Hidayatullah.com– Orang-orang super kaya Dubai satu per satu mulai meninggalkan pusat bisnis itu dengan kendaraan apa saja, merogoh ratusan ribu dolar untuk melarikan diri dari peperangan di kawasan itu yang entah sampai kapan akan berlangsung.
Kota di gurun Uni Emirat Arab itu sejak lama menarik kedatangan orang super kaya dari berbagai belahan dunia, yang senang dengan pajaknya yang rendah, keamanan dan kenyamanan, kemewahan serta pemerintahan yang ramah terhadap pelaku usaha.
Namun, ketika rudal beterbangan di atas kepala mereka, sebagian orang berdompet tebal mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk bisa keluar dari sana, sementara sebagian wilayah udara UEA ditutup.
“Ketika kami melihat api, kami berkata OM, ini saatnya untuk pergi,” kata Evrim, seorang ibu dua anak asal Turki, merujuk pada kebakaran besar yang terjadi setelah pecahan drone jatuh menimpa sebuah hotel mewah dekat rumahnya di Palm Jumeirah, kepulauan buatan yang menjadi salah satu ikon kemegahan Dubai.
Dia, suaminya dan kedua anaknya yang masih belia membayar $200.000 (sekitar 3.383.400.000 rupiah) untuk terbang ke negara tetangga Oman dan kemudian menuju Jenewa, Swiss, guna menghindari perang. Untuk mencapai ibu kota Oman, Muscat, mereka harus menggunakan mobil selama enam jam menembus daerah gurun pasir.
“Kami sangat cemas… terutama karena anak-anak – ketika mereka mendengar suara ledakan itu, mereka ketakutan,” katanya kepada AFP Kamis (5/3/2026), merujuk pada suara ledakan rudal yang dicegat di udara.
Sejak pecah perang hari Sabtu 28 Februari yang ditandai dengan serangan Amerika Serikat dan Israel atas Iran, Uni Emirat Arab menjadi target lebih dari 800 drone dan 200 rudal. Sejauh ini tiga orang dilaporkan kehilangan nyawa.
Sejumlah negara asing, termasuk Jerman dan Inggris, mengirimkan beberapa pesawat ke Oman untuk mengevakuasi warga negara mereka, sementara penerbangan komersial yang beroperasi ke luar UEA jumlahnya berkurang. Bagi kalangan berdompet tebal mereka tidak sungkan mengeluarkan uang demi menyelamatkan diri.
“Permintaan sudah pasti bertambah,” kata Glenn Phillips, manajer humas dan periklanan di Air Charter Service, perusahaan jasa yang mengatur penerbangan dengan pesawat jet pribadi ke seluruh dunia.
Rute Oman termasuk yang paling populer, kata Phillips. Namun, kepadatan di pintu perbatasan dengan UEA memaksa orang harus antre hingga tiga atau empat jam untuk bisa menyeberang ke negara jiran.
Ketersediaan pesawat pribadi yang bisa disewakan bisa jadi akan semakin langka apabila perang berlarut-larut, kata Phillips.
Mike D’Souza, koordinator operasi di Indus Chauffeur yang berbasis di Dubai, mengatakan permintaan sewa mobil pribadi yang bisa dibawa ke luar UAE melonjak di kalangan orang kaya asal negara-negara Barat.*




