Penjarahan Museum Nasional Iraq beberapa waktu lalu ternyata dilakukan oleh geng kriminal yang terorganisasi secara rapi. Claus Peter Haase, Direktur Museum Islam di Berlin yang juga seorang ahli seni Islam kepada kantor berita di Jerman, DPA, Sabtu (19/4) mengungkapkan bila para penjarah barang-barang bersejarah Iraq adalah para gang internasional yang sengaja menjual barang-barang purbakala tersebut di pasar gelap dunia.
Peter membantah adanya klaim bahwa penjarahan itu dilakukan oleh penduduk miskin kawasan kumuh yang tidak mengetahui nilai artefak yang disimpan di dalam museum tersebut.
”Orang-orang yang melakukan ini sungguh-sungguh mengetahui secara pasti di mana harta yang paling berharga disimpan,” katanya kepada DPA.
”Mereka mencari barang-barang tertentu, memburunya dan mengincarnya secara tepat seolah-olah mereka memiliki daftar belanja dan rencana denah,” kata Haas.
Peter juga menambahkan, orang-orang ini bisa membobol ruangan besi dan peti besi. Ia mengatakan tanda-tanda ”vandalisme” sengaja dirancang agar membuat kesan bahwa pelakunya adalah amatir, namun kenyataannya jelas perampokan.
Pejabat Gedung Putih Mundur
Sementara itu, aksai terhadap adanya penjarahan barang-barang bersejarah ditanggapi serius banyak kalangan pejabat Gedung Pitih.
Tiga pejabat penasihat bidang kebudayaan di Gedung Putih menyatakan mengundurkan diri atas kejadian ini. Tindakan itu dilakukan karena mereka menilai pasukan AS di Iraq sengaja membiarkan terjadinya aksi penjarahan di museum nasional Iraq yang banyak menyimpan berbagai artefak bernilai tinggi.
”Hal itu seharusnya tak terjadi,” ujar Martin Sullivan, ketua Komisi Penasihat Presiden AS untuk Kekayaan Kebudayaan seperti dikutuip BBC, Jumat (18/4). ”Tragedi itu tak bisa dicegah karena bangsa kita tak bertindak,” imbuhnya.
Berbagai patung, naskah-naskah kuno dan benda-benda sejarah Islam lainnya dikabarkan telah hilang ketika terjadi kerusuhan dan penjarahan menyusul runtuhnya pemerintah Presiden Saddam Hussein pekan lalu.
Beberapa benda bersejarah yang dikabarkan lenyap adalah; 80.000 batu tulis berpahat dengan tulisan tertua di dunia, Patung perunggu Raja Akkadia (umurnya 4.500 tahun), Harpa perak dari kota kuno Ur (umurnya 4.000 tahun), Vas kuno Sumeria (5.200 tahun), Patung raja Sumeria Entemena (4.600 tahun), Cawan suci berpahat (4.600 tahun). Belum termasuk ribuan teks dan 170 ribu literatur bersejarah penting yang ikut raib. (ant/DPA/bbc/sp/cha)