Presiden Amerika Syarikat (AS), George W. Bush dan Presiden Filipina, Gloria Macapagal Arroyo menyepakati mengerahkan tentara AS untuk membantu memerangi militan Islam di Filipina Selatan.
Kesepakatan ini disampaikan Bush di beberapa media massa AS semalam yang mengatakan bahwa AS menyebut Filipina sebagai “sekutu utama bukan NATO.”
Langkah itu berarti memberikan kesempatan luas Filipina untuk menerima lebih banyak bantuan senjata dari AS dan sebanyak mungkin peluang kerjasama pertahanan.
Menurut Bush, dirinya akan melakukan kunjungan ke Filipina dan beberapa negara Asia tahun ini.
Status sekutu utama itu meletakkan Filipina setaraf dengan negara-negara seperti Israel, Mesir dan Australia dari segi hubungan pertahanan dengan AS.
Dalam kesempatan itu, Bush juga mengatakan, kedua negara itu sepakat untuk mengirim sejumlah pasukan AS bagi membantu operasi memerangi kumpulan Abu Sayyaf di Filipina Selatan.
AS berencana mengirim 1750 pasukannya guna membantu tentara Manila. Pihak Gedung Putih mengumumkan pembekalan 20 helikopter kepada pasukan Filipina dan bantuan keuangan senilai 65 juta USD diperuntukkan melatih dan menyediakan peralatan bagi memerangi terorisme.
Selain itu, Washington juga menjanjikan bantuan ekonomi termasuk konsesi tarif di samping usaha untuk mengurangkan biaya bagi pekerja Filipina di AS yang ingin mengirim uang ke tanah air.
AS juga menjanjikan bantuan 30 juta USD untuk pulau Mindanao dan dukuingan terhadap perundingan damai dengan umat Islam di Moro (MILF).
Setelah bertemu Bush, Arroyo juga meminta dukungan negara-negara Asia untuk terus memerangi terorisme
Seperti halnya Indonesia, Filipina adalah salah satu negara Asia yang telah tunduk pada kebijakan AS. Dua negara ini telah banyak mendapatkan sumbangan keuangan dengan syarat menekan kelompok-kelompok yang dituduhnya sebagai golongan teroris walau harus berhadapan dengan rakyatnya sendiri. (rtr/cha)