Hidayatullah.com– Situasi di Iraq ternyata semakin kacau saja. Sekurang-kurangnya 10 rakyat Iraq meninggal dunia dan 15 lagi cedera dalam tiga ledakan juga yang turut memusnahkan sebuah masjid besar, yang diduda dilakukan tentera AS.
Penduduk yakin ledakan yang terjadi di Masjid al-Hassan di al- Askari itu disebabkan serangan peluru kendali atau bom milik pasukan AS. Sebuah laporan menjelaskan ledakan terjadi sesaat setelah pesawat tentera AS melancarkan beberapa peluru kenadli ke arah masjid itu.
Ledakan besar itu menyebabkan kaki imam masjid al-Hasan, Sheikh Latih, terpaksa harus diamputasi. Seorang saksi mengatakan, dia mendengar deru pesawat di udara dan disusuli bunyi ledakan susai shalat Isya’ kemarin.
Pasukan AS di tempat kejadian menyangkal dakwaan masjid itu diledakkan pasukannya. AS menuduh ledakan itu terjadi karena bahan ledakan yang sejak awal telah ditanam di tempat itu.
Menurut saksi mata, ledakan yang terjadi sebelum pukul 11 malam kemarin memebuat bangunan kecil di halaman Masjid al-Hassan runtuh.
Beberapa jam seusai kejadian itu, puluhan orang mengelilingi runtuhan masjid itu sambil melaungkan slogan anti-Amerika.
“Inilah bukti serpihan peluru kendali,” kata Aqeel Ibrahim Ali, 26, sambil berdiri di atas dan menunjukkan kotak berisi serpihan besi. “Sebuah pesawat melepaskan peluru kendali,” katanya.
Sersan Thomas McMurtry, anggota 364 Operasi Taktik Psikologi menolak dan mengatakan tak ada bukti ledakan itu akibat serangan AS.
“Mereka yang melakukannya sendiri. Bukti fisik tidak dapat mendukung dan menganggap sebagai serangan peluru kendali,” katanya.
AS Diserang
Selain itu, dikabarkan pula beberapa orang tak dikenal menyerang ke arah pasukan AS yang mengakibatkan empat pasukan AS meninggal dunia.
Dalam insiden yang terjadi di dekat Universitas Al-Mustanshiriyah itu, sebuah kendaraan lapis baja yang dikendarai sejumlah tentara AS tiba-tiba diserang oleh lemparan bom yang membuat kendaraan tersebut terbakar. Para saksi mata menyatakan bahwa tentara AS yang sedang berada di sekitar tempat kejadian langsung mengeluarkan empat tentara yang berada dalam mobil yang terbakar tersebut. Dilaporkan bahwa kondisi keempat tentara itu sangat mengkhawatirkan.
Empat orang pasukan AS menemui ajalnya, dan dua orang lainnya mengalami luka parah dalam serangan senjata RPG pada mobil lapis baja milik tentara Amerika di Yusufiyah, 20 km sisi selatan Baghdad. Seorang fotografer AFP yang berada di lokasi menyebutkan bahwa serangan itu mengakibatkan sebuah kendaraan pengangkut lapis baja terbakar dan sebuah kendaraan lainnya terbalik di tepi jalan.
Menurut Al Jazeerah, sekelompok orang bersenjata yang tak dikenal menembakkan senjatanya ke arah mobil tentara AS. Mobil yang ditembak oleh senjata RPG itu lantas terbakal dan terjungkal hingga menewaskan 4 orang yang mengendarainya
Para saksi mata Iraq pada BBC mengemukakan kegembiraan mereka atas serangan ke sasaran AS. “Mereka menuduh Amerika menghina masyarakat Iraq dengan melakukan serangkaian penangkapan dan penahanan yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Memang ada perasaan marah diantara warga Ira,” ujarnya dikutip BBC.
Mohammad Owdeh, seorang penduduk Baghdad, mengatakan kepada kantor berita Reuters: “Ledakan ini adalah pesan kepada Amerika karena mereka tidak berbuat apa-apa bagi warga Iraq. Akan ada lagi ledakan lain di sini.”
Fallujah, 55 kilometer di barat Baghdad, menjadi pusat kegiatan anti-Amerika dan lokasi yang selama ini banyak dianggap berkeliaran penyerang tak dikenal untuk memburu pasukan AS. Fallujah, yang penduduknya mendukung kuat Saddam Hussein, sebelumnya menjadi ajang konfrontasi antara tentara Amerika dan para pejuang anti koalisi.
April lalu, 20 warga Iraq yang berunjukrasa anti-AS meninggal ditembak pasukan penjajah itu.
Kejadian terbaru ini kembali meningkatkan ketegangan di negara itu yang sejak semula telah menolak kehadiran pasukan penjajah AS. Beberapa hari lalu para penduduk di kota Baghdad melakukan serangkaian protes pada pasukan Inggris yang dianggapnya terlalu pongah hingga menyebabkan kematian di kedua belah pihak.
Semenjak Iraq diinvasi oleh AS dan Inggris, kondisi negara Iraq tidak lagi menjadi tenang. Gelombang protes dan perlawan tersembunyi terhadap dua pasukan penjajah itu terus terjadi hingga hari ini.(Afp/ap/rtr/bbc/