Amerika Serikat rupanya tidak menduga bila kekuatan kaum Syi’ah Iraq sangat kuat. AS bahkan sangat ketakutan bila kaum Syi’ah bergabung pada negeri kaum Mullah, Iran. Karena itu, Washington telah buru-buru memperingatkan agar Teheran tidak mencampuri urusan politik Iraq.
‘Kami menjelaskan kepada Iran bahwa kami akan menentang segala campur tangan pihak luar dalam peralihan pemerintah demokrasi di Iraq,” kata juru bicara Gedung Putih, Ari Fleischer.
“Penyusupan agen Iran kepada penduduk Syiah jelas termasuk dalam kategori ini,” tegasnya.
Fleischer mengatakan bila utusan AS telah berangkat ke Iran, sebab Washington selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Teheran.
AS menuduh ada agen Iran yang telah dilatih secara khusu yang saat ini telah menyeberang masuk Iraq bagian Selatan sejak jatuhnya Saddam Hussein. Mereka, tuduh Gedung Putih, sedang berusaha merancang kepentingan Iran di Iraq.
Karena itu, AS mengaku telah mengadakan penyisiran terhadap orang-orang Iran yang dicurigai akan menyusup ke Iraq di perbatasan yang berdekatan dengan Iran.
Kami berencana menjalankan pemeriksaan di sepanjang perbatasan wilayah Iraq dan Iran,” kata Steve Greco, Juru Bicara Batalion Keempat AS.
Sementara itu, Kamis, kemarin, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld menyatakan AS tidak ingin negara lain mempengaruhi rakyat Iraq. Menurutnya AS menginginkan rakyat Iraq memilih sendiri masadepan politiknya tanpa diperngaruhi negara lain, termasuk negara tetangganya Iran.
Berdasarkan statistik, 60 persen jumlah penduduk Iraq –yang berjumlah tidak kurang dari 24 juta—adalah penganut Syi’ah. Sisanya adalah kaum Sunni, dan non Islam. Antara kaum Syi’ah Iraq selama ini memiliki hubungan historis yang cukup kuat dengan tetangganya Iran. Negara dengan penganut kaum Syi’ah terbesar di dunia. (ap/afp/cha)