Hidayatullah.com—Penduduk kota mayoritas Muslim di China barat daya bentrok dengan polisi pada akhir pekan ketika mereka mencoba menghentikan pembongkaran atap kubah dari masjid berusia berabad-abad. Pembongkaran bagian dari upaya Partai Komunis China (PKC) yang meluas untuk mengontrol agama, lapor laman The Washington.
Lusinan petugas polisi dengan perlengkapan anti huru hara memukul mundur massa saat mereka mendorong ke arah gerbang Masjid Najiaying. Masjid ini merupakan pusat ibadah dan ajaran agama penting bagi etnis Muslim Hui di Provinsi Yunnan, menurut video yang dikirim ke aktivis luar negeri dan diposting ke Twitter.
冲突已起,流血事件恐难免,请各位关注 pic.twitter.com/xbHTR8gb2h
— 马聚 (@majuismail1122) May 27, 2023
Klip selanjutnya menunjukkan bahwa polisi telah mundur dari daerah tersebut sementara para demonstran melakukan aksi duduk di luar gerbang yang berlanjut hingga malam. Lusinan petugas berkamuflase dari polisi bersenjata tiba pada Minggu, menurut video lain.
Insiden itu tampaknya terkait dengan putusan pengadilan dari tahun 2020 yang memutuskan beberapa renovasi masjid terbaru dianggap ilegal, dan memerintahkan pembongkaran.
Pada hari Ahad, polisi Kabupaten Tonghai menyebut insiden itu “sangat berbahaya bagi manajemen sosial yang tertib” dan mendesak siapa (massa) yang terlibat untuk menyerahkan diri kepada penegak hukum sebelum 6 Juni untuk kesempatan mendapatkan hukuman yang lebih ringan.
Dengan sejarah yang mungkin terbentang hingga abad ke-13, tepatnya pada tahun 1370. Selama 600 tahun terakhir, masjid ini telah diperluas beberapa kali, dan diperluas berkali-kali selama bertahun-tahun untuk menambah bangunan, serta empat menara dan atap kubah.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan Partai Komunis terhadap orang saleh telah meningkat tajam. Pemimpin tertinggi negara itu, Xi Jinping, telah menuntut kesetiaan politik mutlak dari komunitas agama dan “Chinaisasi” agama.
Pengawasan terhadap pemuka agama juga diintensifkan. Database nasional guru agama Islam, Protestan, dan Katolik yang disetujui secara resmi diluncurkan bulan ini.
Kampanye tersebut berfokus pada Islam dan Kristen karena ketakutan partai yang mendalam bahwa keyakinan akan menjadi vektor pengaruh asing. Selain membatasi pertukaran dan donasi internasional, pihak berwenang telah merombak bangunan keagamaan yang tampilan luarnya dianggap tidak cukup China.
Xinjiang, wilayah barat laut yang merupakan rumah bagi jutaan Muslim Uighur yang berbahasa Turki, paling terpukul. Di sana, dorongan ‘Chinaisasi” digabungkan dengan program “deradikalisasi” penahanan massal dan pendidikan ulang, yang diputuskan oleh PBB tahun lalu mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Perkiraan jumlah masjid dan tempat suci yang dihancurkan di wilayah tersebut mencapai ribuan, kutip laman berita tersebut.
Tidak seperti di Xinjiang, minoritas Hui yang berbahasa Mandarin pada awalnya menghindari pembatasan yang sama parahnya. Namun akhirnya, tindakan keras menyebar ke komunitas Islam di seluruh barat laut negara itu, termasuk ke Hui di Qinghai.
Terletak di wilayah yang beragam secara etnis dan terpencil di China, Hui dari Yunnan termasuk yang terakhir menghadapi pengawasan. Wilayah ini sering dianggap sebagai contoh tempat yang beragam secara etnis dan agama, di mana penduduknya mahir menavigasi berbagai identitas dan fleksibel secara politik bila diperlukan.
Bahkan peneliti yang didukung pemerintah mengakui bahwa pendekatan yang fleksibel secara historis memungkinkan Hui di Yunnan untuk menghindari ekses terburuk dari Revolusi Kebudayaan, ketika sebagian besar masjid, gereja, dan kuil di China ditutup.
Pada saat itu, Masjid Najiaying menyelenggarakan pembacaan Pemikiran Mao Zedong dan melukis slogan-slogan di dinding agar Hui dapat bertemu dan terus beribadah, tulis Li Hongchun, seorang peneliti di Akademi Ilmu Sosial Yunnan, dalam sebuah artikel tentang sejarah daerah yang diterbitkan di 2010. “Pada saat-saat kritis ketika dihadapkan dengan konflik politik yang dapat berubah menjadi kekerasan, Hui dari Najiaying tetap diam dan secara aktif terlibat dengan pemerintah untuk menghilangkan kesalahpahaman dan berhasil menghindari tragedi,” menunjukkan “kebijaksanaan etnis yang unik,” katanya.