Hidayatullah.com—Pemerintah Kerajaan Inggris menghabiskan uang £569 juta untuk pembelian 20.900 ventilator untuk menjaga agar pasien Covid-19 tetap hidup, tetapi ternyata hanya sebagian kecil saja yang terpakai.
Dari puluhan ribu ventilator yang sudah dibeli itu semuanya masih disimpan di gudang Kementerian Pertahanan, hanya sekitar 2.150 saja yang sudah diambil untuk dipakai.
Hal itu terungkap dalam laporan National Audit Office (NAO) yang memeriksa biaya-biaya yang dikeluarkan kementerian untuk belanja ventilator pada bulan Maret dan apa yang telah dicapai oleh penggunaan anggaran tersebut.
Pengawas anggaran pemerintah Inggris itu mendapati bahwa Department of Health and Social Care (DHSC) serta Cabinet Office membayar jauh lebih tinggi dibanding harga normal untuk alat-alat tersebut, tetapi diberikan wewenang untuk melakukan hal tersebut mengingat kondisi darurat di masa pandemi untuk menyelamatkan nyawa warganya.
“Sejauh ini, sebagian besar ventilator ini belum diperlukan,” bunyi laporan NAO yang dirilis hari Rabu (30/9/2020) seperti dilansir The Guardian.
DHSC berusaha memenuhi kebutuhan ventilator dengan mengimpornya dari China. Namun, karena barang itu sangat dicari dan dibutuhkan oleh banyak negara maka harus dibayar dimuka dan tanpa ada jaminan barang yang dikirimkan berkualitas tinggi.
Dalam satu kasus, Inggris merogoh kocek £2,2 juta untuk transport ventilator yang pada akhirnya tidak digunakan sebab dokter mengatakan alat itu tidak cocok dipakai pasien yang mendapatkan perawatan intensif.
Meskipun kedua departemen itu berusaha secepat mungkin mengadakan alat yang dibutuhkan sejak pertengahan Maret, mereka hanya berhasil mendatangkan 1.800 ventilator tambahan di puncak pandemi pada pertengahan April.
Dan keduanya gagal memenuhi target pemerintah untuk menambah cadangan ventilator NHS (otoritas kesehatan publik Inggris) dari yang hanya 7.400 di awal krisis menjadi 18.000 pada akhir bulan April dan 30.000 pada akhir Agustus.
Meskipun demikian, tidak satu pun pasien Covid-19 yang membutuhkan ventilator terlewatkan, alias semua kebutuhan pasien tercukupi.
Menurut NAO, masih banyaknya ventilator yang tidak terpakai disebabkan pasien Covid-19 yang membutuhkan alat itu jumlahnya jauh lebih rendah dibanding skenario terburuk yang diprediksi pihak berwenang.
Pada 14 April, hari di mana jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di Inggris mencapai puncaknya, NHS di England memiliki 6.818 tempat tidur dilengkapi ventilator. Namun, hanya 2.849 saja yang ditempati pasien Covid, sedangkan 1.031 dipakai pasien berpenyakit lain dan sisanya 2.938 kosong tak ada yang menempati.
Total DHSC menghabiskan dana £292 juta, termasuk £222 juta (di luar pajak) untuk pembelian 11.000 ventilator dan £45 juta untuk pembelian alat terapi oksigen lainnya. Disebabkan kompetisi global untuk mendapatkan ventilator, Inggris terpaksa membayar £30.100 untuk satu ventilator atau jauh lebih tinggi dari harga normal £20.000.
Cabinet Office menghabiskan dana £277 juta. Namun, £113 juta dipakai untuk biaya desain, komponen dan kapasitas pabrik ventilator yang tidak jadi dibelinya, termasuk £11 juta untuk pesanan 15.000 alat Penlon tambahan yang kemudian dibatalkan. Kantor itu membayar rata-rata £18.300 untuk setiap alat yang diperolehnya melalui “tantangan ventilator” kepada industri Inggris untuk merancang dan membuat mesin ventilator di dalam negeri.*