dalam buku “al-Syī’ah Nidhāl am Dhalāl” (2011: 129) menjawab ketakutan yang berlebih-lebihan ini dengan dua poin:

Pertama, Syi’ah hanya mewakili 11% dari eksistensi umat Islam (sekitar 150 juta di dunia). Maka kata beliau, sungguh zalim jika umat harus mengorbankan aturan-aturan baku demi jumlah yang tak seberapa.

Sementara itu, Syi’ah tak dituntut untuk menerapkan aturan umat Islam baik dalam masalah akidah, akhalak, sejarah maupun politik. Apa yang ditulis Dr. Ragib ada benarnya. Kalau dilihat dari sisi ajaran –terkecuali Syi’ah Zaidiyah yang banyak kemiripan dengan Sunni– banyak sekali ajaran-ajaran dan dasar-dasar yang bertolak belakang. Menjadi tidak adil ketika demi kelompok kecil dalam tubuh umat Islam –yang ajarannya banyak bertentangan—kemudian hal-hal pokok harus dikorbankan atas nama toleransi.

Selain itu, dengan memahami akar masalah mengenai Syi’ah dan sejarahnya, maka akan dengan mudah memecahkan solusinya. Ulama Ushul Fiqhi menyatakan:

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

الحُكْمُ عَلَى الشَّيْئِ فَرْعٌ مِنْ تَصَوُّرِهِ

“Menghukumi (menilai) sesuatu adalah bagian dari memahami sesuatu tersebut.”

Bagaimana mungkin permasalahan tentang Syi’ah bisa dicarikan solusinya, jika membahas akar permasalahannya dianggap tabu.

Baca: Hari-hari Terakhir Dinasti Fatimiyah (1)

Sedangkan alasan kedua yang disampaikan Sejarawan Muslim asal Kairo ini, fitnah dan bahaya Syi’ah terus berlangsung dan senantiasa berkobar. Dampaknya hampir mengena ke beberapa Negara Islam, khususnya Iraq. “Lantas apa yang harus kita lakukan saat melihat darah umat Islam terkucur di sana?” tanya Dr. Raghib membahas kondisi rill di pangan.

Di sisi lain, tulis beliau, bahaya Syi’ah pada era modern tak bisa ditutup-tutupi. Setidaknya ada 10  bahaya yang disebut Dr Raghib secara ringkas.

Pertama, serangan Syi’ah terhadap para sahabat hingga sekarang tidak pernah berhenti. Serangan ini tentu tak mengada-ngada.

Dalam situs sejarah yang diasuh beliau www.islamstory.com misalnya, serangan-serangan mereka terhadap para sahabat terus digencarkan. Apa hal ini dibiarkan begitu saja?

Kedua, merebaknya syi’ahisasi di negara Islam yang disebarkan dengan sangat halus sehingga tanpa sadar masyarakat muslim sedang disyi’ahkan melalui program dan agenda mereka. Dan mereka tidak menyadarainya. Ketiga, pembantaian terhadap ribuan Ahlus Sunnah di Iraq. Keempat, ancaman penguasaan militer, politik dan ekonomi untuk melayani kepentingan Amerika dengan cara ini.

Baca: Apakah Asy-Syiah Mencintai Ahli Bait? 

Kelima, ancaman langsung terhadap negara Islam kawasan selain Irak, seperti: Emirat, Bahrain dan Arab Saudi. “Apa kita harus diam saja melihat kejadian ini?” tanya beliau. Keenam, kedekatan Syi’ah Iran dan Suriah yang berbaya. Suriah sendiri dikuasai oleh kelompok Syi’ah Nushairiyah yang begitu berbahaya bagi eksistensi Ahlus Sunnah. Padahal, mereka jumlahnya tak lebih dari 10 % .

Kasus perang saudara di Suriah yang terjadi hingga saat ini, adalah termasuk dalam bahayanya Syi’ah ketika berkuasa. Maka dari itu, hubungan yang disebut “Bulan Sabit Syi’ah” (Iran, Iraq, Suriah dan Lebanon) merupakan penghalang berbahaya dalam tubuh umat Isla.

Ketujuh, fitnah yang dilancarkan kepada kaum muslim Sunni melalui simbol-simbol Syi’ah terbesar khususnya pemimpin Hizbullah Lebanon, Hasan Nasrullah dan Presiden Iran Ahmaddinejad (pada waktu buku ini ditulis). Efeknya, keberhasilan mereka ini bisa menarik simpati kalangan Sunni yang pada gilirannya akan melupakan perbedaan-perbedaan fundamental.

Betapa hebat capaian dari Daulah Buwaihi dan Shafawiyah misalnya. Namun, ketika kuat, daulah Shafawiyah menikam Daulah Utsmaniyah (yang Sunni) dari belakang.

Baca: Menelusuri Jejak Syiah di Al Azhar

Kedelapan, banyak riwayat-riwayat Syi’ah yang menyusup dalam kitab-kitab sejarah Islam. Maka untuk membaca sejarah, perlu dibersihkan terlebih dahulu dari distorsi-distorsi yang dibuat Syi’ah. Bila tidak, maka kekayaan khazanah sejarah akan lenyap, bahkan hayat generasi terbaik seperti sahabat akan tercoreng bila distorsi dalam sejarah tidak dibersihkan.

Kesembilan, sebagian orang tidak memperhatikan kewajiban yang harus dilakukan terhadap Syi’ah. Menurut Syekh Raghib, apa umat dibiarkan begitu saja mengikuti pemahaman-pemahaman Syi’ah yang menyimpang, tanpa mengingatkan bahaya pemahamannya? Jadi umat Islam memerlukan edukasi dalam masalah ini agar tidak tersesat.

Kesepuluh, siapa yang bisa menyelamatkan muslim Sunni di Iran yang jumlahnya 20 juta berarti mewakili 20 % dari penduduk. Sementara, di pemerintahan tidak ada wakil yang bisa menyampaikan aspirasi mereka. Satu juta kaum muslim di Teheran, untuk mendirikan satu masjid di tengah kota saja selalu menuai kegagalan. Lebih-lebih, siapapun yang menuntut hak akan ditumpas.

Belum lagi kurikulum pendidikan yang diberikan kepada 20 juta muslim Sunni. Pasti sesuai dengan kurikulum yang dicanangkan Syi’ah, yang tentu saja bisa merusak pemahaman akidah orang Sunni.

Itulah beberapa alasan yang disampaikan oleh Dr. Raghib As-Sarjani mengenai perlunya dibahas masalah Syi’ah. Dengan demikian, membahas Syi’ah adalah bukan perkara tabu dan memecah belah umat. Malah, bila dikaji secara mendalam akar pemahaman dan sejarahnya, akan menyumbangkan solusi bagi perdamaian umat Islam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahlus sunnahiranRagib As-Sirjanisunnisyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mahasiswa PSU Aksi Peduli Warga Nongcik, Menolak Operasi Darurat Militer di Pattani
Tulisan selanjutnya Rizal Ramli: Impor Beras Dikelola Kartel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?