Hidayatullah.com– Para pejabat Iraq melobi Dana Moneter Internasional (IMF) guna mendapatkan bantuan finansial karena negara itu terdampak perang di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel atas Iran.
Dilansir Reuters, sebuah sumber yang dekat dengan IMF hari Kamis (14/5/2026) mengatakan bahwa pembicaraan awal terkait hal itu digelar bulan lalu saat pertemuan musim semi dengan IMF dan World Bank di Washington, dan saat ini pembicaraan masih berlangsung tentang berapa banyak pendanaan yang dibutuhkan Iraq dan bagaimana struktur pinjamannya, kata sumber tersebut.
Belum ada komentar dari IMF atau kedutaan Iraq tentang masalah ini, lapor Reuters.
Perang Timur Tengah pecah pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan sekutunya Israel melancarkan serangan bertubi-tubi atas Iran padahal kala itu sedang dilakukan perundingan antara Washington dan Teheran yang dijembatani oleh Oman.
Serangan itu memicu pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran, sehingga menimbulkan efek domino karena jalur maritim itu dipakai untuk mengirimkan pasokan seperlima kebutuhan minyak global.
Iraq merupakan negara dengan cadangan sumber daya minyak terbesar kelima di dunia, dan perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor minyak.
Menurut website IMF, kesepakatan finansial Iraq dengan IMF terakhir adalah utang siaga senilai $3,8 miliar yang berakhir pada July 2019, yang mana $1,49 miliar di antaranya sudah dimanfaatkan Baghdad.
Iraq memiliki utang kepada IMF $2,39 miliar, termasuk sekitar$891 juta yang diberikan melalui instrumen pembiayaan cepat, menurut situs web IMF.*




