Hidayatullah.com–Setelah melakukan survei lapangan, Tim Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1434H/2013M memutuskan untuk membentuk Satelit atau semacam klinik Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di tiga sektor, yaitu: sektor 1 di Mahbaz Jin, sektor 5 di Jarwal Taisir, dan sektor 9 di Bakhutmah.
Hal ini disampaikan Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Makkah, Subagio, sebagaimana dilaporkan laman Kemenag, Minggu (15/09/2013).
Ketiga sektor itu dipilih karena ketiganya merupakan daerah kantong besar jamaah haji Indonesia. Dengan demikian, kita dapat memberikan perhatian yang lebih cepat dan tepat kepada mereka.
“Ketiga sektor itu yang akan kami siapkan sebagai satelit BPIH. Mohon agar bisa difasilitasi oleh Kasektor setempat, terutama terkait fasilitas lemari es untuk penyimpanan obat-obatan,” kata Subagio.
“Kami membutuhkan minimal ada lemari es karena obat-obat yang memang harus diamankan dalam kulkas, harus disimpan, supaya tidak rusak. Namun, hasil survei kami menemukan sebagian besar sektor sudah mempunyai kulkas untuk mengamankan obat,” tambah Subagio.
Ditambahkan Subagio, sektor 5 akan banyak memberikan kontribusi dalam pelayanan di tempat. “Perhitungannya, ada sekitar 7.000 jamaah dalam satu gedung dan di situ akan ditempatkan sekitar 18 dokter. Kami hanya menambahkan lima personil, di samping personil yang sudah baku yaitu 8 dokter. Nanti juga akan diperkuat lagi oleh dokter-dokter yang ikut di dalam kloter,” tutur Subagio.
Sektor satu tempatnya juga sangat strategis. Begitu masuk pintu, langsung lift sehingga jamaah sakit bisa langsung di bawa ke tempat pelayanan.
“Cukup bagus, bahkan bisa mengcover sekitar 4.000 – 5.000 jamaah, insya Allah cukup memberikan kontribusi yang baik,” ujar Subagio.
Hanya saja, lanjut ia, mobil ambulan tidak bisa masuk ke sektor 1 karena terdapat portal jalan. “Yang bisa masuk hanya APV. Ini yang mungkin mohon agar bisa dipecahkan bersama,” jelas Subagio.
Di sektor sembilan juga sama. Fasilitas yang tersedia memadai, situasinya cukup bagus, daya tampung besar, dan termasuk berada di kawasan kantong karena mencakup sektor tujuh, delapan, dan sembilan. “Sektor 9 akan kami jadikan satelit. Fasilitas yang kita kembangkan, mungkin layanananya akan berbeda dibanding sektor biasa,” tambah Subagio.
Angka Kematian
Subagio menambahkan bahwa pembentukan satelit BPIH juga karena angka kematian di pemondokan pada tahun-tahun sebelumnya terlalu tinggi dibanding angka kematian di BPHI. “Jadi tidak seimbang,” tegas Subagio.
Karena itu, lanjut Subagio, sejak dari pembekalan petugas PPIH, kami sudah bekerjasama agar layanan yang lebih besar bisa didekatkan kepada jamaah. “Bukan berarti kita akan membuat perawatan besar-besaran di sektor, tapi pelayanananya akan ditingkatkan seoptimal mungkin. Dokter-dokter spesialis yang kompeten juga akan kami terjunkan di satelit-satelit,” papar Subagio.
Subagio juga mengingatkan mengenai pencegahan corona virus. Menurutnya, upaya pencegahan ini tetap harus dilakukan secara gencar dari semua lini. “Walaupun di sini belum terjadi, tapi angka kematiannya cukup tinggi. Kasusnya hampir lima puluh persen menyebabkan kematian, walaupun jarang,” jelas Subagio.
Terkait dengan cuaca di Masjidil Haram, Kadaker Makkah Arsyad Hidayat mengatakan bahwa itu sangat tidak kondusif jika dibandingkan dengan cuaca di Indonesia. “Di Indonesia, kisarannya 29 – 36 derajat celcius, sementara di sini kisarannya dari 36 – 44 derajat,” kata Arsyad.
Arsyad meminta kepada seluruh petugas Daker Makkah untuk ikut melakukan pengawasan dan memberikan informasi kepada jamaah agar menjaga kesehatannya, menjaga tubuh supaya tidak dehidrasi, sering minum, mengkonsumsi buah-buahan, makan vitamin, serta istirahat cukup.
“Jamaah juga perlu diberi pengertian agar tidak memaksakan diri untuk beribadah kalau memang tidak mampu. Kontak langsung dengan matahari juga agar dihindari. Ini salah satu cara kita menjaga jamaah haji agar tidak terlalu kelelahan atau dehidrasi,” tutur Arsyad.*