Hidayatullah.com–Acara File On 4 BBC mendapatkan informasi bahwa dari sekitar 20 miliar dolar yang dihasilkan dari pendapatan minyak selama masa pemerintahan yang dikendalikan Amerika Serikat (AS), penggunaan uang sekitar 8,8 miliar dolar tidak jelas.
Tim audit pemerintah mengecam Otorita Sementara Koalisi, CPA, karena lalai mengelola uang tersebut secara seksama.
Dalam salah satu kasus, auditor mengatakan, kunci brankas yang menyimpan jutaan dolar disimpan dalam sebuah ransel terbuka di sebuah kantor.
Dana sebesar 8,8 miliar dolar yang hilang itu mencapai lebih dari 40 persen dari pendapatan minyak Iraq.
“Kendali internal tidak memadai untuk bisa menjamin uang itu dibelanjakan untuk kepentingan warga Iraq, sebagaimana diamanatkan resolusi Dewan Keamanan PBB,” kata kepala staf audit, Ginger Cruz.
Minta suap
“Kita katakan, karena CPA berkuasa, dan memang bertangggungjawab sebagai penjaga uang tersebut, diharapkan ada pengawasan yang lebih baik terhadap dana tersebut,” kata Cruz.
Bahkan, meski terjadi kekacauan pasca perang, auditor tetap berkeyakinan pengelolaan uang itu seharusnya jauh lebih ketat.
Laporan auditor tahun sebelumnya mengungkapkan bukti kecerobohan besar-besarn dengan dana besar tersebut.
Dalam salah satu kasus, dana 1,4 miliar dolar, yang diperkirakan berbobot 14 ton, dialihkan ke sebuah bank dengan helikopter, namun tidak selembar kuitansi setor pun diterima. Ini [pembebasan Iraq] merupakan saat kunci, dan ini peluang besar hilang akibat cara penanganan
Sebuah perusahaan Amerika dituduh telah menggelembungkan keuntungannya secara besar-besar dengan membentuk perusahaan fiktif dan mengirim faktur palsu, yang dibayar oleh koalisi.
Perusahaan lain dituduh menuntut pembayar komisi yang tidak jelas, dan kemudian dibayar dengan dana milik Iraq.
Sejumlah pejabat Koalisi dilaporkan secara terang-terangan menuntut suap tunai hingga 300 ribu dolar.
Seperti dikutip BBC, banyak warga Iraq marah dengan cara pasukan koalisi menangani dana mereka, khususnya uang yang diperoleh dari minyak, dan terlebih-lebih jumlah uang yang sangat besar akhirnya jatuh ke tangan pengusaha asing.
Claude Hankes-Drielsma, mantan penasihat Dewan Pemerintah Iraq, yang bekerjasama dengan pemerintah koalisi mengatakan, kurangnya pengendalian dana juga merupakan pukulan bagi AS.
“Ini sangat disesalkan, mengingat pembebasan Iraq merupakan prestasi besar. Ini juga diakui oleh warga Iraq, namun cara penanganan perkembangan setelah itu merupakan petaka,” tandanya.
Mantan kepala koalisi, Duta Besar Paul Bremer, mengatakan, auditor tidak memhami konteks operasi Otorita.
Standard akuntansi Barat tidak bisa diterapkan di tengah peperangan, kata Bremer. Jadi kemana larinya uang-uang minyak itu?. (bbc/cha)