Agresor Amerika Serikat (AS) mungkin akan mendapatkan bantu sandungan paling berat di Iraq pasca penjajahan yang dilakukannya. Sejak beberapa minggu selepas pendudukan AS dan sekutunya ke Iraq, warga muslim Syi’ah di negeri 1001 malam itu terus diguncang demontrasi dan protes terhadap AS.
Kemarin, dalam perayaan Karbala, peringatan kematian Imam Hussein, 4 juta warga Syi’ah tumpah ruah di jalan-jalan kota Karbala. Selain mengadakan acara ritual, mereka juga mengutuk AS dan sekutunya.
Pengikut Syi’ah ini membawa sepanduk dengan tulisan yang isinya , “Tidak untuk Amerika, Tidak untuk Israel, Ya kepada Islam”.
“Saddam Hussein jahat. Amerika sama,” kata Khudayer Abbas Musawi, (25), seorang mahasiswa yang ikut dalam rombongan tersebut.
“Amerika datang ke sini bukan untuk membebaskan penduduk Iraq tetapi karena minyak, mereka datang untuk menakluk bukan membebaskan”, ujarnya. “Tentera Amerika sudah menggulingkan Saddam jadi mereka mestilah pulang sekarang,” katanya lagi.
Rabu, (23/4), kemarin, adalah hari berkabung ke-40 dan terakhir atas meninggalnya Imam Hussein, yang sampai hari ini, kira-kira telah berusia 1300 tahun.
Jumlah kaum Syi’ah Iraq mencapai sekitar 60 persen dari jumlah total 24 juta penduduk nya. Sisanya adalah penganut Sunni yang menguasai politik Iraq. Sejak masa Saddam berkuasa, acara-acara yang berhubungan dengan kaum Syi’ah dilarang.
Dalam acara peringatan itu, juru bicara Majlis Tertinggi Revolusi Islam Syi’ah di Iraq, Abu Eslam al-Saqir, mengatakan, rakyat Iraq mencintai Islam bukan boneka Amerika.
“Penduduk menyintai Islam. Tetapi, mereka tidak akan menerima pemerintahan bukan Islam maupun boneka Amerika”, ujarnya.
Ulama Bayaran
AS bukan tidak menyadari ancaman Syi’ah, penduduk mayoritas yang tidak begitu menginginkan kehadirannya. Karena itu, AS kini sedang mendekati beberapa ulama yang bisa disuap untuk kepentingan politiknya AS.
Washington Post,beberapa hari lalu menulis CIA, agen rahasia AS, kini tengah berusaha menjinakkan beberapa ulama Syi’ah.
“Kami tidak akan mengizinkan faham fundamentalis Farsi hidup di sini. Kami akan mencari banyak ulama untuk terlibat dalam jabatan penting,” kutipnya dengan salah seorang pejabat penting Gedung Putih.
Menurut laporan itu, pemerintah AS tidak akan memberikan keleluasaan pengikut Syi’ah di Iraq. Termasuk tidak akan mewujudkan sebuah pemerintahan Islam yang anti-Amerika di negara yang baru dijajahnya itu. (afp/wp/ant/cha)