Hidayatullah.com— Otryad Mobilny Osobogo Naznacheniya (Pasukan Polisi Khusus Rusia/OMON) dan pejabat Kementerian Dalam Negeri Rusia (MVD) menggerebek sebuah masjid di kota Elektrostal, Oblast Moskow, saat ibadah tengah berlangsung, menurut laporan NewsMosreg pada Kamis. Operasi itu berujung pada pemeriksaan identitas 575 jamaah, termasuk 209 migran pekerja.
Dalam laporan NewsMosreg, pihak berwenang menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari “penegakan aturan migrasi dan kewajiban pendaftaran militer.” Petugas juga menyebut alasan administratif terkait penggunaan lahan dan izin operasional masjid.
“Kami melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan tidak ada pelanggaran hukum. Semua tindakan dilakukan sesuai prosedur,” kata juru bicara MVD setempat, seperti dikutip NewDosH. Ia menambahkan bahwa “sebagian jamaah tidak memiliki dokumen yang lengkap.”
Dari pemeriksaan tersebut, 16 orang dinyatakan sebagai pendatang “ilegal”, sementara 37 jamaah dibawa secara paksa ke kantor pendaftaran militer (voenkomat). Menurut NewDosH, proses pemindahan ini dilakukan langsung setelah pemeriksaan dokumen di lokasi.
Seorang jamaah yang meminta namanya disamarkan, diwawancara oleh NewDosH, mengaku kaget dengan cara aparat masuk ke ruang ibadah.
“Kami sedang shalat, tiba-tiba mereka masuk dan menyuruh semua orang berdiri. Tidak ada penjelasan yang jelas,” ujarnya. Ia menyebut sebagian jamaah “ketakutan karena tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.”
Media regional NewsMosreg juga melaporkan bahwa masjid tersebut kini ditutup sementara atas alasan pelanggaran administratif. Otoritas setempat menuding adanya “aktivitas keagamaan yang tidak sesuai prosedur” serta “penggunaan lahan yang tidak sesuai tujuan.”
Kritik bermunculan dari aktivis hak asasi dan perwakilan komunitas Muslim di wilayah Moskow.
Seorang anggota Dewan Mufti, dikutip oleh The Moscow Times, menyebut operasi tersebut “tidak proporsional dan berpotensi melanggar kebebasan beragama.”
Ia menyatakan bahwa masjid seharusnya diperlakukan sebagai “ruang ibadah, bukan lokasi operasi militer.”
Penggerebekan seperti ini bukan yang pertama di area Moskow dalam dua tahun terakhir. Sejumlah masjid dan pusat komunitas Muslim telah mengalami pemeriksaan massal, yang sebagian berujung pada penahanan sementara maupun pemanggilan ke kantor militer.
Pemerintah pusat tetap mempertahankan bahwa langkah-langkah ini diperlukan untuk mengendalikan migrasi ilegal dan memastikan kepatuhan hukum, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan mobilisasi militer.
Namun kelompok masyarakat sipil menilai metode penggerebekan mendadak dapat memperburuk ketegangan antara aparat negara dan komunitas minoritas.
Peristiwa Elektrostal kini memicu diskusi lebih luas mengenai batas kewenangan aparat, perlindungan hak beragama, serta perlakuan terhadap migran Muslim di Rusia.*




