Hidayatullah.com– Youtuber asal Amerika Serikat Johnny Somali, yang menyulut kemarahan publik di Korea Selatan dengan aksinya mencium sebuah patung yang merepresentasikan korban perbudakan seks Perang Dunia Kedua, akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan.
Pihak berwenang Seoul menjeratnya dengan dakwaan menganggu ketertiban umum pada November 2024 setelah mengunggah video yang menunjukkan dirinya sedang mencium dan melakukan gerakan lap dance terhadap patung tersebut saat berkunjung ke Korsel. Sejak itu pemuda keturunan Somalia itu dilarang meninggalkan negara itu.
Pemuda berusia 25 tahun bernama asli Ismael Ramsey Khalid itu dikenal kerap membuat konten provokatif, sehingga dirinya diblokir di sejumlah streaming platform.
Hari Rabu (15/4/2026), pengadilan di Korea Selatan menyatakan Khalid bersalah atas sejumlah dakwaan, termasuk menggangu ketertiban umum dan menyebarkan materi sexual deepfakes.
“Terdakwa berulang kali melakukan tindak kejahatan terhadap anggota masyarakat umum guna mendulang keuntungan lewat YouTube dan menyebarkan konten yang bertentangan dengan hukum yang berlaku Korea,” kata pengadilan seperti dilansir BBC dari laporan-laporan media setempat.
Jaksa penuntut sebenarnya meminta hukuman tiga tahun penjara, tetapi majelis hakim memberikan hukuman lebih ringan mengingat tidak ada korban yang mengalami luka parah akibat tindakannya, lapor The Korea Herald.
Hakim juga melarang Khalid dari bekerja dengan organisasi-organisasi yang melayani anak-anak dan difabel setelah dia keluar dari penjara nanti.
Selama Perang Dunia Kedua, diperkirakan 200.000 wanita Asia dipaksa menjadi budak seks bagi serdadu-serdadu Jepang. Banyak di antara mereka adalah orang Korea, sementara lainnya merupakan orang China, Filipina, Indonesia dan Taiwan.
Terdapat beberapa patung di seluruh penjuru Korea Selatan yang menunjukkan sosok wanita sedang duduk di sebuah kursi, yang dipasang oleh para aktivis untuk mengenang para “wanita penghibur” itu. Patung-patung itu di masa lalu menimbulkan ketegangan diplomatik, karena Korea Selatan sampai sekarang menuntut kompensasi dari Jepang untuk para wanita itu.
Khalid, yang memiliki sekitar 5.000 pengikut di YouTube, sudah mengeluarkan permintaan maaf pada November 2024 mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui arti signifikan dari patung tersebut. Namun, banyak pengguna YouTube meragukan kesungguhannya.
Saat kasusnya masih dalam tahap penyelidikan di Korea Selatan, Khalid menantang warga lokal untuk bertarung dengannya. Beberapa video yang diunggah di media sosial menunjukkan dirinya ditonjok dan dikejar-kejar di jalanan.
Sebelumnya dia juga banyak bertingkah di atas transportasi umum, melakukan vandalisme di sebuah toko swalayan, dan menayangkan langsung secara daring aksi-aksi tidak patutnya di publik.
Sebelum itu di tahun 2024, Khalid ditangkap di antara kerumunan unjuk rasa di Tel Aviv, Israel, karena mengeluarkan kata-kata tidak pantas terhadap seorang polwan, tetapi dia kemudian dilepaskan.
Saat melancong ke Jepang pada 2023 dia membuat sejumlah kegaduhan yang mengundang kemarahan warga lokal, termasuk komentarnya tentang pengeboman Hiroshima dan Nagasaki di masa-masa akhir Perang Dunia Kedua. Dia kemudian didenda 200.000 yen ($1.400) setelah membuat keributan di sebuah restoran dengan menyetel musik dengan suara keras.*




